MAKASSAR – Pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan I/2011 meningkat sekitar 0,62% dibanding triwulan IV/2010.
Kontribusi terbesar masih disumbang sektor pertanian yang mencapai 10,76%. “Kontribusi terbesar pertumbuhan ekonomi Sulsel berasal dari beras, jagung, dan kakao. Mereka memang menjadi komoditas andalan.
Khusus beras saja saat ini Sulsel sudah surplus 2,8 juta ton,”kata Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulsel Amal Natsir kepada SINDO di Makassar,kemarin. Konsumsi beras masyarakat Sulsel tiap tahun hanya mencapai 110.000 ton. Padahal, produksi beras Sulsel jauh lebih besar dibandingkan total konsumsi itu.
Karena itulah surplus beras 2,8 juta ton tersebut dikirim ke luar daerah,di antaranya di kawasan timur Indonesia (KTI), Kalimantan dan Jawa. “Awal tahun ini,kami masih akan membantu daerah lain. Sebagian dari daerah tersebut, misalnya Jawa, belum panen,” paparnya.
Sementara itu, produksi jagung di Sulsel mencapai 1,4 juta ton.Komoditas ini masih untuk kebutuhan dalam negeri, khususnya di Sulsel.“Rata- rata produksi jagung kami untuk kebutuhan industri pakan ternak yang beroperasi di Sulsel,”katanya. Mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Sulsel ini mengatakan, target produksi kakao Sulsel tahun ini mencapai 181.000 ton.
Namun, saat ini produksinya baru sekitar 30.000 ton.“Kami upayakan komoditas andalan ini terus digenjot,” ungkapnya. Untuk mendorong produksi pertanian Sulsel, tahun ini Badan Perdagangan Berjangka Komoditas (Bapepti) akan membangun tiga gudang di tiga daerah di Sulsel. “Ini bisa membantu produksi pertanian di Sulsel.
Resi gudang bisa dimanfaatkan petani sebagai alternatif mendapatkan modal dalam bercocok tanam,” paparnya. Ketua Asosiasi Beras Indonesia (ABI) Sulsel Akifuddin mengatakan, puncak panen raya pertama di Sulsel memang dimulai pada Februari hingga Maret. “Sampai Mei tahun ini masih ada beberapa daerah yang panen dan ini bisa sampai Juni,”katanya.
Puncak panen raya kedua akan dimulai pada Agustus. Dia mengatakan, tingginya curah hujan tahun ini tidak terlalu mengganggu produksi padi petani di semua daerah di Sulsel.“Pemerintah sudah mengantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya,” tandasnya.
Caranya, dengan memberikan bibit padi yang tahan terhadap curah hujan yang tinggi.Dia mencontohkan,jika musim hujan, bibit yang diberikan kepada petani khusus benih yang toleran terhadap kondisi tanah yang basah.“Sementara saat musim kemarau, bibitnya akan diberikan dengan bibit yang toleran terhadap musim kemarau,” pungkasnya.
Sumber:www.seputar-indonesia.com/Friday, 06 May 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar