SABTU, 15 JANUARI 2011 | 02:22 WITA | 154102 Hits
Tentang Dampak Anomali Cuaca
MAKASSAR -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) terkaget-kaget mendengarkan laporan Wakil Gubernur Sulsel, Agus
Arifin Nu'mang. Kepala negara terlihat tidak percaya bahwa Sulsel tidak
terlalu terpengaruh dengan anomali cuaca yang melanda dunia secara
global saat ini.
Kemarin, Presiden memang menggelar teleconference dengan tiga kepala daerah saat peresmian Gerakan Nasional Penanganan Dampak Anomali Cuaca terhadap Pertanian yang dipusatkan di Sidoarjo Jawa Timur. Ketiga daerah dimaksud adalah Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Kalimantan Timur.
"Syukur kalau Sulsel justru berdampak positif. Memang ada hikmah di balik ini, tapi harus juga menyiapkan langkah antisipasi," kata SBY dengan nada suara dan raut muka yang menunjukkan ketidakyakinannya.
Presiden mengungkapkan, pemerintah daerah harus serius dan sungguh-sungguh mengantisipasi cuaca ekstrem dengan langkah tepat.
"Sekarang jumlah manusia di bumi ini terus meningkat, sementara bumi tidak bertambah luas. Kalau dunia tidak serius memajukan pertanian, maka anak cucu kita akan mengalami krisis pangan di masa datang. Karena itu kita harus meningkatkan produksi pangan," katanya.
Presiden pun meminta gubernur dan bupati di daerah tidak mengotak-kotakkan rakyat kecil berdasar warna politik. Kata SBY, warna boleh berbeda tapi saat mengurus rakyat harus sama-sama.
"Jangan hanya kata-kata atau retorika. Untuk mengantisipasi anomali cuaca ini saatnya kita serius dan fokus," ajak kepala negara.
Dalam laporannya, Wagub Agus Arifin Nu’mang yang mewakili Gubernur Syahrul Yasin Limpo yang belum tiba di Makassar dari lawatan luar negeri, menyatakan bahwa Sulsel tidak terlaklu terpengaruh dengan cuaca buruk yang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia.
Kepada Kepala Negara, mantan sekretaris DPD I Partai Golkar Sulsel ini mengutarakan bahwa secara umum, kondisi Sulsel memang relatif unik. Bagaimana tidak, katanya, di saat daerah lain amat terganggu dengan anomali cuaca ini, Sulsel justru bisa mengambil keuntungan.
"Dengan anomali cuaca ini, banyak lahan pertanian di Sulsel yang tadinya tidak terurus dan menganggur, dapat digarap dan dimaksimalkan oleh petani kita. Luas areal persawahan yang umumnya masih berupa sawah tadah hujan, meningkat drastis," kata Agus.
Wagub mengakui, banjir yang melanda tujuh kabupaten di Sulsel sejak awal pekan ini, memang membawa pengaruh. Tapi, dampaknya pada pertanian tanaman pangan masih di bawah rata-rata lima tahun lalu. Yang benar-benar merasakan dampaknya, kata dia, adalah sektor tambak.
"Justru anomali cuaca ini mendatangkan keuntungan bagi Sulsel. Areal persawahan di daerah selatan malah bertambah luas menjadi seratus ribu hektare lebih," ungkap Agus saat dikonfirmasi ulang malam tadi.
Selain itu, kata dia, stok beras Sulsel cukup hingga periode panen berikutnya, Juni 2011 mendatang. "Itu karena sampai Desember 2010 lalu, Sulsel surplus beras hingga 1,7 juta ton," ucap Agus.
Menurut Agus, sejumlah lahan pertanian di Takalar, Jeneponto, Bulukumba dan Sinjai, kini bisa digarap. Padahal, sebut wagub, lahan-lahan tersebut sebelumnya menganggur alias tidak tergarap.
"Memang di daerah utara Maros, Pangkep dan seterusnya hingga Wajo, terancam banjir. Tapi, musim panen 2011 kan nanti Juni. Artinya, selama dalam masa anomali cuaca, petani hanya membutuhkan teknologi penggilingan dan pengeringan," kata Agus.
Dampak Banjir
Data yang dilansir Pemprov Sulsel kemarin, tiga daerah utama tambak di Sulsel, yaitu Maros, Pangkep dan Barru, merugi hingga Rp43,2 miliar. Itu hasil kalkulasi dari terendamnya 200 hektare tambak di ketiga daerah tersebut. Tapi, kerugian tersebut siap diganti oleh pemerintah pusat melalui program pemberian nener dan bibit ikan.
"Tadi Pak Fadel Muhammad (Menteri Kelautan dan Perikanan, red) meng-sms saya agar segera dibuatkan laporan terkait kerugian petambak. Katanya, pemerintah pusat akan mengganti kerugian petambak kita dalam bentuk program pemberian nener dan bibit ikan," ungkap Agus.
Sementara itu, mengantisipasi cuaca ekstrem, Kepala Satuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Mappagio mengatakan pihaknya kini sedang menyiagakan BPPD kabupaten. Daerah yang masuk dalam kategori rawan seperti Pangkep bahkan sudah dikirimi logistik.
"Ditakutkan anomali cuaca ini berdampak pada ketahanan pangan Sulsel. Makanya, kita pun menurunkan tim untuk membantu pemerintah daerah menghitung angka kerugian. Bantuannya berupa informasi," jelas Mappagio. (aci)
Kemarin, Presiden memang menggelar teleconference dengan tiga kepala daerah saat peresmian Gerakan Nasional Penanganan Dampak Anomali Cuaca terhadap Pertanian yang dipusatkan di Sidoarjo Jawa Timur. Ketiga daerah dimaksud adalah Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Kalimantan Timur.
"Syukur kalau Sulsel justru berdampak positif. Memang ada hikmah di balik ini, tapi harus juga menyiapkan langkah antisipasi," kata SBY dengan nada suara dan raut muka yang menunjukkan ketidakyakinannya.
Presiden mengungkapkan, pemerintah daerah harus serius dan sungguh-sungguh mengantisipasi cuaca ekstrem dengan langkah tepat.
"Sekarang jumlah manusia di bumi ini terus meningkat, sementara bumi tidak bertambah luas. Kalau dunia tidak serius memajukan pertanian, maka anak cucu kita akan mengalami krisis pangan di masa datang. Karena itu kita harus meningkatkan produksi pangan," katanya.
Presiden pun meminta gubernur dan bupati di daerah tidak mengotak-kotakkan rakyat kecil berdasar warna politik. Kata SBY, warna boleh berbeda tapi saat mengurus rakyat harus sama-sama.
"Jangan hanya kata-kata atau retorika. Untuk mengantisipasi anomali cuaca ini saatnya kita serius dan fokus," ajak kepala negara.
Dalam laporannya, Wagub Agus Arifin Nu’mang yang mewakili Gubernur Syahrul Yasin Limpo yang belum tiba di Makassar dari lawatan luar negeri, menyatakan bahwa Sulsel tidak terlaklu terpengaruh dengan cuaca buruk yang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia.
Kepada Kepala Negara, mantan sekretaris DPD I Partai Golkar Sulsel ini mengutarakan bahwa secara umum, kondisi Sulsel memang relatif unik. Bagaimana tidak, katanya, di saat daerah lain amat terganggu dengan anomali cuaca ini, Sulsel justru bisa mengambil keuntungan.
"Dengan anomali cuaca ini, banyak lahan pertanian di Sulsel yang tadinya tidak terurus dan menganggur, dapat digarap dan dimaksimalkan oleh petani kita. Luas areal persawahan yang umumnya masih berupa sawah tadah hujan, meningkat drastis," kata Agus.
Wagub mengakui, banjir yang melanda tujuh kabupaten di Sulsel sejak awal pekan ini, memang membawa pengaruh. Tapi, dampaknya pada pertanian tanaman pangan masih di bawah rata-rata lima tahun lalu. Yang benar-benar merasakan dampaknya, kata dia, adalah sektor tambak.
"Justru anomali cuaca ini mendatangkan keuntungan bagi Sulsel. Areal persawahan di daerah selatan malah bertambah luas menjadi seratus ribu hektare lebih," ungkap Agus saat dikonfirmasi ulang malam tadi.
Selain itu, kata dia, stok beras Sulsel cukup hingga periode panen berikutnya, Juni 2011 mendatang. "Itu karena sampai Desember 2010 lalu, Sulsel surplus beras hingga 1,7 juta ton," ucap Agus.
Menurut Agus, sejumlah lahan pertanian di Takalar, Jeneponto, Bulukumba dan Sinjai, kini bisa digarap. Padahal, sebut wagub, lahan-lahan tersebut sebelumnya menganggur alias tidak tergarap.
"Memang di daerah utara Maros, Pangkep dan seterusnya hingga Wajo, terancam banjir. Tapi, musim panen 2011 kan nanti Juni. Artinya, selama dalam masa anomali cuaca, petani hanya membutuhkan teknologi penggilingan dan pengeringan," kata Agus.
Dampak Banjir
Data yang dilansir Pemprov Sulsel kemarin, tiga daerah utama tambak di Sulsel, yaitu Maros, Pangkep dan Barru, merugi hingga Rp43,2 miliar. Itu hasil kalkulasi dari terendamnya 200 hektare tambak di ketiga daerah tersebut. Tapi, kerugian tersebut siap diganti oleh pemerintah pusat melalui program pemberian nener dan bibit ikan.
"Tadi Pak Fadel Muhammad (Menteri Kelautan dan Perikanan, red) meng-sms saya agar segera dibuatkan laporan terkait kerugian petambak. Katanya, pemerintah pusat akan mengganti kerugian petambak kita dalam bentuk program pemberian nener dan bibit ikan," ungkap Agus.
Sementara itu, mengantisipasi cuaca ekstrem, Kepala Satuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Mappagio mengatakan pihaknya kini sedang menyiagakan BPPD kabupaten. Daerah yang masuk dalam kategori rawan seperti Pangkep bahkan sudah dikirimi logistik.
"Ditakutkan anomali cuaca ini berdampak pada ketahanan pangan Sulsel. Makanya, kita pun menurunkan tim untuk membantu pemerintah daerah menghitung angka kerugian. Bantuannya berupa informasi," jelas Mappagio. (aci)
Sumber: http://metronews.fajar.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar