MAKASSAR -- Produksi jagung
melimpah mendorong Pemprov Sulsel terus mencari pasar. Salah satu
sasaran yang tengah dijajaki adalah kerja sama dengan PT Redwood
Indonesia yang berada di Cilegon, Banten.
"Surpulus jagung mencapai 1,6 juta ton perlu mendapat perhatian penuh agar distribusi menjadi lebih jelas," kata Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Rabu, 18 Mei.
Syahrul mengatakan dirinya sempat ke PT Redwood Indonesia. Syahrul dan rombongan melihat dari dekat proses produksi jagung sekaligus menjajaki kerja sama dengan perusahaan tersebut.
Kebetulan Syahrul didaulat menjadi keynot speaker pada rapat koordinasi litbang dan penelitian nasional di Banten yang digelar Kementerian Ristek dan Teknologi. "Redwood adalah penghasil tepung jagung, pakan ternak, dan produk olahan lain terbesar di Indonesia. Penjajakan ini salah satu upaya untuk menjalin kerja sama," ungkap Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, Andi Muhammad Yamin via telepon yang menyertai rombongan Gubernur.
Dalam pertemuan tersebut, Syahrul juga mengajak perusahaan raksasa asal Amerika Serikat itu masuk ke Sulsel membangun pabrik, sekaligus menyerap jagung hasil pertanian Sulsel. Sejauh ini kata Yamin, Redwood kekurangan pasokan jagung mencapai 300 ribu ton per tahun sehingga harus mengimpor dari Amerika dan Argentina. "Ini potensi pasar yang bisa kita isi," katanya.
Sementara Kepala Seksi Produksi Jagung Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel, AM Taqwa, mengatakan, pihaknya kini terus menggenjot produktivitas jagung hibrida untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkatkan. Untuk itu produktivitas jagung hibrida pada 2011 ditargetkan mencapai 1,6 juta ton atau naik 100 ribu ton dibandingkan 2010 yang mencapai 1,5 juta ton.
Potensi masa tanam pada 2010 mencapai 320 hektare, sehingga untuk Sulsel diproyeksi akan produktivitas jagung hibrida terbilang cukup besar, dilihat dari jumlah areal tanam yang mencapai 599 ribu hektare tahun ini.
Produksi jagung Sulsel mencapai 1.395.744 ton menempati peringkat keempat nasional setelah Jawa Timur (5,2 juta ton), Jawa Tengah (3,2 juta ton) dan Lampung (2 juta ton). Sentra penanaman jagung terdapat di Sulsel yakni; Gowa, Takalar, Bantaeng, Sinjai, Jeneponto, dan Bulukumba.
Dinas Pertanian kata dia saat ini, menerapkan sistem pengembangan mutu di setiap kecamatan untuk dapat mendongkrak produktivitas jagung hibrida. Selain itu, disiapkan pula bantuan alat pengering 10 unit. "Juga ada sekolah lapangan petani terpadu kepada petani," ungkapnya.
"Surpulus jagung mencapai 1,6 juta ton perlu mendapat perhatian penuh agar distribusi menjadi lebih jelas," kata Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Rabu, 18 Mei.
Syahrul mengatakan dirinya sempat ke PT Redwood Indonesia. Syahrul dan rombongan melihat dari dekat proses produksi jagung sekaligus menjajaki kerja sama dengan perusahaan tersebut.
Kebetulan Syahrul didaulat menjadi keynot speaker pada rapat koordinasi litbang dan penelitian nasional di Banten yang digelar Kementerian Ristek dan Teknologi. "Redwood adalah penghasil tepung jagung, pakan ternak, dan produk olahan lain terbesar di Indonesia. Penjajakan ini salah satu upaya untuk menjalin kerja sama," ungkap Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, Andi Muhammad Yamin via telepon yang menyertai rombongan Gubernur.
Dalam pertemuan tersebut, Syahrul juga mengajak perusahaan raksasa asal Amerika Serikat itu masuk ke Sulsel membangun pabrik, sekaligus menyerap jagung hasil pertanian Sulsel. Sejauh ini kata Yamin, Redwood kekurangan pasokan jagung mencapai 300 ribu ton per tahun sehingga harus mengimpor dari Amerika dan Argentina. "Ini potensi pasar yang bisa kita isi," katanya.
Sementara Kepala Seksi Produksi Jagung Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel, AM Taqwa, mengatakan, pihaknya kini terus menggenjot produktivitas jagung hibrida untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkatkan. Untuk itu produktivitas jagung hibrida pada 2011 ditargetkan mencapai 1,6 juta ton atau naik 100 ribu ton dibandingkan 2010 yang mencapai 1,5 juta ton.
Potensi masa tanam pada 2010 mencapai 320 hektare, sehingga untuk Sulsel diproyeksi akan produktivitas jagung hibrida terbilang cukup besar, dilihat dari jumlah areal tanam yang mencapai 599 ribu hektare tahun ini.
Produksi jagung Sulsel mencapai 1.395.744 ton menempati peringkat keempat nasional setelah Jawa Timur (5,2 juta ton), Jawa Tengah (3,2 juta ton) dan Lampung (2 juta ton). Sentra penanaman jagung terdapat di Sulsel yakni; Gowa, Takalar, Bantaeng, Sinjai, Jeneponto, dan Bulukumba.
Dinas Pertanian kata dia saat ini, menerapkan sistem pengembangan mutu di setiap kecamatan untuk dapat mendongkrak produktivitas jagung hibrida. Selain itu, disiapkan pula bantuan alat pengering 10 unit. "Juga ada sekolah lapangan petani terpadu kepada petani," ungkapnya.
Sumber : www.fajar.co.id/Kamis, 19 Mei 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar