JAKARTA--Delapan provinsi dijadikan sebagai proyek percontohan penggunaan biodekomposer, pupuk hayati, dan pupuk organik cair pada tanaman padinya seluas 855.000 ha. Sulsel masuk sebagai salah satu provinsi tersebut.
"Biasanya tanaman padi kita paling banyak menghasilkan 5,6 ton per ha, tetapi dengan pemulihan lahan kritis melalui penggunaan biodekomposer, pupuk hayati dan pupuk organik yang diproduksi PT Vitafarm, produksi meningkat tajam. Paling sedikit 8 ton padi per hektare,” ungkap Komisaris PT Vitafarm Indonesia Jeffry Margono, pekan ini.
Berkaitan dengan kegiatan pemulihan tanaman pertanian ini, PT Vitafarm menunjuk PT Berdikari sebagai Public Servise Obligor (PSO) yang melaksanakan pengerjaan proyek pemulihan lahan kritis di delapan provinsi.
Penegasan itu disampaikan berkaitan program proyek kerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan). Delapan provinsi itu yakni Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Batam, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.
"Penggunaan biodekomposer, pupuk hayati, dan pupuk organik yang diproduksi perusahaan kami,” katanya.
Menurut dia, proses disetujuinya penggunaan dana anggaran pendapatan dan belanja negara-perubahan (APBN-P) 2010 yang digelontorkan sebesar Rp290 miliar untuk proyek itu tidak mudah.
“Badan Litbang Kementan dan juga Ketua Komisi IV dan para anggotanya telah menguji kebenaran, bagaimana pembuatan biodekomposer dan produk pendukung bisa meningkatkan hasil pertanian hingga mencapai 8 ton per hektare.”
Jeffry menjelaskan perusahaannya mampu memproduksi sebesar 16.000 ton per tahun. "Kita bekerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi seperti Unpad dan Universitas Negeri Lampung untuk mendalami pemulihan lahan kritis. Hasilnya memang tidak sia-sia,” katanya.
Sumber: www.ujungpandangekspres.com/Rabu, 20-04-2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar