| Wednesday, 07 September 2011 | |
|
MAKASSAR – CV Windu Mandiri membudidayakan
rajungan (portunus pelagicus) atau kepiting laut di Desa Aeng Batu-
Batu, Kecamatan Galesong Utara,Kabupaten Takalar.
Untuk pengembangbiakan ini, CV
Windu Mandiri menggandeng Universitas Hasanuddin (Unhas) dan didukung
Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI.Budi daya rajungan ini
dilakukan di backyard (hatchery skala rumah tangga) bekas udang.
Yushinta Fujaya, salah seorang guru besar Unhas, yang terlibat dalam
budidaya ini menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya
mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai penyedia daging rajungan dunia.
Pasalnya,
rajungan adalah salah satu komoditas ekspor penting.Indonesia pernah
berkontribusi 60% penyedia daging rajungan di dunia.Akibat eksploitasi
yang berlebihan, populasi rajungan di laut Indonesia menurun drastis.
Akibatnya, nelayan yang menggantungkan hidupnya pada industri rajungan
mulai kehilangan pekerjaan.Pabrik pengolah daging rajungan satu per satu
gulung tikar.
“Tentu saja hal ini sangat
memengaruhi ekspor rajungan,”ungkapnya. Yushinta yang dalam 10 tahun
terakhir berkecimpung dalam dunia riset kepiting, mengemukakan bahwa
restocking larva rajungan ke laut dan upaya budi daya rajungan di tambak
adalah kegiatan yang sangat penting agar kejayaan industri rajungan
dapat dikembalikan. Sementara itu, anggota tim riset Dody Darmawan
mengemukakan bahwa dari satu ekor induk berukuran 100 gram, dapat
dipanen bayi rajungan berumur 10 hari (C-10) sebanyak 15.000 atau SR
(survival rate) 10%.
Waktu yang diperlukan memproduksi bayi rajungan tersebut cukup singkat, hanya sekitar 20–25 hari. andi amriani
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com
|
Total Tayangan Halaman
Tampilkan postingan dengan label Kelautan/Perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelautan/Perikanan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 September 2011
Sulsel Sukses Budidayakan Rajungan
Selasa, 26 Juli 2011
Industri Perikanan Singapura Minta Pasokan dari Sulsel
Selasa, 26 Juli 2011 20:53 WITA
Makassar (ANTARA News) - Dua industri pengolahan perikanan berasal dari
Singapura meminta Sulawesi Selatan lebih banyak mengirim pasokan ikan
terutama jenis tuna sebagai bahan baku produk mereka.Manager Fish International Sourcing House, Jansen Chua, di Makassar, Selasa, mengatakan, selama tiga tahun terakhir pihaknya telah mengimpor bahan baku berasal dari Sulsel.
"Namun belum cukup memenuhi kebutuhan bahan baku," katanya.
Padahal, katanya, impor bahan baku ikan itu tidak hanya dilakukan Sulsel tapi juga Sulawesi Utara, Jawa Timur, dan Jakarta.
Tetapi, katanya, hal itu tetap belum mencukupi kebutuhan bahan baku industri.
Ia menjelaskan, bahan baku ikan berasal dari Indonesia tersebut diolah untuk kemudian diekspor ke China dan Thailand.
Perusahaan industri pengolahan ikan lainnya, Chun Cheng Fishery Enterprise, juga meminta penambahan pasokan bahan baku berasal dari Sulsel.
Presiden Chun Cheng Fishery Enterprise, Tan Guan Ngo, mengatakan, setiap tahun kebutuhan ikan tuna untuk industri di Singapura mencapai 10 ribu ton.
Dari total kebutuhan tersebut, katanya, baru 1.000 ton yang dapat terpenuhi hingga saat ini.
Ia mengemukakan, rute penerbangan langsung Makassar-Singapura memperbesar peluang Sulsel menjadi pemasok utama ikan tuna.
Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu'mang, yang menerima pimpinan dua perusahaan tersebut memaparkan bahwa Sulsel dengan sejumlah produksi komoditasnya yang melimpah saat ini membutuhkan industri pengolahan.
"Minimal industri pengolahan setengah jadi. Memang beberapa tahun sebelumnya yang jadi persoalan adalah listrik. Tapi ke depan kita punya cadangan listrik hingga 300 megawatt untuk mendukung industri," katanya.
Khusus untuk perikanan, katanya, hingga saat ini Pemprov Sulsel sedang mencari investor swasta untuk melanjutkan pembangunan Pelabuhan Perikanan Untia di Makassar.
"Kami telah diberikan ruang untuk mencari pihak swasta. Kami membuka peluang kerja sama dengan investor Singapura untuk bekerja sama," katanya.
Jika pelabuhan di Selat Makassar tersebut telah berfungsi optimal, katanya, pengiriman hasil laut ke Singapura dapat dilakukan setiap hari karena rute penerbangan langsung Makassar-Singapura telah dibuka.
"Dalam waktu dekat akan dibuka juga rute penerbangan khusus kargo dari Makassar ke Hongkong," katanya.
Sekretaris Dinas Perikanan Sulsel, Yohannes Tanggo, mengatakan, produksi perikanan Sulsel pada 2011 ditargetkan mencapai 311 ribu ton, sedangkan pada 2012 ditargetkan 319 ribu ton dan pada 2013 sebanyak 327 ribu ton. (T.KR-RY/M029)
Sumber : http://antara-sulawesiselatan.com
Senin, 04 Juli 2011
Semangati Komunitas Pengolahan Ikan Gabus
Tribun Timur - Senin, 4 Juli 2011 23:04 WITA
Usai Membuka Musyawarah Daerah VII Pemuda Panca Marga (PPM) Provinsi
Sulsel di Ruang Pola Kantor Bupati Wajo, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin
Limpo bersama Wakil Gubernur Agus Arifin Nu`mang dan Bupati Wajo
Burhanuddin Unru beserta muspida ke Kecamatan Tempe dalam rangka
pengukuhan Industri Pengolahan Ikan Gabus dan pengolahan Rumput Laut
Gubernur menyatakan hasil olahan ikan merupakan salah satu komoditi ekspor yang potensial untuk dikembangkan.
Selain permintaan pasar yang tinggi Sulsel memiliki sumberdaya yang cukup baik alami maupun untuk budidaya ikan gabus yang cukup potensial di Wajo perlu lebih dikembangkan dengan sentuhan tehnologi yang memadai sehingga dapat memberi nilai tambah begitu pulah olahan rumput laut.
Hal itu dikemukaan gubernur di depan ketua dan anggota kelompok industri pengolahan ikan
gabus dan rumput laut di Kecamatan Tempe.
Ketua Pelaksana Andi Risman dalam laporannya, mengatakan, dari 14 kecamatan di Wajo ada lima kecamatan pesisir pantai yang memiliki potensi Rumput Laut yang cukup memadai serta potensi ikan Gabus yang berada disekitar Danau Tempe yakni Tempe, Tanasitolo, Sabbangparu, dan Belawa.
Produksi tersebut telah dipasarkan sampai di luar Kabupaten Wajo. Pemasaran dilakukan dibawah bimbingan teknis Dinas Perindustrian dan perdagangan Provinsi Sulsel dan bekerja sama dengan Dinas Koperasi UKM dan perindustrian kabupaten Wajo.
Bimbingan diberikan kepada anggota kelompok Industri pengolahan rumput laut sebanyak 60 orang dan kelompok pengolah Ikan Gabus sebanyak 100 orang.
Upaya tersebut bertujuan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki daerah secara optimal dan meningkatkan kesejahteraan rakyat lokal dan tumbuhnya industri yang mampu menciptakkan lapangan kerja dan terwujudnya kesejahteraan masyarakat.(cr6)
Gubernur menyatakan hasil olahan ikan merupakan salah satu komoditi ekspor yang potensial untuk dikembangkan.
Selain permintaan pasar yang tinggi Sulsel memiliki sumberdaya yang cukup baik alami maupun untuk budidaya ikan gabus yang cukup potensial di Wajo perlu lebih dikembangkan dengan sentuhan tehnologi yang memadai sehingga dapat memberi nilai tambah begitu pulah olahan rumput laut.
Hal itu dikemukaan gubernur di depan ketua dan anggota kelompok industri pengolahan ikan
gabus dan rumput laut di Kecamatan Tempe.
Ketua Pelaksana Andi Risman dalam laporannya, mengatakan, dari 14 kecamatan di Wajo ada lima kecamatan pesisir pantai yang memiliki potensi Rumput Laut yang cukup memadai serta potensi ikan Gabus yang berada disekitar Danau Tempe yakni Tempe, Tanasitolo, Sabbangparu, dan Belawa.
Produksi tersebut telah dipasarkan sampai di luar Kabupaten Wajo. Pemasaran dilakukan dibawah bimbingan teknis Dinas Perindustrian dan perdagangan Provinsi Sulsel dan bekerja sama dengan Dinas Koperasi UKM dan perindustrian kabupaten Wajo.
Bimbingan diberikan kepada anggota kelompok Industri pengolahan rumput laut sebanyak 60 orang dan kelompok pengolah Ikan Gabus sebanyak 100 orang.
Upaya tersebut bertujuan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki daerah secara optimal dan meningkatkan kesejahteraan rakyat lokal dan tumbuhnya industri yang mampu menciptakkan lapangan kerja dan terwujudnya kesejahteraan masyarakat.(cr6)
Sumber : http://makassar.tribunnews.com
Sabtu, 02 Juli 2011
Sulsel Suplai Satu Ton Ikan ke DKI Jakarta
Tribun Jakarta - Sabtu, 2 Juli 2011 13:34 WIB
Laporan Wartawan Tribunnews.com / Husein Sanusi
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTAJakarta, - Provinsi Sulawesi Selatan kembali memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan berskala nasional. Hal ini ditandai dengan adanya pengiriman satu ton ikan ke Provinsi DKI Jakarta.
Suplai satu ton ikan ini adalah bentuk kerjasama antara Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Menteri Kelautan dan Perikanan Fadhel Muhammad dengan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang diwakili Asisten Satu Pemprov DKI Jakarta, Sylviana.
Sumber : http://jakarta.tribunnews.com
"Kegiatan pengiriman ikan antar provinsi ini harus dilihat sebagai bentuk sikap dan komitmen kuat pemerintah dan swasta dalam menciptakan kemandirian pangan termasuk kesatuan antar provinsi dalam penyediaan protein hewani," kata Fadhel saat menerima suplai satu ton ikan dari Sulsel untuk DKI Jakarta di Balai Besar Karantina Ikan Soekarna Hatta, Jakarta, Kamis (1/7).
Pengiriman ikan yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ini akan langsung diterima pengusaha ikan DKI Jakarta untuk langsung didistribusikan ke pasar-pasar yang ada di Jakarta.
"Kegiatan ini adalah awal yang harus diapresiasi serta terus ditingkatkan sehingga volume impor ikan dapat ditekan dan lebih mendorong meningkatnya pengiriman bahan pangan antar provinsi terutama ikan sehingga bisa tercipta kemandirian pangan di Indonesia," ujar Fadhel.
Selanjutnya mantan gubernur Gorontalo itu menyebut alasan dipilihnya Sulsel sebagai penyuplai pertama ke DKI." Sulsel itu gerbang indonesia timur, hasil laut, ternak dan sayur mayurnya sangat melimpah. Tapi selanjutnya kami akan bekerjasama dengan daerah-daerah lain melakukan hal yang sama," kata Fadhel.
Fadhel juga mengungkapkan tujuan utama penyupalain ikan, daging sapi dan sayur mayur ke Jakarta ini untuk menekan angka impor yang makin hari makin meningkat."Bila semua daerah mampu bersinergi maka kita takkan butuh barang-barang impor dari luar negeri. Negeri kita ini sudah sangat kaya raya," katanya.
Sementara Syahrul dalam sambutannya mengungkapkan kekayaan alam Sulsel yang bila dieksplore dengan maksimal akan sangat memberikan manfaat besar bagi pembangunan ekonomi baik lokal maupun nasional.
"Kita tidak perlu ragu dengan embargo dari siapa saja. Kalau tidak ada daging kita makan ikan, di Makassar banyak sekali ikan, negara ini kaya raya, cuma kita butuh demokrasi yang aman dan jangan demo terus seperti yang sering terjadi di Makassar," kata Syahrul berkelakar sambil disambut tawa para hadirin.
Syahrul menyatakan kegiatan ini adalah bentuk support pemerintahan Sulsel terhadapa Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pengiriman ikan ke Jakarta dinilai sangat tepat karena akan menguntungkan kedua belah pihak.
"Jakarta adalah market yang sangat besar dan Sulsel adalah penghasil ikan, daging dan sayur mayur yang besar. Ini akan jadi kerjasama menguntungkan bila kami mampu bersinergi. Usaha mediasi yang dilakukan KKP diharapkan bisa jadi power besar buat Indonesia," katanya.
Menurut Syahrul, Sulsel saat ini memiliki satu juta ekor sapi yang bisa disiapkan untuk memenuhi kebutuhan daging daerah Jakarta dan sekitarnya. Sebagaimana diketahui, Jakarta kehabisan stok daging pascapenghentian impor daging sapi dari Australia.
"Kami juga memiliki ikan Tuna kami sebanyak 60 ribu ton, udang 32 ton, produksi itu akan terus meningkat karena semua perangkat pemerintahan di dinas dinas terkait bekerja optimal, berjangka dan selalu dievaluasi," katanya.
Syahrul juga berharap semua pihak bisa mengubah paradigma pembangunan Indonesia yang selama ini lebih tersentral di Jakarta."Kami harus fokus ke sektor kemeritiman, Indonesia tdk bisa dibangun hanya dari jakarta mari kita ubah paradigma itu, mari kita bagi pembangunan ini secara merata. Pemerintah disini tidak berdagang tapi tujuannya rakyat harus merasakan Rahmatan Lil Alamin," katanya.
Sementara Sylviana menyambut positif kegiatan ini. Ia menjelaskan kebutuhan ikan DKI Jakarta mencapai 249 ribu ton pertahun. Sementara DKI Jakarta hanya bisa menghasilkan 121 ribu ton pertahun.
"Itu makanya kita butuh dari daerah –daerah lain. Ini langkah yang sangat strategis untuk menyetop impor ikan yang selama ini mencapai 70 ribu ton pertahun. Kalau semua gubernur seperti pak Syahrul maka amanlah negeri ini," kata Sylviana.
Untuk memperlancar suplai ikan dan daging ke DKI Jakarta, Pemprov Sulsel menunjuk CV Awamindo Mandiri dan CV Anugerah Bintang Cemerlang Sulsel sebagai suplier. Sementara Pemprov DKI Jakarta menyerahkan pengelolaan kiriman ikan kepada Koperasi perikanan Umira dan PT Dua Mitra Perkasa.
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTAJakarta, - Provinsi Sulawesi Selatan kembali memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan berskala nasional. Hal ini ditandai dengan adanya pengiriman satu ton ikan ke Provinsi DKI Jakarta.
Suplai satu ton ikan ini adalah bentuk kerjasama antara Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Menteri Kelautan dan Perikanan Fadhel Muhammad dengan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang diwakili Asisten Satu Pemprov DKI Jakarta, Sylviana.
Sumber : http://jakarta.tribunnews.com
"Kegiatan pengiriman ikan antar provinsi ini harus dilihat sebagai bentuk sikap dan komitmen kuat pemerintah dan swasta dalam menciptakan kemandirian pangan termasuk kesatuan antar provinsi dalam penyediaan protein hewani," kata Fadhel saat menerima suplai satu ton ikan dari Sulsel untuk DKI Jakarta di Balai Besar Karantina Ikan Soekarna Hatta, Jakarta, Kamis (1/7).
Pengiriman ikan yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ini akan langsung diterima pengusaha ikan DKI Jakarta untuk langsung didistribusikan ke pasar-pasar yang ada di Jakarta.
"Kegiatan ini adalah awal yang harus diapresiasi serta terus ditingkatkan sehingga volume impor ikan dapat ditekan dan lebih mendorong meningkatnya pengiriman bahan pangan antar provinsi terutama ikan sehingga bisa tercipta kemandirian pangan di Indonesia," ujar Fadhel.
Selanjutnya mantan gubernur Gorontalo itu menyebut alasan dipilihnya Sulsel sebagai penyuplai pertama ke DKI." Sulsel itu gerbang indonesia timur, hasil laut, ternak dan sayur mayurnya sangat melimpah. Tapi selanjutnya kami akan bekerjasama dengan daerah-daerah lain melakukan hal yang sama," kata Fadhel.
Fadhel juga mengungkapkan tujuan utama penyupalain ikan, daging sapi dan sayur mayur ke Jakarta ini untuk menekan angka impor yang makin hari makin meningkat."Bila semua daerah mampu bersinergi maka kita takkan butuh barang-barang impor dari luar negeri. Negeri kita ini sudah sangat kaya raya," katanya.
Sementara Syahrul dalam sambutannya mengungkapkan kekayaan alam Sulsel yang bila dieksplore dengan maksimal akan sangat memberikan manfaat besar bagi pembangunan ekonomi baik lokal maupun nasional.
"Kita tidak perlu ragu dengan embargo dari siapa saja. Kalau tidak ada daging kita makan ikan, di Makassar banyak sekali ikan, negara ini kaya raya, cuma kita butuh demokrasi yang aman dan jangan demo terus seperti yang sering terjadi di Makassar," kata Syahrul berkelakar sambil disambut tawa para hadirin.
Syahrul menyatakan kegiatan ini adalah bentuk support pemerintahan Sulsel terhadapa Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pengiriman ikan ke Jakarta dinilai sangat tepat karena akan menguntungkan kedua belah pihak.
"Jakarta adalah market yang sangat besar dan Sulsel adalah penghasil ikan, daging dan sayur mayur yang besar. Ini akan jadi kerjasama menguntungkan bila kami mampu bersinergi. Usaha mediasi yang dilakukan KKP diharapkan bisa jadi power besar buat Indonesia," katanya.
Menurut Syahrul, Sulsel saat ini memiliki satu juta ekor sapi yang bisa disiapkan untuk memenuhi kebutuhan daging daerah Jakarta dan sekitarnya. Sebagaimana diketahui, Jakarta kehabisan stok daging pascapenghentian impor daging sapi dari Australia.
"Kami juga memiliki ikan Tuna kami sebanyak 60 ribu ton, udang 32 ton, produksi itu akan terus meningkat karena semua perangkat pemerintahan di dinas dinas terkait bekerja optimal, berjangka dan selalu dievaluasi," katanya.
Syahrul juga berharap semua pihak bisa mengubah paradigma pembangunan Indonesia yang selama ini lebih tersentral di Jakarta."Kami harus fokus ke sektor kemeritiman, Indonesia tdk bisa dibangun hanya dari jakarta mari kita ubah paradigma itu, mari kita bagi pembangunan ini secara merata. Pemerintah disini tidak berdagang tapi tujuannya rakyat harus merasakan Rahmatan Lil Alamin," katanya.
Sementara Sylviana menyambut positif kegiatan ini. Ia menjelaskan kebutuhan ikan DKI Jakarta mencapai 249 ribu ton pertahun. Sementara DKI Jakarta hanya bisa menghasilkan 121 ribu ton pertahun.
"Itu makanya kita butuh dari daerah –daerah lain. Ini langkah yang sangat strategis untuk menyetop impor ikan yang selama ini mencapai 70 ribu ton pertahun. Kalau semua gubernur seperti pak Syahrul maka amanlah negeri ini," kata Sylviana.
Untuk memperlancar suplai ikan dan daging ke DKI Jakarta, Pemprov Sulsel menunjuk CV Awamindo Mandiri dan CV Anugerah Bintang Cemerlang Sulsel sebagai suplier. Sementara Pemprov DKI Jakarta menyerahkan pengelolaan kiriman ikan kepada Koperasi perikanan Umira dan PT Dua Mitra Perkasa.
Sulsel Suplai Daging Dan Ikan Ke Jakarta
Ditulis pada 01-07-2011 18:42:50 WIB
Makassar (Phinisinews) - Provinsi Sulawesi Selatan mulai menyuplai daging, ikan dan sayuran untuk DKI Jakarta setelah penghentian ekspor daging oleh Pemerintah Australia ke Indonesia.
"Karena ada larangan ekspor dari Australia, pusat meminta kepada daerah yang surplus untuk mendistribusinya ke Jakarta," kata Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang saat melepas pengiriman perdana daging, ikan dan sayuran Sulsel ke Jakarta di bagian kargo Bandara Internasional Hasanuddin Makassar, Jumat.
Pengiriman perdana masing-masing satu ton daging, ikan, dan sayuran segar Sulsel ke Jakarta menggunakan dua pesawat kargo dari Garuda Indonesia dan Lion Air.
Agus mengemukakan, saat ini populasi sapi Sulsel mengalami surplus, mencapai 800 ribu ekor lebih dan ditargetkan satu juta ekor pada 2013.
Ia menyebut daging sapi, sayur dan ikan yang dikirim ini berkualitas bagus untuk memenuhi permintaan restoran di Jakarta. Jenis sayur yang dikirim yakni kentang, wortel, dan cabai.
"Kita jangan mau digertak sama Australia. Pengiriman ini sukses atas keterlibatan Menteri Kelautan dan Perikanan dan Pemprov DKI," katanya.
Salah seorang pengusaha ikan Sulsel dari CV Awaninda Mandiri AB Mappaewa mengatakan setiap bulan Sulsel akan menyalurkan 500 ton ikan bandeng, cakalang, nila, tuna, ke Jakarta lewal pesawat kargo.
Ia juga mengemukakan, selama ini pengusaha Sulsel sudah banyak yang mengirim ikan ke Jakarta, tetapi nilainya masih terbatas karena belum ada dukungan dari pemerinta seperti saat ini.
"Untuk pengiriman tidak ada masalah, ada pesawat kargo. Kita akan garap pengiriman lewat laut untuk ikan konsumsi umum," ujarnya.
Pengiriman perdana tersebut akan diterima langsung Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo di dampingi Kepala Biro Humas Pemprov Sulsel Agus Sumantri di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Makassar (Phinisinews) - Provinsi Sulawesi Selatan mulai menyuplai daging, ikan dan sayuran untuk DKI Jakarta setelah penghentian ekspor daging oleh Pemerintah Australia ke Indonesia.
"Karena ada larangan ekspor dari Australia, pusat meminta kepada daerah yang surplus untuk mendistribusinya ke Jakarta," kata Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang saat melepas pengiriman perdana daging, ikan dan sayuran Sulsel ke Jakarta di bagian kargo Bandara Internasional Hasanuddin Makassar, Jumat.
Pengiriman perdana masing-masing satu ton daging, ikan, dan sayuran segar Sulsel ke Jakarta menggunakan dua pesawat kargo dari Garuda Indonesia dan Lion Air.
Agus mengemukakan, saat ini populasi sapi Sulsel mengalami surplus, mencapai 800 ribu ekor lebih dan ditargetkan satu juta ekor pada 2013.
Ia menyebut daging sapi, sayur dan ikan yang dikirim ini berkualitas bagus untuk memenuhi permintaan restoran di Jakarta. Jenis sayur yang dikirim yakni kentang, wortel, dan cabai.
"Kita jangan mau digertak sama Australia. Pengiriman ini sukses atas keterlibatan Menteri Kelautan dan Perikanan dan Pemprov DKI," katanya.
Salah seorang pengusaha ikan Sulsel dari CV Awaninda Mandiri AB Mappaewa mengatakan setiap bulan Sulsel akan menyalurkan 500 ton ikan bandeng, cakalang, nila, tuna, ke Jakarta lewal pesawat kargo.
Ia juga mengemukakan, selama ini pengusaha Sulsel sudah banyak yang mengirim ikan ke Jakarta, tetapi nilainya masih terbatas karena belum ada dukungan dari pemerinta seperti saat ini.
"Untuk pengiriman tidak ada masalah, ada pesawat kargo. Kita akan garap pengiriman lewat laut untuk ikan konsumsi umum," ujarnya.
Pengiriman perdana tersebut akan diterima langsung Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo di dampingi Kepala Biro Humas Pemprov Sulsel Agus Sumantri di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Sumber : http://www.phinisinews.com
Jumat, 24 Juni 2011
Sulsel Kirim Ikan ke Jakarta Via Udara
Tribun Timur - Jumat, 24 Juni 2011 19:26 WITA
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Provinsi Sulawesi Selatan ingin menunjukkan
diri sebagai salah satu daerah penghasil ikan dan sayur-sayuran
terbesar di Indonesia. Awal Juli nanti, Sulsel akan mengirimkan ikan,
daging, dan sayur ke Jakarta melalui kargo udara.
"Rencana mulai 1 Juli, kita mulai kirim ikan, daging dan sayuran melalui kargo udara. Ini sekaligus membuka pasar ke Jakarta," kata Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang di Makassar, Jumat (24/6/2011).
Pemprov Sulsel, saat ini tengah mengatur proses pengiriman dengan pertimbangan kapasitas kargo pesawat terbang dan waktu pengiriman. Karena dari sisi persediaan, Sulsel akan menyanggupi berapa pun jumlah yang dibutuhkan terutama ikan seperti Baronang dan Kerapu.
"Kapasitas kargo setiap pesawat maksimal dua ton. Kita maunya satu ton dari setiap komoditas kita bisa penuhi," ujarnya. Kargo udara dipilih agar komoditi tersebut tiba dalam keadaan segar di Jakarta.
Sementara ini, Dinas Perhubungan Sulsel masih melakukan pembicaraan dengan sejumlah maskapai penerbangan nasional untuk melakukan pengiriman komoditas tersebut.
Soal berapa banyak kebutuhan dan distribusi komoditas di Jakarta, ia mengatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang akan mengaturnya. "Kalau bisa dipotong rantai distribusinya langsung ke pengguna seperti rumah makan dan sebagainya," kata Agus seperti dikutip dari Antara.
Rencana pengiriman ikan sebagai pengganti kebutuhan daging di Jakarta merupakan ide Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pada perbincangannya dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad beberapa waktu lalu terkait moratorium ekspor daging sapi Australia ke Indonesia. (*/tribun-timur.com)
"Rencana mulai 1 Juli, kita mulai kirim ikan, daging dan sayuran melalui kargo udara. Ini sekaligus membuka pasar ke Jakarta," kata Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang di Makassar, Jumat (24/6/2011).
Pemprov Sulsel, saat ini tengah mengatur proses pengiriman dengan pertimbangan kapasitas kargo pesawat terbang dan waktu pengiriman. Karena dari sisi persediaan, Sulsel akan menyanggupi berapa pun jumlah yang dibutuhkan terutama ikan seperti Baronang dan Kerapu.
"Kapasitas kargo setiap pesawat maksimal dua ton. Kita maunya satu ton dari setiap komoditas kita bisa penuhi," ujarnya. Kargo udara dipilih agar komoditi tersebut tiba dalam keadaan segar di Jakarta.
Sementara ini, Dinas Perhubungan Sulsel masih melakukan pembicaraan dengan sejumlah maskapai penerbangan nasional untuk melakukan pengiriman komoditas tersebut.
Soal berapa banyak kebutuhan dan distribusi komoditas di Jakarta, ia mengatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang akan mengaturnya. "Kalau bisa dipotong rantai distribusinya langsung ke pengguna seperti rumah makan dan sebagainya," kata Agus seperti dikutip dari Antara.
Rencana pengiriman ikan sebagai pengganti kebutuhan daging di Jakarta merupakan ide Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pada perbincangannya dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad beberapa waktu lalu terkait moratorium ekspor daging sapi Australia ke Indonesia. (*/tribun-timur.com)
Sumber : http://makassar.tribunnews.com
Senin, 20 Juni 2011
Sulsel Siap Suplai Ikan Segar ke Jakarta
Senin, 20-06-2011
Sulsel Siap Suplai Ikan Segar ke Jakarta
MAKASSAR, UPEKS--Sulawesi Selatan tengah menjajaki untuk mengisi ikan
dan daging segar ke Jakarta. Rencana ini menyusul menipisnya stok daging
basah di pasaran akibat penyetopan pengiriman daging dan sapi hidup
dari Australia. Hal tersebut diungkapkan Gubernur Sulsel, H Syahrul
Yasin Limpo, pada pertemuan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia (RI) Fadel Muhammad, Selasa (14/6).
Atas rencananya tersebut, pihaknya memanggil para kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang terkait dan akan mencoba memaksimalkan untuk mengajarkan agar masyarakat Indonesia tidak bergantung dengan luar negeri.
"Program awal kita akan membangun kargo insuler di Bandara Sultan Hasanuddin yang bekerja sama dengan maskapai penerbangan," jelasnya.
Atas persetujuan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, sebagai tahap awal, pihaknya tidak akan mencari keuntungan terlebih dahulu, melainkan mencari jalan agar bagaimana ikan segar asal Sulawesi Selatan diminati dunia dan kami sudah sepakat. Selama ini Pemprov Sulsel telah membuka penerbangan langsung ke Singapura dan Malaysia. Hal inilah yang akan dimanfaatkan dan akan melobi Garuda Indonesia dan Air Asia untukmenyiapkan kargo khusus ikan segar.
Atas rencananya tersebut, pihaknya memanggil para kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang terkait dan akan mencoba memaksimalkan untuk mengajarkan agar masyarakat Indonesia tidak bergantung dengan luar negeri.
"Program awal kita akan membangun kargo insuler di Bandara Sultan Hasanuddin yang bekerja sama dengan maskapai penerbangan," jelasnya.
Atas persetujuan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, sebagai tahap awal, pihaknya tidak akan mencari keuntungan terlebih dahulu, melainkan mencari jalan agar bagaimana ikan segar asal Sulawesi Selatan diminati dunia dan kami sudah sepakat. Selama ini Pemprov Sulsel telah membuka penerbangan langsung ke Singapura dan Malaysia. Hal inilah yang akan dimanfaatkan dan akan melobi Garuda Indonesia dan Air Asia untukmenyiapkan kargo khusus ikan segar.
Sumber : http://www.ujungpandangekspres.com
Rabu, 15 Juni 2011
Sulsel Incar Pasar Ikan Segar Jakarta
Rabu, 15 Juni 2011 | 00:33:15 WITA | 18 HITS
RASID/FAJAR
BAHAS EKSPOR. Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo membahas rencana pengiriman ikan basah ke Jakarta dan luar negeri melalui Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, kemarin.
BAHAS EKSPOR. Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo membahas rencana pengiriman ikan basah ke Jakarta dan luar negeri melalui Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, kemarin.
MAKASSAR
-- Sulsel tengah menjajaki untuk mengisi ikan segar ke Jakarta. Rencana
ini, menyusul menipisnya stok daging basah di pasaran akibat penyetopan
pengiriman daging dan sapi hidup dari Australia.
Rencana tersebut dibahas Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dan Gubernur Sulsel Syahrul yasin Limpo, Selasa, 14 Juni, di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel.
Fadel meminta kepada Pemprov Sulsel, agar siap mengisi permintaan pasar lauk pengganti daging sapi yang sedang mahal dan stoknya menipis. "Kendala di Sulsel adalah masalah pengiriman di Bandara Sultan Hasanuddin. Saat ini juga barusan saya telepon Dirjen Bea dan Cukai untuk membuka itu," kata Fadel.
Dia juga meminta agar Gubernur Sulsel memanfaatkan peluang ini. Untuk tahap pertama, kata Fadel, bisa diisi dengan ikan basah dulu seperti kerapu, kepeting, atau udang segar. "Itu kan produk unggulan Sulsel," ucap mantan Gubernur Gorontalo dua periode ini.
Menjawab permintaan tersebut, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, menyambut positif. Dalam pertemuan tersebut, Syahrul langsung memanggil para Kepala SKPD yang terkait langsung dengan pengiriman ikan basah. "Program awal, kita akan membangun kargo insuler di Bandara Sultan Hasanuddin bekerja sama dengan maskapai penerbangan," ucap mantan Bupati Gowa dua periode ini.
Kargo mini tersebut kata Syahrul untuk melayani permintaan pasar di Jakarta dengan volume kecil-kecilan. "Itu untuk sementara saja, yang penting sudah ada jalur. Yang menghambat selama ini karena memang tidak ada yang memulai. Kalau sudah dimulai ke depan lebih mudah," kata Syahrul.
Terkait permintaan ekspor ikan segar, Syahrul menyatakan, peluang pasar sangat besar karena kebutuhan eskpor mencapai 2 juta ton per tahun. Karena tak ada bandara kargo di Sulsel akhirnya hasil-hasil ikan basah Sulsel sulit bersaing di pasar ekspor. "Semua hasil perikanan laut Sulsel harus mampir ke Bali dan Surabaya, padahal jika ada jalur singkat mempermudah pengiriman," tandasnya. (aci)
Rencana tersebut dibahas Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dan Gubernur Sulsel Syahrul yasin Limpo, Selasa, 14 Juni, di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel.
Fadel meminta kepada Pemprov Sulsel, agar siap mengisi permintaan pasar lauk pengganti daging sapi yang sedang mahal dan stoknya menipis. "Kendala di Sulsel adalah masalah pengiriman di Bandara Sultan Hasanuddin. Saat ini juga barusan saya telepon Dirjen Bea dan Cukai untuk membuka itu," kata Fadel.
Dia juga meminta agar Gubernur Sulsel memanfaatkan peluang ini. Untuk tahap pertama, kata Fadel, bisa diisi dengan ikan basah dulu seperti kerapu, kepeting, atau udang segar. "Itu kan produk unggulan Sulsel," ucap mantan Gubernur Gorontalo dua periode ini.
Menjawab permintaan tersebut, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, menyambut positif. Dalam pertemuan tersebut, Syahrul langsung memanggil para Kepala SKPD yang terkait langsung dengan pengiriman ikan basah. "Program awal, kita akan membangun kargo insuler di Bandara Sultan Hasanuddin bekerja sama dengan maskapai penerbangan," ucap mantan Bupati Gowa dua periode ini.
Kargo mini tersebut kata Syahrul untuk melayani permintaan pasar di Jakarta dengan volume kecil-kecilan. "Itu untuk sementara saja, yang penting sudah ada jalur. Yang menghambat selama ini karena memang tidak ada yang memulai. Kalau sudah dimulai ke depan lebih mudah," kata Syahrul.
Terkait permintaan ekspor ikan segar, Syahrul menyatakan, peluang pasar sangat besar karena kebutuhan eskpor mencapai 2 juta ton per tahun. Karena tak ada bandara kargo di Sulsel akhirnya hasil-hasil ikan basah Sulsel sulit bersaing di pasar ekspor. "Semua hasil perikanan laut Sulsel harus mampir ke Bali dan Surabaya, padahal jika ada jalur singkat mempermudah pengiriman," tandasnya. (aci)
Sumber : http://www.fajar.co.id
Aumber
Kamis, 26 Mei 2011
Sulsel Tingkatkan Produksi Ikan Bandeng
MAKASSAR,UPEKS--Untuk meningkatkan produksi dan kualitas ikan bandeng
di daerah ini, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel memberikan bantuan
benih ikan bandeng sekira 2.500 nener kepada tambak. Bantuan ini
diharapkan meningkatkan jumlah produksi hingga 99 ribu ton. Tahun 2010
jumlahnya hanya 74 ribu ton.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel Sulkaf S. Latief menururkan, kendati ikan bandeng belum diekspor keluar negeri, namun permintaan lokal cukup besar. Karena itu, produksinya akan terus ditingkatkan agar dapat memenuhi permintaan pasar antar pulau. "Kami akan terus melakukan peningkatan produksi, agar permintaan dapat terpenuhi dan berusaha untuk komoditi budidaya perikanan ini dapat di ekspor keluar negeri," katanya, belum lama ini.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi adalah pemberlakuan sistem polikultur, guna memperbaiki mutu kualaitas produksi bandeng. Saat ini ada 19 kabupaten yang menjadi daerah sentra produksi ikan bandeng dari luas areal tambak 119 hektare."Atas kondisi ini diyakini akan menjadikan Sulsel sebagai daerah penghasil ikan bandeng yang terbesar di nusantara ini,"ungkapnya.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel Sulkaf S. Latief menururkan, kendati ikan bandeng belum diekspor keluar negeri, namun permintaan lokal cukup besar. Karena itu, produksinya akan terus ditingkatkan agar dapat memenuhi permintaan pasar antar pulau. "Kami akan terus melakukan peningkatan produksi, agar permintaan dapat terpenuhi dan berusaha untuk komoditi budidaya perikanan ini dapat di ekspor keluar negeri," katanya, belum lama ini.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi adalah pemberlakuan sistem polikultur, guna memperbaiki mutu kualaitas produksi bandeng. Saat ini ada 19 kabupaten yang menjadi daerah sentra produksi ikan bandeng dari luas areal tambak 119 hektare."Atas kondisi ini diyakini akan menjadikan Sulsel sebagai daerah penghasil ikan bandeng yang terbesar di nusantara ini,"ungkapnya.
Sumber : http://www.ujungpandangekspres.com
Sabtu, 21 Mei 2011
Komunitas Nelayan Sulsel Hadirkan Syahrul
Dok Tribun
Seoranmg
Nelayan pesisir mengeringkan ikan hasil tanghkapan mereka. Sabtu
(21/5/2011) siang ini, Gubernur Sulsel Syahrul YL membuka seminar yang
digelar Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sulsel di Hotel
Horison, Jl Jenderal Sudirman, Makassar.
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM -
Puluhan orang hadir di acara seminar membahas peningkatan produksi
perikanan Sulsel di Hotel Horison, Jl Jenderal Sudirman, Makassar, Sabtu
(21/5/2011). Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sulsel kembali
membangkitkan kejayaan nelayan di Sulsel.
Dalam pidatonya, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, menyambut baik acara ini. Ia menjelaskan banyak orang hidup bersandar dari para nelayan. "Ikan yang kita makan berasal dari nelayan. Tanpa nelayan kita tidak makan ikan," katanya.
Andi Tamsil, sebagai Sekertaris HNSI Provinsi Sulsel, mengatakan, ini merupakan penunjang bagi warga sulsel. Terutama bagi para pengusaha perikanan dan pertanian untuk mengembangkan nilai-nilai pengembangan kelautan.(*)
Dalam pidatonya, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, menyambut baik acara ini. Ia menjelaskan banyak orang hidup bersandar dari para nelayan. "Ikan yang kita makan berasal dari nelayan. Tanpa nelayan kita tidak makan ikan," katanya.
Andi Tamsil, sebagai Sekertaris HNSI Provinsi Sulsel, mengatakan, ini merupakan penunjang bagi warga sulsel. Terutama bagi para pengusaha perikanan dan pertanian untuk mengembangkan nilai-nilai pengembangan kelautan.(*)
Kamis, 19 Mei 2011
Sulsel Jajaki Suplai Jagung ke Banten
MAKASSAR -- Produksi jagung
melimpah mendorong Pemprov Sulsel terus mencari pasar. Salah satu
sasaran yang tengah dijajaki adalah kerja sama dengan PT Redwood
Indonesia yang berada di Cilegon, Banten.
"Surpulus jagung mencapai 1,6 juta ton perlu mendapat perhatian penuh agar distribusi menjadi lebih jelas," kata Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Rabu, 18 Mei.
Syahrul mengatakan dirinya sempat ke PT Redwood Indonesia. Syahrul dan rombongan melihat dari dekat proses produksi jagung sekaligus menjajaki kerja sama dengan perusahaan tersebut.
Kebetulan Syahrul didaulat menjadi keynot speaker pada rapat koordinasi litbang dan penelitian nasional di Banten yang digelar Kementerian Ristek dan Teknologi. "Redwood adalah penghasil tepung jagung, pakan ternak, dan produk olahan lain terbesar di Indonesia. Penjajakan ini salah satu upaya untuk menjalin kerja sama," ungkap Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, Andi Muhammad Yamin via telepon yang menyertai rombongan Gubernur.
Dalam pertemuan tersebut, Syahrul juga mengajak perusahaan raksasa asal Amerika Serikat itu masuk ke Sulsel membangun pabrik, sekaligus menyerap jagung hasil pertanian Sulsel. Sejauh ini kata Yamin, Redwood kekurangan pasokan jagung mencapai 300 ribu ton per tahun sehingga harus mengimpor dari Amerika dan Argentina. "Ini potensi pasar yang bisa kita isi," katanya.
Sementara Kepala Seksi Produksi Jagung Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel, AM Taqwa, mengatakan, pihaknya kini terus menggenjot produktivitas jagung hibrida untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkatkan. Untuk itu produktivitas jagung hibrida pada 2011 ditargetkan mencapai 1,6 juta ton atau naik 100 ribu ton dibandingkan 2010 yang mencapai 1,5 juta ton.
Potensi masa tanam pada 2010 mencapai 320 hektare, sehingga untuk Sulsel diproyeksi akan produktivitas jagung hibrida terbilang cukup besar, dilihat dari jumlah areal tanam yang mencapai 599 ribu hektare tahun ini.
Produksi jagung Sulsel mencapai 1.395.744 ton menempati peringkat keempat nasional setelah Jawa Timur (5,2 juta ton), Jawa Tengah (3,2 juta ton) dan Lampung (2 juta ton). Sentra penanaman jagung terdapat di Sulsel yakni; Gowa, Takalar, Bantaeng, Sinjai, Jeneponto, dan Bulukumba.
Dinas Pertanian kata dia saat ini, menerapkan sistem pengembangan mutu di setiap kecamatan untuk dapat mendongkrak produktivitas jagung hibrida. Selain itu, disiapkan pula bantuan alat pengering 10 unit. "Juga ada sekolah lapangan petani terpadu kepada petani," ungkapnya.
"Surpulus jagung mencapai 1,6 juta ton perlu mendapat perhatian penuh agar distribusi menjadi lebih jelas," kata Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Rabu, 18 Mei.
Syahrul mengatakan dirinya sempat ke PT Redwood Indonesia. Syahrul dan rombongan melihat dari dekat proses produksi jagung sekaligus menjajaki kerja sama dengan perusahaan tersebut.
Kebetulan Syahrul didaulat menjadi keynot speaker pada rapat koordinasi litbang dan penelitian nasional di Banten yang digelar Kementerian Ristek dan Teknologi. "Redwood adalah penghasil tepung jagung, pakan ternak, dan produk olahan lain terbesar di Indonesia. Penjajakan ini salah satu upaya untuk menjalin kerja sama," ungkap Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, Andi Muhammad Yamin via telepon yang menyertai rombongan Gubernur.
Dalam pertemuan tersebut, Syahrul juga mengajak perusahaan raksasa asal Amerika Serikat itu masuk ke Sulsel membangun pabrik, sekaligus menyerap jagung hasil pertanian Sulsel. Sejauh ini kata Yamin, Redwood kekurangan pasokan jagung mencapai 300 ribu ton per tahun sehingga harus mengimpor dari Amerika dan Argentina. "Ini potensi pasar yang bisa kita isi," katanya.
Sementara Kepala Seksi Produksi Jagung Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel, AM Taqwa, mengatakan, pihaknya kini terus menggenjot produktivitas jagung hibrida untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkatkan. Untuk itu produktivitas jagung hibrida pada 2011 ditargetkan mencapai 1,6 juta ton atau naik 100 ribu ton dibandingkan 2010 yang mencapai 1,5 juta ton.
Potensi masa tanam pada 2010 mencapai 320 hektare, sehingga untuk Sulsel diproyeksi akan produktivitas jagung hibrida terbilang cukup besar, dilihat dari jumlah areal tanam yang mencapai 599 ribu hektare tahun ini.
Produksi jagung Sulsel mencapai 1.395.744 ton menempati peringkat keempat nasional setelah Jawa Timur (5,2 juta ton), Jawa Tengah (3,2 juta ton) dan Lampung (2 juta ton). Sentra penanaman jagung terdapat di Sulsel yakni; Gowa, Takalar, Bantaeng, Sinjai, Jeneponto, dan Bulukumba.
Dinas Pertanian kata dia saat ini, menerapkan sistem pengembangan mutu di setiap kecamatan untuk dapat mendongkrak produktivitas jagung hibrida. Selain itu, disiapkan pula bantuan alat pengering 10 unit. "Juga ada sekolah lapangan petani terpadu kepada petani," ungkapnya.
Sumber : www.fajar.co.id/Kamis, 19 Mei 2011
Rabu, 04 Mei 2011
2013, Rumput Laut Sulsel Target 2,4 Juta Ton
MAKASSAR,UPEKS --Rumput laut Sulsel merupakan salah satu komoditi yang memiliki nilai perekonomian yang cukup besar, apa lagi jika dibandingkan dalam pencapaian produksi dalam negeri.
Karena itu Pemprov menargetkan produksi rumput laut hingga tahun 2013 mendatang sebanyak 2,4 juta ton. Produksi ini diharapkan dapat memenuhi permintaan ekspor baik lokal maupun pasar dunia.
Untuk dapat mewujudkan produksi rumput laut tersebut, maka perikanan dan kelautan bekerja sama dengan dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Sulawesi Selatan, untuk dapat menunjang keinginan tersebut maka kedua SKPD tersebut, terus melakukan menguatan sitem kelembagaan usaha, yang nantinya akan dapat memenuhi target produksi rumput laut hingga 2013 mendatang.
Hal tersebut diungkapkan oleh Humas Dinas Koperasi dan UMKM Sulsel Haeruddin, saat di temui di kantornya belum lama ini. Dia mengatakan, Dinas Koperasi da0n UMKM sulsel akan menginstruksikan, agar setiap koperasi untuk dapat memberi pinjaman kredit berbasis pada komoditi unggulan budidaya perikanan khususnya rumput Laut. Untuk mewujudkan program pemerintah untuk menjadikan Sulsel sebagai daerah swasembada perikanan budidaya dan memenuhi proyeksi produksi rumput laut hingga tahun 2013 mendatang.
"Rumput laut yang juga merupakan komoditi unggulan dinas perikanan dan kelautan dan potensi lokal yang ada di beberapa daerah yang tersebar hampir di seluruh pesisir di Sulawesi Selatan. Salah satu potensi sumber daya alam pada wilayah perairan adalah potensi rumput laut," ujarnya.
Sementara itu Kepala Bidan Perikanan Budidaya dinas kelautan dan perikanan Sulawesi Selatan, yang di hubungi mengungkapkan, Kerja sama ini merupakan salah satu bentuk agar penambak rumput laut mudah mendapatkan dana segar untuk dapat meningkatkan produksi rumput laut. Dimana Sulsel yang saat ini merupakan salah satu daerah penghasil rumput laut terbesar di Nusantara.
Sulsel merupakan daerah percontohan sentra pengembangan rumput laut dunia. Hal itu didasari atas potensi luas dan keikutsertaan masyarakat dan pemerinta dalam mengembanghkan budidaya perikanan tersebut. " Kami juga menargetkan produiksi rumput laut di tahun 2011, sebanyak 900 ribu ton, atau sedikit mengalami peningkatan sekitar 6,7% dari jumlah produksi di tahun 2010 lalu.
"Untuk dapat mencapai target produksi tersebut, saat kami juga telah mengembangka Usaha Mina Pedesaan (PUMP). dengan sistem yang integrasi program revitalisasi serta pemberian bantuan sebesar RP 12 untuk pengemg terdiri dari 8 item budidaya,"tegasnya.
Sumber:www.ujungpandangekspres.com/Rabu, 04-05-2011
Jumat, 04 Maret 2011
RAPAT KERJA TEKNIS DITJEN PERIKANAN TANGKAP TAHUN 2011
Jumat, 04 Maret 2011 - 00:20:08 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan,
Fadel Muhammad saat membuka Rapat Teknis Ditjen Perikanan Tangkap di Hotel
Grand Clarion Makassar, Senin, 28 Februari 2011 mengatakan Pembangunan
Pelabuhan Perikanan Nasional (PPN) Untia terancam dihentikan. Penyebabnya,
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kesulitan membiayai proyek Rp 360
miliar tersebut. Dengan kondisi keuangan kementerian yang terbatas, Pelabuhan
Perikanan Nasional (PPN) Untia sulit dilanjutkan. Untuk tahun 2011 ini,
anggaran yang dialokasikan hanya Rp 4 miliar. Namun untuk perampungan
dibutuhkan anggaran minimal Rp 300 miliar.
Pelabuhan Untia yang dibangun
sejak tahun 2006 lalu dan ditargetkan rampung tahun 2011, sampai saat ini belum
terealisasi. Semula, infrastruktur perikanan itu diproyeksikan menelan anggaran
sekitar Rp 200 miliar, tetapi membengkak hingga 364 miliar. Padahal pelabuhan
ini mampu melayani bongkar muat sampai 200 kapal ikan tiap hari dengan muatan
150 ton. Selain aktivitas kapal, pelabuhan ini juga diharapkan menjadi lokasi
pabrik industri pengolahan atau pengalengan ikan, tempat pelelangan dan pabrik
lainnya. Dan juga, proyek yang berada di Kelurahan Untia Kecamatan Bringkanaya
ini diharapkan menjadi pintu ekspor produk perikanan dari Indonesia bagian
timur.
Menurut Fadel Muhammad, ada 2
opsi yang dapat dilakukan untuk melanjutkan proyek tersebut. Pertama,
mengundang investor swasta, baik nasional maupun asing untuk menanamkan modal
dalam proyek tersebut. Opsi kedua, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan
mengajukan permintaan dana khusus. Namun dana yang diberikan hanya berkisar Rp
40 miliar sampai Rp 50 miliar dan diperkirakan tidak akan mencukupi. Sebab,
anggaran pembangunan satu pelabuhan jumlahnya beragam, mulai dari Rp 10 miliar
hingga puluhan miliar. Untuk pembangunan Pelabuhan Perikanan Nasional Untia
tahun ini hanya disiapkan Rp 4 miliar dan Kementerian Kelautan dan Perikanan
tidak akan membangun pelabuhan baru karena pemerintah akan fokus pada
pembangunan beberapa pelabuhan besar, salah satunya di Bitung, Sulawesi Utara.
Pada tahun ini selain fokus pada
peningkatan kesejahteraan nelayan dengan membangun 1.000 unit kapal penangkapan
ikan berukuran diatas 30 gross ton hingga 2014 nanti, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga berencana
mengalihkan dana untuk pengadaan cold
storage di sentra-sentra produksi perikanan. Anggaran juga akan digunakan
untuk perbaikan pelabuhan yang sudah ada agar beroperasi maksimal dan akan
menaikkan target produksi ikan tangkap. Tahun 2010 lalu, produksi ikan tangkap nasional
5,38 juta ton.
Gubernur Sulawesi Selatan,
Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan, pembangunan
Pelabuhan Perikanan Nasional Untia sudah berjalan hampir tujuh tahun,
tapi hingga sekarang masih belum rampung juga, padahal Untia sangat penting
bagi nelayan dan perekonomian Sulawesi Selatan. Syahrul juga melanjutkan,
Sulawesi Selatan membutuhkan cold storage
atau alat pendingin untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan. Jika ada
mesin pendingin, daya tahan ikan bisa lebih lama, yang biasanya hanya 2 bulan
dengan mesin pendingin ikan bisa tahan sampai enam bulan.
Sementara itu, Kepala Dinas
Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Iskandar mengatakan tahun ini
Pelabuhan Perikanan Nasional Untia Makassar mendapat alokasi dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2011 sebesar Rp 20 miliar dan jika dana
tersebut cair maka pembangunan pelabuhan Untia akan berlanjut lagi tahun ini.
Meskipun dana yang dibutuhkan untuk Pelabuhan Perikanan Nasional Untia Makassar
senilai Rp 120 miliar. Seandainya dana tersebut ada, kemungkinan besar
pembangunan dermaga, jembatan dan lain-lain bisa selesai dalam waktu satu
tahun.
Nia (Selasa, 01 Maret 2011)
Sumber : http://www.sulsel.go.id
Sabtu, 22 Januari 2011
Syahrul: Kembalikan Kejayaan Udang Sulsel
Sabtu, 22 Januari 2011 00:51
MAKASSAR – GubernurSulsel Syahrul Yasin Limpo tahun ini berkomitmen
mengembalikan kejayaan Sulsel sebagai daerah penghasil udang terbesar di
Tanah Air.
Pernyataan ini dilontarkan Gubernur saat menerima kunjungan grup perusahaan ekspor impor asal Jepang Shirmp Guard Japan Co Ltd dan Khuyu Medical Co Ltd di Rujab Gubernur Sulsel siang kemarin. “Target tambak kami cukup besar dan bisa disegarkan dengan merebut kembali predikat sebagai daerah penghasil udang,” ungkap dia kemarin. Menurut Syahrul, beberapa tahun terakhir Sulsel mengembangkan jenis uang vaname, tapi kualitas serta keuntungan yang dihasilkan tak sebesar udang windu.
Karena itu, dia berharap bisa mengelola kembali udang windu. “Kami kerja sama dengan Jepang pada Agustus secara besar-besaran. Dua kabupaten, yakni Takalar dan Pinrang,akan kami jadikan daerah percontohan dan tidak menutup kemungkinan kabupaten lain,”ujar dia. Shirmp Guard Japan Co Ltd dan Khuyu Medical Co Ltd sebenarnya telah menjajaki Sulsel sejak tujuh tahun lalu dengan meneliti komoditas udang windu.
Meski demikian, mereka terpaksa hengkang akibat kebijakan Pemprov Sulsel untuk mengembangkan uang vaname sehingga komoditas udang windu di daerah ini semakin menurun dari tahun ke tahun. Karena itu, kedua perusahaan ini kembali menjajaki kerja sama dengan Pemprov untuk menggairahkan kembali komoditas uang windu yang pernah berjaya di Sulsel.
Apalagi,Jepang merupakan salah satu negara pengimpor udang windu asal Sulsel. “Sudah ada dua penelitian yang mereka lakukan, yakni antibodi bagi benur udang serta bibit pembersih penyakit di tambak udang. Sebagai importir terbesar udang,Jepang merasa risau karena udang di daerah ini terus mengalami penurunan produksi,” ungkap Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, yang memfasilitasi pertemuan ini. (SI-wahyudi)
Pernyataan ini dilontarkan Gubernur saat menerima kunjungan grup perusahaan ekspor impor asal Jepang Shirmp Guard Japan Co Ltd dan Khuyu Medical Co Ltd di Rujab Gubernur Sulsel siang kemarin. “Target tambak kami cukup besar dan bisa disegarkan dengan merebut kembali predikat sebagai daerah penghasil udang,” ungkap dia kemarin. Menurut Syahrul, beberapa tahun terakhir Sulsel mengembangkan jenis uang vaname, tapi kualitas serta keuntungan yang dihasilkan tak sebesar udang windu.
Karena itu, dia berharap bisa mengelola kembali udang windu. “Kami kerja sama dengan Jepang pada Agustus secara besar-besaran. Dua kabupaten, yakni Takalar dan Pinrang,akan kami jadikan daerah percontohan dan tidak menutup kemungkinan kabupaten lain,”ujar dia. Shirmp Guard Japan Co Ltd dan Khuyu Medical Co Ltd sebenarnya telah menjajaki Sulsel sejak tujuh tahun lalu dengan meneliti komoditas udang windu.
Meski demikian, mereka terpaksa hengkang akibat kebijakan Pemprov Sulsel untuk mengembangkan uang vaname sehingga komoditas udang windu di daerah ini semakin menurun dari tahun ke tahun. Karena itu, kedua perusahaan ini kembali menjajaki kerja sama dengan Pemprov untuk menggairahkan kembali komoditas uang windu yang pernah berjaya di Sulsel.
Apalagi,Jepang merupakan salah satu negara pengimpor udang windu asal Sulsel. “Sudah ada dua penelitian yang mereka lakukan, yakni antibodi bagi benur udang serta bibit pembersih penyakit di tambak udang. Sebagai importir terbesar udang,Jepang merasa risau karena udang di daerah ini terus mengalami penurunan produksi,” ungkap Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, yang memfasilitasi pertemuan ini. (SI-wahyudi)
Sumber : http://www.makassarterkini.com
Langganan:
Postingan (Atom)