PLN Siap Suplai Listrik ke Pabrik
| RASID/FAJAR
SERIUS. GM PT PLN Sultanbatara, Ahmad Siang (kiri) berbincang dengan Gubernur Syahrul Yasin Limpo mengenai program kelistrikan, Kamis, 5 Mei di ruang kerja Gubernur Sulsel. |
MAKASSAR -- Rencana PT Nestle Internasional membangun pabrik pengolahan kakao di Sulsel, disikapi Gubernur Syahrul Yasin Limpo dengan menambah sentra pengembangan kakao menjadi 16 kabupaten.
Syahrul menyatakan penambahan sentra pengembangan kakao tersebut untuk memenuhi kecukupan bahan baku pabrik. "Kita memiliki lahan yang cocok ditanami kakao," kata Syahrul saat bertemu manajemen Nestle, Kamis, 5 Mei, di ruang kerjanya.
Menurut Syahrul, dengan menjadikan 16 kabupaten sebagai sentra pengembangan kakao, maka lahan-lahan kritis yang memang cocok untuk ditanami kakao bisa dimanfaatkan. "Produksi kakao kita cukup besar dan akan terus ditambah lagi produksinya. Sekarang, kami punya 17 ribu ton lebih," ungkap Syahrul.
Dia berharap, Nestle, mau membangun industri di Sulsel. Apalagi, sebagian besar bahan bakunya merupakan kakao dari Sulsel. Karena itu, dia terus berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas kakao melalui program piramida kakao. "Kakao kita menuju sertifikasi sehingga kualitasnya tidak diragukan lagi," kata gubernur.
Rencana Nestle membangun industri di Sulsel, kini sedang dimatangkan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU). Pemerintah Indonesia akan menggelar pertemuan di Swiss Juni mendatang.
Gubernur mengharapkan pada momen itulah ada kesepakatan khususnya, pembangunan industri pengolahan kakao di Sulsel. "Kita harapkan, salah satu butir MoU adalah pembangunan industri di Sulsel," harapnya.
Sementara itu, Deborah Tjandrakusuma dari PT Nestle Indonesia mengungkapkan kunjungannya ke Sulsel selain karena ada kegiatan workshop internasional soal pengembangan kakao pada 1 Juni mendatang, pihaknya juga tengah menjajaki rencana membangun industri kakao di Sulsel.
"Rencananya, kami akan menggelar workshop pengembangan kakao berskala internasional di Makassar. Sulsel adalah salah satu penghasil kakao yang sangat potensial. Apalagi, selama ini, bahan baku beberapa produk Nestle sebagian besar dari Sulsel," kata Deborah.
Lalu bagaimana kesiapan listrik? Dalam pertemuan tersebut GM PT PLN Sultanbatara, Ahmad Siang juga hadir. Kepada wartawan Ahmad Siang menyatakan, kesiapannya menyiapkan energi bagi industri yang akan masuk di Sulsel.
"Kalau PLN ditanya, jawabannya adalah siap. Katakan saja berapa jumlah yang dibutuhkan, kapan dibutuhkan. PLN akan menyiapkan energi," jelasnya.
PLTU Takalar dan PLTD Barru segera beroperasi mulai September tahun ini. Jika itu jalan maka ada tambahan 200 MW sehingga jumlah cadangan yang tersedia sebesar 900 MW. Selain itu, masijh ada cadangan energi jika siang hari sebesar 300 MW sehingga industri yang akan masuk di Sulsel tidak perlu merasa was-was.
"Sekarang saja tidak ada lagi daftar tunggu. Ini menunjukkan kalau energi kita memang sudah siap menerima kebutuhan listrik untuk industri," ungkapnya.
sumber: www.fajar.co.id/Jumat, 06 Mei 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar