Total Tayangan Halaman

Selasa, 03 Mei 2011

Sulsel Dorong Produksi Sutra Alam

AKARTA -- Seolah terbangun dari tidur panjang, Sulsel kembali bertekad menjadi sentra utama pengembangan sutra alam di Indonesia. Produksi benang sutra diharapkan mencapai 600 ton per tahun. Dalam beberapa tahun terakhir ini, produksi benang sutra di Sulsel anjlok. Pada awalnya, tepatnya tahun 1971, Sulsel pernah menghasilkan benang sutra 120 ton benang sutra. Belakangan produksi terus menurun seiring dengan pengelolaan sutra yang tidak lagi menjadi prioritas petani. Kebijakan pemerintah juga kurang berpihak ke petani. Data tahun 2010 menunjukkan produksi benang sutra di Sulsel hanya mencapai 14,9 ton. Jumlah itu lebih rendah dari produksi tahun 2009 yang mencapai 15,8 ton. Padahal, tahun 2008 Sulsel masih mampu menghasilkan 36,7 ton. "Dibutuhkan dana besar untuk mengembalikan kejayaan sutra di Sulsel. Makanya, kami berharap dukungan pemerintah pusat melalui APBN," kata Wagub Sulsel, Agus Arifin Nu'mang, di kantor Kementerian Kehutanan, di Jakarta, Selasa, 3 Mei. Agus menjadi salah satu pembicara dalam workshop pengembangan investasi persutraan alam nasional. Pembicara lain yang hadir adalah Dirjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kementerian Kehutanan, Hari Santoso, dan Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Euis Saedah. Dalam kesempatan itu, Agus mempresentasikan potensi pengembangan sutra alam di Sulsel. Mantan ketua DPRD Sulsel itu juga menyampaikan langkah yang telah dilakukan Pemprov Sulsel. Salah satunya dengan memberi telur ulat sutra gratis sebanyak 5.000 boks ke petani. Telur ulat sutra ini diberikan ke enam kabupaten di Sulsel, yaitu Sinjai, Soppeng, Enrekang, Maros, Barru, dan Bone. Keenam daerah tersebut juga memperoleh stimulus berupa bibit stek murbei dengan jumlah total 390 ribu batang. Namun, bantuan stimulus itu tentu saja jauh dari ideal. Vince Gowan dari Kadin Indonesia yang hadir mendampingi investor asal China, Wintus Group, mengatakan di China telur yang dikelola mencapai 180 ribu boks per periode. Wintus mengaku tertarik mengembangkan sutra di Sulsel. Sebelum menjalin kerjasama, Wintus Group mengundang Pemprov Sulsel untuk melihat langsung proses pengembangan sutra di sana. Saat ini, Wintus Group sudah menjalin kerjasama dengan Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Sebagai daerah yang lebih dahulu mengembangkan sutra alam, Sulsel pun sangat tertarik untuk menjalin kerjasama serupa. Agus Arifin Nu'mang menambahkan tahun 2012 juga akan menjadi momentum kebangkitan sutra di Sulsel. Tahun depan akan digelar konferensi internasional sutra yang diharapkan bisa memberi efek positif bagi pengembangan sutra di Sulsel. Sementara Euis Saedah mengatakan, selama ini salah satu kelemahan sutra di Sulsel karena pengelolaannya masih tradisional. Kementerian Perindustrian menjanjikan subsidi mesin semi otomatis dan otomatis buatan dalam negeri sebesar 30 persen. Sementara pembelian mesin dari luar negeri mendapat subsidi 25 persen. Sumber :www.fajar.co.id/abu, 04 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar