Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 September 2011

Cargill akan Bangun Industri Kakao di Sulsel

Makassar (ANTARA News) - Sebuah perusahaan yang bergerak dalam industri pangan dunia Cargill akan membangun industri pengolahan biji kakao di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

"Kami sedang mengeksplorasi peluang investasi pengolahan kakao di Indonesia dan Sulsel menjadi komponen yang nyata," kata Managing Director Cargill Cocoa and Chocolate Jos De Loor di Makassar, Selasa, usai menemui Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo.

Ia memperkirakan jumlah investasi untuk membangun industri pengolahan yang akan difokuskan pada produksi kakao dalam bentuk bubuk, lemak dan cair itu berada di kisaran 100 juta dolar Amerika.

"Fokusnya adalah untuk pasar kita di Asia langsung dari Makassar. Kita akan memproduksi bubuk cokelat berkualitas tinggi dari industri pengolahan yang kita bangun nantinya,"jelasnya.

Kehadiran fasilitas pengolahan kakao di Sulsel ini nantinya akan memperkuat pasar di Asia karena peta perkembangan konsumsi kakao saat ini terkonsentrasi di wilayah Asia terutama untuk bubuk.  

Ia menambahkan, selama ini pihaknya telah memiliki dasar pasar di Asia tapi masih lebih banyak didukung oleh pasar Eropa dan Amerika.  

"Kita harapkan nanti mendapat dukungan bahan baku sekitar 65 ribu ton per tahun untuk industri yang baru," ujarnya.

Industri pengolahan kakao ini diharapkan beroperasi dalam dua tahun ke depan. Saat ini pihaknya masih melakukan eksplorasi termasuk mencari dan mempelajari lokasi.

"Belum diputuskan, tapi Makassar masih menjadi pilihan terbaik hingga saat ini," katanya yang juga mengharapkan dukungan pemerintah untuk mewujudkan rencana ini.

PT Cargill selama ini juga telah beroperasi di Kawasan Industri Makassar (Kima) dengan memproduksi pakan ternak menggunakan bahan baku jagung. Selain produk olahan kakao dan pakan ternak, perusahaan ini juga mengolah biji-bijian dan minyak nabati, gula serta minyak kelapa. (T.KR-RY/S016)

 Sumber : http://www.antara-sulawesiselatan.com
READ MORE - Cargill akan Bangun Industri Kakao di Sulsel

Jumat, 09 September 2011

Kirim Kentang, Dibalas Wisatawan

Jumat, 09-09-2011
Sulsel Tembus Pasar Singapura
MAKASSAR, UPEKS—Terobosan baru kembali dicatat Pemprov Sulsel. Kali ini, Sulsel bakal mengekspor kentang dan sayuran asal Kabupaten Gowa ke Singa-pura. Sebagai balasannya, Singapura akan mendrive warganya untuk berwisata ke Sulsel.
Hal itu terungkap dalam penandatanganan Memorandum of Collaboration (MoC) di bidang per-tanian oleh Pemprov Sulsel de-ngan Changi Group Singapura dan Garuda Indonesia Airlines, Kamis (8/9).
Penandatanganan di Baruga Sangiaseri tersebut dilakukan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Pelaksana Harian Direktur Pemasaran Garuda Indonesia Airlines Arief Wibowo dan Senior Advisor Changi Group Wong Woon Liong.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan, kerjasama ini dilakukan sebagai upaya untuk memajukan perekonomian Sulsel dengan berupaya menembus pasar China dan Thailand di Singapura.
“Kita harus bisa bersaing de-ngan komoditas-komoditas China dan Thailand di sana (Singapura). Makanya, kita juga harus berupaya untuk meningkatkan kualitas pertanian kita,” katanya.
Syahrul juga mengungkap, langkah kerjasama ini adalah bentuk Pemprov untuk membuka gate bagi para pengusaha di Sulsel untuk bisa melanjutkan kerjasama ini.
Untuk itu, Syahrul berharap agar seluruh dinas di Sulsel bisa lebih meningkatkan kinerjanya dalam upaya mengembangkan kerjasama tersebut.
“Kita coba melangkah. Kalau belum apa-apa kita sudah bilang gak bisa kau saingi China gak bisa kau saingi Thailand, ya gak melangkah namanya. Dari persaingan itu kita akan lahirkan kualitas-kualitas kita yang baik. Langkah pertama mungkin kita gak ada apa-apanya. Tapi saya yakin ini adalah pembelajaran bagi kita lah. Utamanya bagi pemerintah dan dinas-dinas lah untuk mencoba membuka gate. Sekali lagi bukan pemerintah yang menjual kesana, pemerintah mendorong pengusaha-pengusaha ambil bagian dan akhirnya pengusaha sendiri yang akan jalani. Kita cuma membuka gatenya kan,” jelasnya.
Dengan kerjasama itu, lanjut Syahrul, tingkat kunjungan wisatawan di Sulsel juga akan semakin bertambah. Pasalnya, dari kerjasama itu Pemprov berharap agar kunjungan wisatawan di Singapura yang mencapai 15 juta pertahun bisa diperoleh Sulsel minimal 2 persen dari jumlah tersebut.
Tidak hanya itu, ucap Syahrul, Singapura merupakan pintu gerbang dari segala sektor untuk Asia, baik dari sektor perdagangan hingga pariwisata.
“Dari 15 juta kunjungan wisatawan di Singapura, 2 persennya saja kita sudah bisa menguntungkan bagi kita,” ucapnya.
Untuk itu, Syahrul berharap agar destinasi pariwisata di Sulsel bisa di tingkatkan. Bahkan, Pemprov Sulsel akan menyiapkan paket-paket kunjungan wisata di daerah ini untuk mendukung kerjasama itu. Selain pulau-pulau, Sulsel juga punya banyak destinasi wisata, salah satunya Trans Studio Theme Park.
Termasuk, kata Syahrul, dengan menyiapkan satu pulau yang representatif dari tiga ratusan pulau yang ada di Sulsel. Selain itu, pemprov meminta kepada pemerintah kabupaten/kota untuk menyiapkan fasilitas pariwisata, mulai dari transportasi hingga penginapan.
“Selain kita siapkan pulau untuk wisatawan dari Singapura dalam paket wisata, saya juga meminta kepada bupati/ wali kota untuk menyiapkan fasilitas, mulai dari transportasi hingga hotel bagi para wisatawan,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Harian Direktur Pemasaran Garuda Indonesia Airlines Arief Wibowo menjelaskan, kerjasama yang dilakukan ini merupakan bagian dari pengembangan Garuda ke depan karena Sulsel adalah wilayah strategis di Indonesia Timur, terutama dalam meningkatkan jumlah flight bagi Garuda.
Untuk itu, lanjut Arief, pihak Garuda dapat berpastisipasi aktif dalam membantu kerjasama antara pemprov Sulsel dan Changi Group Singapura.
“Kerjasama antara Pemprov Sulsel dan Changi ini dapat mengembangkan Garuda ke depan. Apalagi di Indonesia, Sulsel merupakan wilayah strategi di Indonesia Timur,” ujarnya.
Hal yang sama diungkapkan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulsel, Irman Yasin Limpo. Menurutnya BKPMD sebagai fasilitator sangat menyambut baik kerjasama itu. Apalagi, kerjasama itu sudah sejak lama menjadi pembicaraan antara Changi Group, Pemprov Sulsel dan pihak Garuda sejak pelaksanaan penerbangan perdana Makassar-Singapura 1 Juni lalu.
“Kerjasama ini adalah hasil pembicaraan kita dengan executive President Changi Group yang sudah sejak lama kita bicarakan. Salah satunya juga soal peningkatan penumpang lalu lintas udara,” katanya saat memberikan sambutan pada acara penandatanganan itu.
Selain itu, lanjut Irman, kerjasama itu dilakukan sebagai bentuk komitmen kedua belah pihak antara Pemprov Sulsel dan Changi Group untuk saling menguntungkan, terutama bagi masyarakat Sulsel.
Teknik pelaksanaan dari kerjasama itu, jelas Irman, masing-masing pihak akan menjalankan tugasnya. Misalnya, untuk Changi, substansinya adalah untuk mengoperate wisata Sulsel di Singapura dan memudahkan komoditas Sulsel di negara Kepala Singa itu.
Sementara pihak Garuda, ucap Irman, akan menjadi falitator promosi pariwisata dan produk Sulsel, serta membuka trip Makassar-Singapura.
“Untuk Sulsel sendiri, kita akan menyiapkan komoditi andalan kita, seperti, kentang dan sayur mayur, untuk di ekspor ke Singapura,” jelasnya.
Soal target ekspor tersebut, Irman menjelaskan, akan dimulai September ini dengan pengiriman perdana kentang sebanyak 20 ton dan pada bulan-bulan berikutnya, Pemprov akan running dalam jumlah yang lebih banyak.
Sebelumnya, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menjelaskan, dari ekspor itu, Pemprov akan berupaya untuk bersaing dengan negara lain, seperti China dan Thailand.
“Kalau selama ini kita kirim sayur, ikan lewat laut. Kenapa tidak kita coba lewat kargo udara. Memang lebih mahal tapi kan lebih segar kalau lewat kargo udara. Kalau produk kita segar, kita harus berani melawan negara lain seperti, China dan Thailand,” tutupnya. 
Sumber : http://www.ujungpandangekspres.com
READ MORE - Kirim Kentang, Dibalas Wisatawan

Kamis, 08 September 2011

SYL MoU Dengan Changi Group Singapura

  Kamis, 08 September 2011 14:15   
Syahrul Yasin LimpoSyahrul Yasin Limpo
Makassar, KM-- Penandatangan MoU Pemprov Sulsel dengan Changi Airport Group Singapura dan PT Garuda Indonesia berjalan lancar tadi siang, Kamis (8/9) di Rujab Gubernur Sulsel. Syahrul mewakili Pemprov Sulsel, sementara Changi Airport Group diwakili Senior Advisor Wong Woon Liong.

Penandatangan MoU antara Sulsel dengan Singapura dalam hal kerjasama penerbangan. Nantinya Penerbangan dari Makassar dapat langsung menuju Singapura begitu juga sebaliknya.
 
Sebelum melakukan penandatanganan, Syahrul terlebih dahulu menyampaikan sambutan berisi gambaran potensi yang dimiliki Sulawesi Selatan. Menurut Syahrul potensi wisata Sulsel beraneka ragam dan menarik. Mulai dari objek wisata Benteng Roterdam, Bantimurung serta Tana Toraja dan lain-lain.

Terlihat Senior Advisor Changi Airport Group Wong Woon Liong beberapa kali tersenyum dan bertepuk tangan saat Syahrul memaparkan potensi Sulsel yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris.

Syahrul juga berjanji akan terus melakukan perbaikan fasilitas yang ada di Sulsel, mulai dari sarana dan prasarana, keamanan serta makanan.

"Kami akan terus melakukan perbaikan. Agar yang datang ke Sulsel tidak menyesal dan mau kembali," kata SYL.

Sementara itu, Wong Woon Liong dalam sambutannya mengatakan bahwa pemilihan kerjasama karena Sulsel dinilai memiliki letak yang strategis dan merupakan pasar yang penting. Wong juga berharap nantinya kerjasama dengan Sulsel dapat berjalan lancar terutama dalam kegiatan bisnis dan pariwisata.

Penandatangan juga dihadiri, Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang, Ketua DPRD Sulsel M Roem, jajaran Muspida serta perwakilan Bupati dan Walikota se Sulsel. [KM]


Sumber : http://www.kabarmakassar.com
READ MORE - SYL MoU Dengan Changi Group Singapura

Jumat, 02 September 2011

1.000 Unit Lebih Mobil Terjual

Jumat, 02 September 2011 | 01:12:18 WITA | 262 HITS

MAKASSAR, FAJAR -- Perputaran uang di Sulsel selama Ramadan atau menjelang lebaran tahun ini, cukup besar. Mayoritas terserap untuk pembelian kendaraan khususnya roda empat (mobil).

Dalam road show FAJAR ke Gubernuran, kemarin,   Syahrul Yasin Limpo mengatakan, sebanyak 1.000 unit lebih mobil terjual jelang lebaran. Khusus produk Toyota, terjual 1.000 unit mobil.

Kemudian produk Suzuki sebelum lebaran terjual 254 unit. Lalu mobil jenis Ford mencapai 54 unit. Menurut SYL, dengan banyaknya kendaraan yang laku terjual sebelum lebaran membuktikan pendapatan masyarakat cukup meningkat.

"Pertumbuhan ekonomi kita di Sulsel juga meningkat. Ini bukan omong kosong belaka, tetapi memang faktanya seperti itu," kata Syahrul.

Selain kendaraan, lanjut SYL, penjualan pakaian juga meningkat drastis sepekan jelang lebaran. Syahrul mengaku sempat mengecek di Pasar Butung lima hari sebelum Idulfitri 1432 Hijriah, barang yang tersisa hanyalah ukuran extra larger itupun sedikit saja.

Kebanyakan diborong oleh pedagang dari daerah. "Umumnya dibeli pedagang pakaian dari Palopo. Bahkan, ada yang memborong sampai lima bal dan nilainya mencapai Rp750 juta. Itu baru Palopo, bagaimana dengan daerah lain," beber Syahrul.

Kondisi tersebut, lanjut Syahrul, tidak terlepas dari peran serta Harian FAJAR yang selalu memberitakan hal-hal yang positif mengenai kondisi daerah. Makanya, dia berharap situasi kondusif dan keamanan ini terus terjaga.

"Menperindag juga menyatakan kalau kita (Sulsel, red) nomor satu dalam penjualan sembako terbaik. Terus terang, saya tidak peduli tentang Pemilukada karena harga diriku sudah tinggi. Saya hanya mau lihat negeri ini baik dan tidak layak miskin," tegas Syahrul.

Pada kesempatan ini, Syahrul juga  menyebut pada 19 September 2011 nanti akan meluncurkan mobil termurah bernama Muko (maju mako) dan siap bekerja sama Harian FAJAR. Guna menunjang hal itu, pihaknya telah membeli sebanyak 717 unit muko. "Semuanya demi kepentingan masyarakat. Kalau saya salah, tidak mengapa dikritik," tandasnya.

Apa yang diutarakan SYL tersebut, dibenarkan Marcom Section Head Kalla Toyota, Yudi G. Menurut dia, selama Ramadan tahun ini penjualan produk Toyota memang meningkat cukup signifikan.

"Kalau hasil rekapan selama Agustus 2011 ini, penjualan produk Toyota mencapai 1.300 unit untuk semua tipe," sebut Yudi,  malam tadi.

Dari jumlah itu, lanjut Yudi, tipe yang banyak terjual adalah Avanza, Kijang Innova, dan Toyota Rush. Pembeli terbesar berada di Makassar dan sebagian di daerah-daerah.

"Umumnya pembelian dengan cara kredit. Penjualan beberapa tipe memang melonjak khusus untuk mobil keluarga, karena kebutuhan selama hari raya. Selain itu,  mobil komersial seperti pick up juga cukup tinggi," papar Yudi.

Sementara dari pihak Suzuki, belum berhasil diperoleh keterangan terkait angka pasti penjualan mobil. Dua bagian pemasaran yang dihubungi malam tadi, telepon selulernya dalam posisi tidak aktif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, pertumbuhan ekonomi Sulsel pada semester pertama 2011 mencapai 8,00 persen dibanding semester pertama 2010. Sementara jika dihitung secara triwulanan, pergerakan triwulan kedua 2011 dibanding triwulan kedua 2010 cukup tinggi, 8,62 persen.

Data BPS sebagaimana diuraikan Kepala BPS, Bambang Suprijanto menyebutkan, perekonomian Sulsel pada triwulan kedua 2011, diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), atas dasar harga berlaku sebesar Rp34.615 miliar, sedangkan atas dasar harga konstan 2000, sebesar Rp13.941,3 miliar.

Pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan kedua 2011, dibandingkan triwulan satu lalu (q to q), meningkat 6,42 persen. Pertumbuhan q to q ini, terjadi pada semua sektor ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi dihasilkan sektor pertambangan sebesar 11,95 persen.

Bila dibandingkan triwulan yang sama 2010 atau yoy, PDRB Sulsel pada triwulan kedua kata Bambang, mengalami pertumbuhan 8,62 persen dengan pertumbuhan tertinggi di sektor keuangan sebesar 13,56 persen. Secara kulmulatif semester pertama 2011 (c to c), PDRB Sulsel naik 8,00 persen, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor perdagangan sebesar 12,12 persen.

Sementara secara triwulanan, sumber pertumbuhan ekonomi triwulan kedua 2011, terbesar adalah pertanian, 3,03 persen, sedangkan sumber pertumbuhan ekonomi secara yoy, penyumbang terbesar juga pertanian dengan 2,83 persen, begitu juga secara kumulati semester pertama 2011 (c to c), terbesar di sektor pertanian sebesar 2,99 persen.

Ditinjau dari sisi penggunaan kata Bambang, pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan kedua 2011 dibandingkan triwulan sebelumnya (q to q), didorong kenaikan ekspor yang tumbuh 16,84 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 5,53 persen, konsumsi pemerintah sebesar 3,65 persenm konsumsi rumah tangga dan nirlaba sebesar 1,42 persen.

Pertumbuhan PDRB triuwulan kedua 2011, lanjut Bambang, ditopang pertumbuhan PMTB 7,27 persen, pengeluaran konsumsi rumah tangga dan nirlaba 5,13 persen, dan konponen pengeluaran pemerintah sebesar 0,19 persen. (ram/sil)


Sumber : http://www.fajar.co.id
READ MORE - 1.000 Unit Lebih Mobil Terjual

Sabtu, 27 Agustus 2011

Pendapatan Sulsel Tembus Rp3,09 Triliun

Sabtu, 27 Agustus 2011


MAKASSAR--MICOM: Pendapatan Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2011 menembus Rp3,09 triliun setelah mengalami penambahan pada perubahan anggaran sebesar Rp194 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah pokok yang hanya Rp2,9 triliun. 

Penandatanganan nota kesepahaman Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD Perubahan 2011 dilakukan bersama Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan empat pimpinan DPRD Sulsel di Makassar, Jumat (26/8).

APBD tersebut paling besar bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp1,93 triliun diikuti dana perimbangan Rp1,09 trilun, dan pendapatan lain-lain yang sah Rp44 miliar.  Pajak Daerah dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor memberi Kontribusi paling besar tehadap PAD Sulsel yakni Rp1,72 triliun, retribusi daerah Rp111 miliar, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan Rp62 miliar, serta lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp61 miliar.

Khusus untuk APBD perubahan 2011, bersumber dari pajak daerah Rp178 miliar, retribusi daerah Rp117 juta, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan Rp934 juta, serta lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp2,2 miliar. Sementara, untuk sektor belanja daerah dalam KUA/PPAS APBD 2011 setelah perubahan ditetapkan Rp3,33 triliun atau bertambah dari APBD pokok yang hanya Rp3 triliun.

Alokasi belanja daerah meliputi belanja tidak langsung Rp1,98 triliun (bertambah Rp144 miliar) meliputi, belanja pegawai Rp624 miliar, belanja bunga Rp150 juta, belanja hibah Rp102 miliar (bertambah Rp14 miliar).

Selain itu, belanja bantuan sosial Rp33 miliar (bertambah Rp13 miliar), belanja bagi hasil ke provinsi dan kabupaten/kota Rp707 miliar (bertambah Rp73 miliar), belanja bantuan keuangan kepada kabupaten/kota Rp490 miliar (bertambah Rp30 miliar), serta belanja tidak terduga Rp27 miliar (bertambah Rp12 miliar).

Sedangkan, untuk belanja langsung atau belanja pembangunan sebesar Rp1,38 triliun atau mengalami penambahan dari Rp1,15 triliun di APBD pokok. Belanja langsung pada APBD pokok meliputi, belanja pegawai Rp140 miliar, belanja barang dan jasa Rp596 miliar, dan belanja modal Rp421 miliar.

Syahrul Yasin Limpo dan semua Fraksi di DPRD mengapresiasi tingginya APBD Sulsel 2011, khususnya dari sektor PAD yang mampu menyumbangkan belanja daerah lebih dari 50 persen.

Gubernur mengatakan, meski masih jauh di bawah beberapa provinsi di Indonesia, khususnya di Jawa, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, namun alokasi APBD Sulsel dianggap jauh lebih efektif dibanding daerah tersebut. Terbukti pertumbuhan ekonomi Sulsel saat ini tertinggi di Indonesia yakni di atas sembilan persen. (Ant/OL-04) 


Sumber : http://www.mediaindonesia.com
READ MORE - Pendapatan Sulsel Tembus Rp3,09 Triliun

Rabu, 17 Agustus 2011

DPRD Sulsel Setuju Ekspor Beras ke Korsel

Tribun Timur - Rabu, 17 Agustus 2011 21:23 WITA
|


MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (PRD)  Sulawesi Selatan mendukung penuh rencana pemerintah provinsi Sulsel  melakukan ekspor 50.000 ton beras ke Korea Selatan pada 2011.

Ketua Komisi B Bidang Ekonomi DPRD Sulsel, Yusa Rasyid Ali di Makassar, Rabu mengatakan, DPRD dan pemerintah pusat harus mendukung penuh ekspor yang dimulai setelah lebaran Idul Fitri, karena memberikan pendapatan besar bagi negara khususnya Sulsel.
  
"Ini hal yang positif, karena kita punya kuota yang cukup. Tentunya kita dapat devisa lebih, dari harga jual yang lebih tinggi," katanya.
  
Menurut politisi Demokrat ini, dari over stok beras yang dicapai Sulsel, harusnya ada timbal-balik bagi kesejahteraan masyarakatnya melalui harga jual tinggi ke luar negeri.
  
Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo menyatakan, Kementrian Pertanian sudah memberikan izin kepada Pemprov Sulsel mengekspor beras  50.000 ton dari 200.000 ton yang diusulkan.

"Kita dapat izin ekspor tapi sangat terbatas dan dengan syarat-syarat yang ketat. Bagi saya syarat itu atau apapun, yang penting kita coba membuka ekspor," ujarnya.
  
Menurut dia, meski rencana ekspor beras varietas khusus (premium) 200.000 ton mendapat penolakan pusat, namun Sulsel masih terus mencoba karena telah mengkontribusi sebanyak dua juta ton.
  
Dengan ekspor, kata Syahrul, daerah akan memiliki pengalaman lain dan petani akan terangsang untuk terus berkembang.
  
Terkait impor beras yang masih dilakukan pemerintah Indonesia, Syahrul mengatakan itu hal yang lain.
  
"Itu sebuah kebijakan yang penting tidak masuk Sulsel karena kita cukup. Bukakan juga pintu bagi saya untuk mengantarpulaukan," katanya.
  
Namun demikian, ia berharap kebijakan impor tersebut tidak membuat Badan Urusan Logistik (Bulog) menjadi seenaknya dengan tidak membeli produksi petani.
  
Sulsel, menargetkan, surplus beras hingga 2,1 juta ton pada 2011, naik 100.000 ton dari surplus dua juta ton yang telah dicapai 2009 dan 2010.(*/tribun-timur.com)
 
Sumber : http://makassar.tribunnews.com
READ MORE - DPRD Sulsel Setuju Ekspor Beras ke Korsel

Senin, 15 Agustus 2011

Sulsel Jajaki Peluang Ekspor Beras

Senin, 15 Agustus 2011
MAKASSAR, FAJAR -- Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan saat ini gencar melakukan terobosan ekonomi ke luar negeri. Salah satunya, menjajaki peluang ekspor beras, mengingat daerah ini merupakan salah satu lumbung beras nasional.

Demikian diungkapkan Wakil Gubernur Provinsil Sulsel, Agus Arifin Nu'mang, di sela-sela acara buka puasa Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel, dan Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) di Hotel Sahid malam tadi.

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Kadin yang juga Ketua Gapensi Sulsel, Zulkarnain Arief, serta Analis Madya Bank Indonesia Makassar, Amiruddin. Juga puluhan pengusaha konstruksi yang tergabung di Gapensi dan Kadin.

Agus mengatakan, Gubernur Sulsel, H Syahrul Yasin Limpo baru-baru ini di Jakarta telah menjajaki peluang ekspor beras ke beberapa negara, termasuk ke Korea. Sebuah kebanggaan juga kata Agus, karena pihak Pemprov Sulsel bersama Kadin, telah berhasil memblokade sehingga beras impor tidak masuk ke Sulsel.

Yang harus dibenahi ke depan sebut Agus adalah infrastruktur jalan, sehingga ekonomi bisa bergerak. Namun itu kata Agus, tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, karena APBN sangat kecil. Jadi kata dia, perlu campur tangan dari pengusaha.

Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 8,7 persen kata Agus, diharapkan ke depan bersama Kadin bisa bertumbuh menjadi dua digit. "Kita berharap kadin tetap menjadi mitra bisnis pemerintah, kita harapkan bisa tumbuh dua digit. Kan tinggal 1,3 persen," sebutnya.

Buka puasa bersama Kadin dan Gapensi, kemarin digelar bersama tiga panti asuhan. Ketua Gapensi Kota Makassar, Irwan Intje mengungkapkan, kegiatan seperti itu rutin dilakukan setiap tahun, namun, baru kali ini dilakukan secara besar-besaran. (asw/upi)

Sumber : http://www.fajar.co.id
READ MORE - Sulsel Jajaki Peluang Ekspor Beras

Rabu, 10 Agustus 2011

Akhirnya, Sulsel Ekspor Beras

Rabu, 10-08-2011
Pemerintah Pusat Beri Kuota 50 Ribu Ton
MAKASSAR, Upeks—Akhirnya, keinginan Pemprov Sulsel untuk melakukan ekspor beras terwujud.Pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan telah menyetujui rencana ekspor beras asal Sulsel.
Menteri Perdagangan, Marie Elka Pangestu, Selasa (9/8) kemarin mengatakan, rencana tersebut telah mendapat lampu hijau dari pemerintah pusat.
“Itu tergantung permintaan. Intinya telah disetujui. Kita tinggal menunggu saja, permintaan Sulsel uintuk itu. Berapa jumlahnya, jenisnya dan ekspornya berapa, pembelinya siapa. Jenisnya yang dibolehkan kan hanya beras premium,” jelas Elka.
Di tempat yang sama Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Sulsel siap melakukan ekspor beras itu. Bahkan stok beras Sulsel yang siap diekspor melebihi jumlah yang diperbolehkan pemerintah pusat.
“Pusat hanya memperbolehkan kita mengeskpor maksimal Rp 50 ribu ton. Padahal Sulsel bisa mengekspor lebih daripada itu bahkan bisa 100 ton. Dan ekspor itu juga hanya sebatas beras premium,” jelasnya.
Disambut Baik
Rencana ekspor beras itu mendapat sambutan baik dari Kementerian Pertanian sebab dinilai akan memberikan keuntungan bagi para petani.
“Tentu saja, beras premium kan bagus ya, karena harganya sangat tinggi. Apalagi mau di ekspor ke Korea Selatan. Dengan harga yang tinggi, tentu saja petani akan mendapatkan keuntungan lebih banyak,” kata Menteri Pertanian Suswono, usai rapat koordinator ASEAN Fair di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (8/8).
Pemerintah, lanjut Suswono, memperbolehkan ekspor beras premium dari Pemda Sulsel sepanjang stok beras aman dan tidak mengganggu kebutuhan dalam negeri.
“Permintaannya 200 ribu ton. Tapi, kita sudah setujui dalam rapat Menteri Koordinator bidang Perekonomian hanya 50 ribu ton. Kalau memang mereka betul-betul ekspor, ya silakan,” ungkap Mentan.
Sebelumnya, Suswono menjelaskan, jenis dari beras yang akan diekspor tersebut ialah aromatik lokal dengan kualitas terbaik. Dengan kenyataan ini, Sulsel berpotensi tidak hanya menyuplai untuk dalam negeri, namun juga luar negeri.
Terkendala Aturan
Selain itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga mengungkapkan, Pemprov Sulsel mengajukan permohonan untuk ekspor beras premium ke Korea Selatan karena ada permintaan beras dari Negeri Gingseng itu sebanyak 200 ribu ton.
Namun, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Deddy Saleh, beberapa waktu lalu mengatakan, hal itu belum dapat terealisasi karena masih terkendala aturan di Kementerian Perdagangan karena pihak Kemendag baru melakukan rapat pertama terkait hal itu. “Belum ada, rekomendasi saja belum ada, belum,” ungkapnya pekan lalu.
Menurut Deddy, perusahaan yang bisa mengekspor beras adalah perusahaan eksportir umum yang memang berkeinginan melakukan kegiatan ekspor beras premium. “Eksportir terdaftar ya perusahaannya,” tuturnya.
Stok Aman
Sementara itu, Menteri Perdagangan mengatakan, stok beras secara nasional saat ini mencukupi hinga akhir tahun. Begitu pun halnya dengan Sulsel.
Mengenai harga, dia mengatakan di pasaran saat ini masih stabil, bahkan cenderung ada penurunan harga. “Saya rasa keadaan aman meskipun ada kenaikan harga menjelang puasa dan menjelang lebaran. Itu karena wajar karena tingginya permintaan,” jelasnya. 
Sumber : http://www.ujungpandangekspres.com
READ MORE - Akhirnya, Sulsel Ekspor Beras

Selasa, 09 Agustus 2011

Ekonomi Sulsel Terbaik

Selasa, 09-08-2011



Bisnis Keuangan dan Properti Paling Untung

MAKASSAR, Upeks—Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi Sulsel terbaik di antara 33 provinsi di Indonesia pada triwulan II-2011.
Bisnis keuangan dan properti disebut sebagai usaha yang paling menguntungkan pada periode ini.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Bambang Suprijanto, Senin (8/8), berdasarkan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Nasional pada triwulan II-2011 mencapai 106,36 yang artinya kondisi ekonomi konsumen meningkat dari triwulan sebelumnya dengan nilai ITK sebesar 102,42.
Provinsi yang memiliki nilai ITK tertinggi adalah Sulsel dengan nilai ITK sebesar 114,57. Sebaliknya, Nusa Tenggara Timur tercatat memiliki nilai ITK terendah, yaitu sebesar 103,55.
Peningkatan kondisi bisnis tertinggi terjadi pada sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan nilai ITB sebesar 108,6. Sedangkan sektor pertambangan dan penggalian mengalami peningkatan bisnis terendah dengan nilai ITB sebesar 104,53.
“Kondisi bisnis pada triwulan II-2011 meningkat karena adanya peningkatan pendapatan usaha, penggunaan kapasitas produksi, dan rata-rata jam kerja,” ujarnya.
Menurutnya, sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan mengalami peningkatan pendapatan usaha tertinggi dan peningkatan terendah adalah sektor listrik, gas, dan air bersih.
Peningkatan kapasitas produksi tertinggi terjadi pada sektor listrik, gas, dan air bersih, sedangkan peningkatan rata-rata jam kerja tertinggi terjadi pada sektor konstruksi. Ia juga mengatakan, nilai ITK triwulan III-2011 sebesar 108,51.
“Berarti kondisi bisnis diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan II-2011,” ungkapnya.
Semua sektor ekonomi pada triwulan III-2011 diperkirakan mengalami peningkatan kondisi bisnis. Sektor pengangkutan dan komunikasi diprediksi mengalami peningkatan bisnis tertinggi, sementara sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan mengalami peningkatan bisnis terendah.
Pemimpin Kantor Bank Indonesia, Lambok A Siahaan kepada Upeks, Senin (8/8) kemarin sore, pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua ini memang mengalami perbaikan, itu karena trend pertumbuhan ekonomi di Sulsel ditopang dengan realisasi proyek pemerintah berjalan baik dan recovery sector pertambangan yang mengalami perbaikan pula.
Sesuai Bank Dunia
Sementara itu Kepala Asisten II Sistem Ekonomi dan Pembangunan Prov Sulsel, Amal Natsir yang dimintai tanggapannya terkait pencapaian itu mengatakan, keberhasilan Sulsel mencapai predikat pertumbuhan ekonomi terbaik di Indonesia berdasar (ITK) atau Index Consumer Confidence (ICC) karena Sulsel mampu memenuhi kriteria pertumbuhan yang digariskan Bank Dunia. Kriteria tersebut meliputi sektor produktif, yang meliputi bidang pertanian, industri, perdagangan, hotel dan restaurant, jasa pemerintahan dan jasa swasta.
Menurutnya, dengan momentum tersebut, Sulsel berpotensi menembus pertumbuhan 2 digit lebih tinggi pada triwulan ketiga.
Menurut dia saat ini Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di bidang pertanian 29,30%, industri 17%, dan perdagangan 13%.
“Itu artinya Sulsel masuk pada sektor modern. Agar prestasi ini dapat dipertahankan, Pemprov ke depan akan mengembangkan sektor agro bisnis. Yakni mengembangkan mesin pertanian di daerah penghasil agro industri,” ujar Amal Natsir, Senin (8/8).
Ada beberapa daerah yang mendukung capaian tersebut. Seperti Bone, Soppeng, Wajo (Bosowa) dan Sidrap, Pinrang Luwu (Sipilu). Menurutnya, daerah tersebut memiliki potensi.
“Pertumbuhan ekonomi kita saat ini berada pada posisi 8,18%. Kedepan bisa naik dua digit, sehingga bisa mencapai 10,18 persen,” pungkasnya.
Dikonfirmasi terpisah Ketua Komisi B DPRD Makassar Irwan ST mengatakan hasil kesimpulan BI dan BPS bahwa perekonomian Sulsel merupakan yang terbaik di Indonesia adalah hal yang wajar. Sebab, pertumbuhan ekonomi Sulsel 3 tahun terakhir mengalami peningkatan.
“Hal ini patut diapresiasi, hal ini diperoleh karena Pemprov betul-betul bekerja, koordinasi kebijakan antara Pemprov dengan Pemkot dan pemerintah kabupaten,” pungkasnya. 
Sumber : http://www.ujungpandangekspres.com
READ MORE - Ekonomi Sulsel Terbaik

Senin, 08 Agustus 2011

Sulsel Siap Ekspor Beras 100 Ribu Ton

07/08/2011


MAKASSAR, CAKRAWALA ONLINE — Produksi beras Sulsel benar-benar melimpah. Pada saat pemerintah pusat mengimpor 500 ribu ton beras dari Vietnam, Pemprov Sulsel bersama Jawa Timur, dan Jawa Barat justru diberikan kuota mengekspor beras masing-masing 50 ribu ton.
Dibukanya kuota terbatas tersebut, disikapi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) dengan menyiapkan 100 ribu ton beras premium. “Tahun ini kita targetkan surplus 2,1 juta ton dengan kualitas yang baik. Kita coba tingkatkan lebih kuat untuk menambah kapasitas 100 ribu ton,” kata Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Jumat, 5 Agustus.
Tahap pertama ekspor dengan tujuan Korea Selatan. Tawaran dari pemerintah Korsel paling lambat September atau panen kedua tahun ini sudah harus terkirim.
Gubernur mengatakan, penambahan kapasitas produksi beras ekspor hingga 100 ribu ton tersebut sengaja dilakukan untuk menangkap kesempatan jika sewaktu-waktu ada permintaan negara lain. “Kita dapat izin ekspor tapi sangat terbatas dan dengan syarat-syarat ketat. Bagi saya syarat itu atau apa pun yang penting kita coba membuka ekspor,” ujarnya menanggapi kuota ekspor beras 50 ribu ton dari Kementerian Pertanian.
Menurutnya, secara nasional ekspor beras, resisten. Namun, tak bisa juga dilarang karena Sulsel telah mengkontribusi sebanyak 2 juta ton pada 2010 lalu. “Tahun lalu masih dilarang. Tahun ini, kita berusaha terebos. Saya patah hati juga dilarang padahal pikiran saya adalah membangun dinamika. Jangan sudah 10-20 tahun rakyat cuma diajarkan untuk mengisi kepentingan nasional tapi tidak mencoba membangun dinamika-dinamika atau keluar dari kotak,” jelasnya.
Mengenai kebijakan impor beras pemerintah, Syahrul meyakini, pemerintah pusat memiliki hitungan matang. “Itu sebuah kebijakan yang penting beras impor tidak masuk Sulsel karena di sini stok kita cukup. Bahkan Sulsel mensuplai beras ke 14 provinsi di KTI,” katanya.
Kementerian Pertanian memberikan izin ekspor beras sebanyak 50 ribu ton dari 200 ribu ton yang diusulkan oleh Pemprov Sulsel. Varietas khusus yang diizinkan untuk diekspor langsung adalah jenis beras super dengan menggunakan pupuk organik.
Pada 2009, Sulsel sempat memperoleh izin ekspor beras dari pemerintah pusat 100 ribu ton. Namun izin tersebut ditangguhkan karena pertimbangan kondisi cuaca yang tak menentu dan perkiraan krisis pangan saat itu.
Peta produksi beras nasional rata-rata 5,1 ton per hektare dan Sulsel hampir mencapai angka tersebut bahkan dengan infrastruktur yang tak selengkap di Jawa, Sulsel, menargetkan, produksi beras surplus 2,1 juta tahun ini, dari surplus dua juta ton yang telah dicapai selama dua tahun terakhir.
Pakar pertanian Sulsel Prof Dr Ambo Ala, MSi berpendapat kuota ekspor yang diberikan pemerintah pusat kepada Sulsel, merupakan kesempatan emas. Namun, dia mengingatkan kesempatan itu tidak serta-merta dilakukan tanpa memperhatikan kepentingan nasional dan regional.
Ambo Ala mengakui, kualitas beras ekspor harus berkualitas premium. Itu pun setelah melihat situasi perberasan nasional yang dianggap aman.
Matan Dekan Fakultas Pertanian Unhas ini, lebih lanjut mengatakan, kebijakan ekspor ini, sifatnya insidentil, tidak boleh terus-menerus tanpa memperhatikan ketersediaan stok nasional. “Mengapa ada impor lalu kita mengekspor. Jawabannya karena impor itu sebenarnya tak ada kaitan dengan kemampuan produksi. Pemerintah melakukan impor beras karena Perum Bulog sebagai operator tak memiliki stok yang cukup. Tapi beras ditingkat petani cukup, hanya tak mampu diserap oleh Bulog,” katanya.(Andas)

Sumber :  http://cakrawalainterprize.com
READ MORE - Sulsel Siap Ekspor Beras 100 Ribu Ton

Sabtu, 30 Juli 2011

Taiwan Akan Bangun Pabrik Baja di Sulsel

Sabtu, 30 Juli 2011 06:43 WIB
Metrotvnews.com, Makassar: Taiwan berencana membangun pabrik baja di Indonesia. Hal itu terungkap dalam pertemukan perusahaan raksasa baja dari negara tersebut dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk menjajaki pembangunan industri di Kabupaten Luwu.

Duta Besar Taiwan untuk Indonesia Andrew Hsia di Makassar, Jumat (29/7), usai menemui Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo mengatakan United Group adalah perusahaan baja terbaik dan terbesar dari Taiwan dan berencana melakukan investasi di Sulsel.

"Ini merupakan kunjungan pertama dan dipastikan perusahaan pengolahan mineral baja tersebut akan kembali untuk melakukan penjajakan berikutnya," katanya.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulsel Amal Natsir yang mendampingi gubernur dalam pertemuan, mengatakan United Group berencana membangun industri baja dengan total nilai investasi sebesar $210 juta. Pemprov mengarahkan pembangunan industri tersebut dilakukan di Soroako, Kabupaten Luwu Timur dimana PT Internasional Nickel Indonesia Tbk (Inco) beroperasi.

"Kapasitas produksi perusahaan ini mencapai dua juta ton di Taiwan dan satu juta ton di Vietnam. Calon investor ini serius karena tidak menjual bahan baku tapi menggunakannya," jelasnya.

Ia menambahkan, rencana investasi perusahaan tersebut di Sulsel sangat tepat karena produksi nikel Inco per tahun mencapai 1,4 juta ton. "Kita harapkan mereka membuat tim kecil di sini sebagai perwakilan untuk memudahkan koordinasi. Mereka akan kembali pekan depan," katanya.(Ant/****)

Sumber : http://www.metrotvnews.com
READ MORE - Taiwan Akan Bangun Pabrik Baja di Sulsel

Jumat, 29 Juli 2011

Taiwan Jajaki Pembangunan Industri Baja di Sulsel

 
Tribun Timur - Jumat, 29 Juli 2011 22:22 WITA
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Kedutaan Besar Taiwan untuk Indonesia mempertemukan perusahaan raksasa baja dari negara tersebut dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam menjajaki pembangunan industri di Kabupaten Luwu.
 
Duta Besar Taiwan untuk Indonesia Andrew Hsia di Makassar, Jumat, usai menemui Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan, United Group adalah perusahaan baja terbaik dan terbesar dari Taiwan yang berencana melakukan investasi di Sulsel.
  
"Ini merupakan kunjungan pertama dan dipastikan perusahaan pengolahan mineral baja tersebut akan kembali untuk melakukan penjajakan berikutnya," katanya.
  
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulsel, Amal Natsir yang mendampingi gubernur dalam pertemuan, mengatakan, United Group berencana membangun industri baja dengan total nilai investasi sebesar 210 juta dolar Amerika.
  
Pemprov mengarahkan pembangunan industri tersebut dilakukan di Soroako, Kabupaten Luwu Timur dimana PT Internasional Nickel Indonesia Tbk (Inco) beroperasi.
 
"Kapasitas produksi perusahaan ini mencapai dua juta ton di Taiwan dan satu juta ton di Vietnam. Calon investor ini serius karena tidak menjual bahan baku tapi menggunakannya," jelasnya.
 
Ia menambahkan, rencana investasi perusahaan tersebut di Sulsel sangat tepat karena produksi nikel Inco per tahun mencapai 1,4 juta ton.
 
"Kita harapkan mereka membuat tim kecil di sini sebagai perwakilan untuk memudahkan koordinasi. Mereka akan kembali pekan depan," katanya.(*/tribun-tiur.com)     

Sumber : http://makassar.tribunnews.com
READ MORE - Taiwan Jajaki Pembangunan Industri Baja di Sulsel

Kamis, 28 Juli 2011

Sulsel Jadi Target Investasi Nestle

Image
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (kanan) saat Lokakarya Pengembangan Kakao Berkelanjutan di Indonesia oleh PT Nestle Indonesia di Hotel Clarion, Makassar, kemarin.

MAKASSAR – PT Nestle Indonesia menanamkan investasi sebesar USD4 juta untuk pengembangan kakao di Indonesia hingga tahun 2015.Presiden Direktur PT Nestle Indonesia Arshad Chaudry mengatakan, nilai investasi tersebut dapat meningkatkan produktivitas petani kakao Indonesia minimal 30%.

Meski belum dipastikan kemana saja dana tersebut digelontorkan, yang pasti Sulsel dan Sulbar menjadi prioritas Nestle dalam berinvestasi. Nestle menilai Sulsel dan Sulbar adalah provinsi penghasil kakao terbesar. “Kami yakin, untuk mencapai kesuksesan perusahaan dalam jangka panjang serta menciptakan manfaat bagi para pemegang saham,kami harus menciptakan manfaat bagi masyarakat luas.” ”Kami menamakan pendekatan ini sebagai creating shared value (menciptakan manfaat bersama) yang merupakan bagian dari strategi bisnis Nestle,” katanya dalam Lokakarya Pengembangan Kakao Berkelanjutan di Indonesia oleh PT Nestle Indonesia di Hotel Clarion,Makassar,kemarin.

Menurut dia,Nestle Indonesia meluncurkan program kemitraan publik dan swasta dengan sejumlah pemerintah kabupaten/ kota untuk pengembangan kakao di Indonesia. Program tersebut merupakan bagian dari program Nestle di seluruh dunia “The Cocoa Plan”. Program ini akan membantu petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tanamannya. Untuk membangun pabrik di Makassar belum direncanakan. Namun,kerja sama ini merupakan program jangka panjang. Lewat kemitraan “The Cocoa Plan”nanti,petani diharapkan meningkatkan produktivitas mereka sedikitnya 30% hingga tahun 2015 dari total investasi.

Lebih lanjut, Nestle berharap lokakarya ini menjadi sarana bagi pemerintah pusat dan daerah, asosiasi industri, dan semua pihak untuk berbagi ide dan pemikiran sehingga dapat menciptakan kemitraan saling menguntungkan. Dia juga mengatakan, untuk saat ini pihaknya akan fokus pada petani penghasil kakao. Lokakarya Pengembangan Kakao di Hotel Clarion kemarin dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan kakao berkelanjutan antara Nestle Indonesia dan PT Petra Foods Ltd, kerja sama Nestle dan Amajaro, dan kerja sama Nestle R&R Plant Sicience dan Puslit Kakao.

Pusat Kakao Dunia

Sementara itu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menyatakan kakao merupakan komoditas perkebunan yang menjadi masa depan dari Provinsi Sulsel dan Sulbar. Karena itu, Sulsel bisa menjadi produsen kakao terbesar di dunia. “Produksi kakao di Sulsel akhir tahun ini ditargetkan mencapai 300.000 ton. Saat ini telah mencapai 170.000 ton,” kata Syahrul.

Untuk mewujudkan target tersebut, akan dibuka lahan perkebunan baru seluas 100 hektare di 12 kabupaten.Ke-12 kabupaten ini nantinya yang menjadi percontohan produksi dari hulu ke hilir. Karena itu,tawaran kerja sama dari PT Nestle Indonesia sangat strategis bagi Sulsel menuju pusat kakao dunia. “Sulsel menuju pusat kakao terbesar di dunia.Kami merasa kehadiran Nestle sangat dibutuhkan dan saling membutuhkan.Daerah ini pantas untuk dijadikan strategi perdagangan baru oleh Nestle.

Apalagi penerbangan mendukung. Kalau Nestle konsen di kakao, kami akan tambah dengan Sulbar dan Sultra dan akan dibuat pabriknya di sini,” jelasnya. Menurut Syahrul, hubungan pemerintah dan swasta dalam pengembangan kakao adalah hubungan yang saling membutuhkan.“ Kami berharap tidak saling tunggu di muara tapi bersama dari hulu ke hilir. Nestle sangat tepat menempatkan strategi perdagangan dunia dari Sulsel,” katanya. Duta Besar Konfederasi Swiss untuk Indonesia Heinz Walker Nederkoom mengatakan, lokakarya ini perlu melibatkan semua pihak untuk kelanjutan hubungan antar kedua negara, tidak hanya di Pulau Jawa tapi juga di luar Jawa agar meluas di seluruh wilayah.

Dia mengatakan,sejak 2009,Indonesia adalah negara yang masuk dalam prioritas hubungan ekonomi dengan Swiss.“Lokakarya ini sangat cocok dengan kerja sama kami.Semoga menjadi pertemuan yang menguntungkan,” ujarnya. andi amriani


Sumber : http://www.seputar-indonesia.com


Thursday, 28 July 2011
READ MORE - Sulsel Jadi Target Investasi Nestle

Rabu, 27 Juli 2011

Gubernur : Kakao Masa Depan Sulsel dan Sulbar

Makassar (ANTARA News) - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo menyatakan kakao merupakan komoditas perkebunan yang menjadi masa depan dari Provinsi Sulsel dan Sulawesi Barat.

"Kakao adalah masa depan Sulsel dan Sulbar. Kami bertekad menjadi produsen kakao terbesar di dunia," katanya di Makassar, Rabu.

Dalam Lokakarya Pengembangan Kakao Berkelanjutan di Indonesia yang diselenggarakan oleh PT Nestle Indonesia tersebut ia mengharapkan akan dihasilkan rumusan-rumusan untuk memperkaya produksi kakao di Indonesia.

"Produksi kakao di Sulsel pada akhir tahun ini ditargetkan mencapai 300 ribu ton. Saat telah mencapai 170 ribu ton," jelasnya yang menambahkan dalam satu tahun terakhir Sulsel telah menanam satu juta pohon.

Target pencapaian produksi tersebut akan didukung oleh pembukaan lahan perkebunan baru seluas 100 hektare di 12 kabupaten.

Ke-12 kabupaten ini akan menjadi percontohan produksi dari hulu ke hilir. "Kami juga melaksanakan program kakao terpadu dengan lahan baru seluas 1000 hektare," jelasnya.

Menurutnya, hubungan pemerintah dan swasta dalam pengembangan kakao adalah hubungan yang saling membutuhkan.

"Kami berharap tidak saling tunggu di muara tapi bersama dari hulu ke hilir. Nestle sangat tepat menempatkan strategi perdagangan dunia dari Sulsel dan bisa berkonsentrasi di Sulawesi," katanya.

Duta Besar Konfederasi Swiss untuk Indonesia Heinz Walker Nederkoom mengatakan, lokakarya ini perlu melibatkan semua pihak untuk kelanjutan hubungan antar kedua negara, tidak hanya di Pulau Jawa tapi juga di luar Jawa agar meluas di seluruh wilayah.

"Kita berusaha menghapus hambatan pemasaran. Visinya adalah keseimbangan antara kedua pihak dan negara dalam hubungan bisnis dan meningkatkan kondisi ekonomi," katanya.

Ia menambahkan, sejak 2009, Indonesia adalah negara yang masuk dalam prioritas hubungan ekonomi dengan Swiss. "Lokakarya ini sangat cocok dengan kerja sama kami. Semoga menjadi pertemuan yang menguntungkan," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut ia juga memuji Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebagai bandara yang cantik dan menunjukkan simbol kedinamisan, kemodernan dan keterbukaan. (T.KR-RY/B012) 


Sumber : http://makassar.antaranews.com




READ MORE - Gubernur : Kakao Masa Depan Sulsel dan Sulbar

Tiga Nota Kesepahaman Ditandatangani di Lokakarya Nestle di Clarion


Tribun Timur - Rabu, 27 Juli 2011 12:29 WITA
|

kakao.jpg
ist
kakao



Laporan Wartawan Tribun Timur, Hasriyani Latif

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-- Pada lokakarya Pengembangan Kakao yang Berkelanjutan di Indonesia yang digelar Nestle Indonesia di Hotel Grand Clarion, Makassar, Rabu (27/7/2011), ditandatangani tiga nota ksepahaman.

Pertama yakni nota kesepahaman tentang pengadaan program pelatihan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas biji kakao sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Program ini termasuk praktek pertanian, baik metode fermentasi dan teknik perbanyakan tanaman melalui stek. Kesepakatan ini ditandatangani Suply chain Director PT Nestle Indonesia, R Wisman Djaja dan Direktur Petra Food Limited, William Chuang. Penandatanganan ini disaksikan Presiden Direktur Nestle Indonesia, Arshad Chaudhry dan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.

Kedua, nota kesepahaman tentang pemberdayaan petani untuk dapat mensuplai kakao yang dapat dilacak balik (traceability) untuk Nestle. Ditandatangani oleh Head of Commodities Procurement AOA Nestle Indonesia, Jacob Nielsen dan David Ngu selaku General Manager PT Amajaro Indonesia.

Ketiga adalah penandatanganan nota kesepahaman tentang pengembangan kakao yang berkelanjutan di Indonesia yang akan ditindaklanjuti dengan kerja sama antara pemerintah provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dan Nestle untuk pengembangan kebun percontohan (Experimental Demplot Farm) di Mamuju, Sulbar.

Kerja sama ini ditandatangani oleh Pimpinan R&D Tours Perancis, Pierre Broun PhD dan Direktur ICCRI Dr Teguh Wahyudi. Disaksikan oleh Presiden Direktur Nestle Indonesia, Arshad Chaudhry dan Gubernur Sulbar yang diwakili oleh Sekda Sulbar DR Aksan Djaluddin. (*)
Sumber : http://makassar.tribunnews.com
READ MORE - Tiga Nota Kesepahaman Ditandatangani di Lokakarya Nestle di Clarion

Sulsel Jajaki Penerbangan ke Australia dan Saudi Arabia

Tribun Timur - Rabu, 27 Juli 2011 11:38 WITA
|
Bandara-Hasanuddin.jpg
Bandara Hasanuddin

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM -- Kota Makassar berkembang semakin dinamis. Ini membuat pertumbuhan ekonomi di kota tersebut semakin menggeliat.
Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Rabu (27/7/2011) di Makassar mengatakan, setiap hari setidaknya ada 186 penerbangan di Bandara Sultan Hasanuddin. Kini tengah dijajaki dua rute internasional baru yakni Australia dan Saudi Arabia.
"Sekarang sudah ada lima penerbangan internasional, yakni Kuala Lumpur, Singapura, Hongkong, Filipina, dan Brunei Darussalam," katanya dalam acara lokakarya kakao yang diselenggarakan oleh Nestle di Makassar, Rabu pagi waktu setempat.
""Dinamika ekonomi membuat Makassar makin sibuk. Susah sekali mencari tiket ke Jakarta karena selalu penuh. Artinya banyak pebisnis yang ke sini," ujarnya.
Gubernur mengatakan, Makassar telah menjadi pusat perdagangan dan ekonomi di kawasan Indonesia timur. Ibu kota Sulawesi Selatan itu kini mengalami pertumbuhan ekonomi pesat dibanding daerah lain. "Pertumbuhan (ekonomi) kami 8,9 persen di atas rata-rata nasional. Jumlah tabungan masyarakat dua tahun terakhir sudah tembus Rp 37 triliun," tambahnya.

Editor : Ina Maharani
Sumber : http://makassar.tribunnews.com
READ MORE - Sulsel Jajaki Penerbangan ke Australia dan Saudi Arabia

Singapura Butuh Ikan Tuna dari Sulsel

Tribun Timur - Selasa, 26 Juli 2011 20:08 WITA
|

 
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Dua industri pengolahan perikanan berasal dari Singapura meminta Sulawesi Selatan lebih banyak mengirim pasokan ikan terutama jenis tuna sebagai bahan baku produk mereka.

Manager Fish International Sourcing House, Jansen Chua, di Makassar, Selasa, mengatakan, selama tiga tahun terakhir pihaknya telah mengimpor bahan baku berasal dari Sulsel.  "Namun belum cukup memenuhi kebutuhan bahan baku," katanya.
   
Padahal, katanya, impor bahan baku ikan itu tidak hanya dilakukan Sulsel tapi juga Sulawesi Utara, Jawa Timur, dan Jakarta.

Tetapi, katanya, hal itu tetap belum mencukupi kebutuhan bahan baku industri. Ia menjelaskan, bahan baku ikan berasal dari Indonesia tersebut diolah untuk kemudian diekspor ke China dan Thailand.
   
Perusahaan industri pengolahan ikan lainnya, Chun Cheng Fishery Enterprise, juga meminta penambahan pasokan bahan baku berasal dari Sulsel.
   
Presiden Chun Cheng Fishery Enterprise, Tan Guan Ngo, mengatakan, setiap tahun kebutuhan ikan tuna untuk industri di Singapura mencapai 10 ribu ton.
   
Dari total kebutuhan tersebut, katanya, baru 1.000 ton yang dapat terpenuhi hingga saat ini.
   
Ia mengemukakan, rute penerbangan langsung Makassar-Singapura memperbesar peluang Sulsel menjadi pemasok utama ikan tuna.
   
Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu'mang, yang menerima pimpinan dua perusahaan tersebut memaparkan bahwa Sulsel dengan sejumlah produksi komoditasnya yang melimpah saat ini membutuhkan industri pengolahan.
   
"Minimal industri pengolahan setengah jadi. Memang beberapa tahun sebelumnya yang jadi persoalan adalah listrik. Tapi ke depan kita punya cadangan listrik hingga 300 megawatt untuk mendukung industri," katanya.
   
Khusus untuk perikanan, katanya, hingga saat ini Pemprov Sulsel sedang mencari investor swasta untuk melanjutkan pembangunan Pelabuhan Perikanan Untia di Makassar.
   
"Kami telah diberikan ruang untuk mencari pihak swasta. Kami membuka peluang kerja sama dengan investor Singapura untuk bekerja sama," katanya.  
   
Jika pelabuhan di Selat Makassar tersebut telah berfungsi optimal, katanya, pengiriman hasil laut ke Singapura dapat dilakukan setiap hari karena rute penerbangan langsung Makassar-Singapura telah dibuka.
   
"Dalam waktu dekat akan dibuka juga rute penerbangan khusus kargo dari Makassar ke Hongkong," katanya kepada Antara.
   
Sekretaris Dinas Perikanan Sulsel, Yohannes Tanggo, mengatakan, produksi perikanan Sulsel pada 2011 ditargetkan mencapai 311 ribu ton, sedangkan pada 2012 ditargetkan 319 ribu ton dan pada 2013 sebanyak 327 ribu ton. (*/tribun-timur.com)
 
Sumber : http://makassar.tribunnews.com
READ MORE - Singapura Butuh Ikan Tuna dari Sulsel

Selasa, 26 Juli 2011

Sulsel Tawarkan Pelabuhan Untia ke Singapura

Laporan Adin Syekhuddin Tribun Timur
Tribun Timur - Selasa, 26 Juli 2011 15:19 WITA

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dipastikan akan menggandeng pihak ketiga dalam percepatan pembangunan Pelabuhan Perikanan Untia, Makassar.

Keputusan tersebut ditempuh menyusul rendahnya alokasi anggaran yang dikucurkan pemerintah pusat dalam APBN.

Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang mengatakan pihaknya telah memperoleh persetujuan dari pemerintah pusat untuk melibatkan pihak swasta dalam pembangunan Pelabuhan Perikanaan Untia.

Pemprov Sulsel saat ini tengah menjajaki kemungkinan kerjasama dengan salah satu perusahaan asal Singapura, International Enterprise Singapore (IES) di Kantor Gubernur Sulsel, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (26/7)

"Persetujuan dari pusat sudah ada hanya saja masih dibutuhkan mekanisma kerjasama antar kedua belah pihak mengingat kebijakan ini rawan praktek korupsi," kata mantan Ketua DPRD Sulsel tersebut.


Sumber : http://makassar.tribunnews.com
READ MORE - Sulsel Tawarkan Pelabuhan Untia ke Singapura

Investor Singapura Jajaki Pembangunan Pelabuhan Untia

Tribun Timur - Selasa, 26 Juli 2011 09:19 WITA
|
Investor-Singapura-ke-Makassar.jpg
Tribun Timur/Ilham
sejumlah investor dari Singapura melakukan kunjungan balasan ke Makassar

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Kunjungan  International Enterprise Singapore (IES) di Makassar pada Selasa (26/7) di Kantor Gubernur Sulsel kali ini adalah untuk kali keduanya.

Sebelumnya, IES pernah melakukan kerjasama dengan Pemprov Sulsel sebelumnya yaitu merealisasikan penerbangan langsung dari Makassar ke Singapura.

Rombongan IES beberapa calon investor dari Singapura yang berminat untuk membangun Pelabuhan Untia diterima oleh Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang dan beberapa Kepala Satuan Perangkat Kerja (SKPD) di lingkup Pemprov Sulsel diantaranya Kepala BKPMD Sulsel Irman Yasin Limpo.(*)
 
Sumber : http://makassar.tribunnews.com
READ MORE - Investor Singapura Jajaki Pembangunan Pelabuhan Untia

Senin, 25 Juli 2011

Sulawesi Selatan Capai Rp. 95 Triliun Uang Yang Beredar

25/07/2011


Sidrap-Cakrawala Online, Tingkat perputaran ekonomi di Sulsel dari tahun ke tahun diklaim terus membaik. Gubernur Sulsel, H Syahrul Yasin Limpo menyebutkan, tingkat perekonomian Sulsel kian bergairah.
Hal itu dapat diukur dari tingkat peredaran uang saat ini yang sudah mencapai sekira Rp95 Triliun. “Dari tahun ke tahun, perekonomian Sulsel terus meningkat, tahun 2010 lalu, perputaran uang hanya di atas Rp80 triliun, sekarang sudah menembus angka di atas Rp90 triliun. Dan kita menargetkan, dalam waktu dekat akan bisa tembus Rp110 Triliun,” ungkap Syahrul di acara Tudang Sipulung (TS) tingkat Provinsi Sulsel yang digelar di Kabupaten Sidrap, Kamis 22 JULI 2011. Menurutnya, dari pertumbuhan ekonomi yang dicapai Sulsel secara keseluruhan, peran Kabupaten Sidrap sebagai salah satu daerah penopang kesuksesan peningkatan ekonomi cukup signifikan. Sidrap memang menjadi daerah penyedia pangan andalan Sulsel bahkan merupakan daerah lumbung pangan nasional. “Kalau Sidrap gagal, maka yang lain tentu ikut gagal, sebab semangat kerja dan potensi Sidrap memang cukup mendukung,” jelasnya. Khusus masalah flu burung yang menyerang sejumlah daerah di Ajatappareng, Syahrul menganggap itu hanyalah sebagai ujian bagi peternak untuk bisa lebih maju. “Peternak tidak lantas harus putus asa dengan musibah itu, sebab Pemprov tidak akan tinggal diam dan akan terus mencari solusi terbaik untuk menstabilkan kondisi peternakan. Yang jelas, peternak harus tetap berada dijalur yang benar serta tidak melanggar hukum,” pinta mantan Bupati Gowa 2 periode itu. Di sektor pertanian, Syahrul turut menyemangati petani untuk bisa terus meningkatkan hasil produksi. Sebab di luar Indonesia, kata dia, seperti Iran hasil produksi padi mampu mencapai 22 ton perhesktar. Sebelum membuka acara Tudang Sipulung, Gubernur juga menyerahkan pin emas kepada Wagub Sulsel, Agus Arifin Nu’mang, Bupati Sidrap, H Rusdi Masse, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulsel, Lutfi Halide, dan beberapa Kepala dinas dan kelompok tani dari sejumlah Kabupaten. Pin emas itu diberikan sebagai bentuk penghargaan terhadap dukungan dalam peningkatan produktifitas pertanian dan peningkatan ketahanan pangan nasional oleh Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi Sulsel. Syahrul kemudian mengikuti panen perdana di lokasi persawahan salah seorang tokoh masyarakat Sidrap, A Makkananneng. Bupati Sidrap, H Rusdi Masse menilai, acara Tudang Sipulung tingkat Provinsi yang digelar di Sidrap merupakan sebuah kehormatan bagi Pemerintah Kabupaten Sidrap. Ia berharap kegiatan tersebut bisa menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus meningkatkan hasil produksi pertanian. “Kita juga berharap, dari kegiatan ini akan lahir konsep baru yang bisa mengendalikan hal-hal yang bersentuhan dengan perekonomian masyarakat seperti pengendalian harga, kualitas produk dan lainnya,” tegas Rusdi Masse.(ANDAS)

Sumber : http://cakrawalainterprize.com
READ MORE - Sulawesi Selatan Capai Rp. 95 Triliun Uang Yang Beredar