Total Tayangan Halaman

Rabu, 04 Mei 2011

Sulsel Sasar Pasok Bibit Kentang Nasional

MAKASSAR, UPKES--Universitas Hasanuddin (Unhas) kini kembali membidik target untuk menjadi penyedia bibit nasional dalam pengembangan bibit kentang. Hal tersebut dilakukan setelah Unhas terpilih menjadi kiblat pengambangan kentang. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Bioktenoklogi Unhas, Prof Dr Agr Sc Ir Baharuddin mengatakan, saat ini kebutuhan bibit kentang nasional mencapai 120.000 ton per tahun dan baru dapat terpenuhi sekitar 5% atau 6.000 ton. Guna memenuhi kebutuhan bibit tersebut diperlukan perlakuan khusus antara lain penyediaan tempat penyemaian kultur jaringan hingga generasi nol (G-0). "Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan dana membangun sedikitnya 10 rumah plastik dengan nilai Rp 500 juta,"jelasnya di Gedung Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas Kampus Tamalanrea. Dikatakan, Dari segi teknologi tidak ada masalah untuk menghasilkan bibit sebanyak itu, sekarang tinggal aspek bisnis dan pengadaan lahan dan fasilitas green house untuk menghasilkan benih sumber (G-0). Guna menghasilkan 1 juta bibit diperlukan sedikitnya 2.500 m2 lahan. Menurut Baharuddin, saat ini dalam kemitraan dengan pemerintah daerah pihaknya memanfaatkan fasilitas yang ada lokasi setempat untuk membangun lokasi aeroponik sederhana dari bambu dengan dana total berkisar antara Rp20 juta hingga Rp30 juta. "Jika kita menghasilkan 3 juta bibit G-0, kita akan mampu memenuhi kebutuhan bibit nasional. Untuk menghasilkan bibit sebanyak itu dibutuhkan lahan tidak cukup 1 hektar, sebab total waktu untuk menghasilkan bibit dari status umbi hingga benih sebar diperlukan waktu sekitar 4-5 bulan. Khusus untuk G-0 saja diperlukan waktu 3 bulan. " ujarnya. Baharuddin menargetkan dapat memproduksi 1 juta knol (G-0) per tahun. Setelah itu, diserahkan kepada petani yang mengembangkannya. Harga bibit G-0 ini Rp 2.000/kg, meski standar nasional Rp2.500/kg. Balai Benih Induk (BBI) akan mengembangkan generasi pertama di kabupaten yang kemudian diambil oleh para penangkar. "Jika kita mampu menghasilkan 1 juta knol, nilai jualnya mencapai Rp 2 miliar. Untuk 100.000 knol saja dapat mencapai Rp 250 juta,’’ ujarnya. kata dia, Pertengahan Maret lalu, pihak Kementerian Ristek mengunjungi lokasi pengembangan kentang di Malino sebagai bagian koordinasi dalam kaitan dengan ketahanan pangan. Lawatan beberapa staf Kementerian Ristek disertai beberapa orang dari pemerintah kabupaten di Jawa itu guna mengetahui potensi dan teknologi yang digunakan Unhas dalam pembenihan kentang. "Banyak yang mereka lihat di Malino. Termasuk kemitraan antara Unhas dengan Pemkab Bantaeng dan Enrekang yang cukup baik,’’ ungkap guru besar Fakultas Pertanian Unhas tersebut. Ia menambahkan dari pengusahaan kentang ini, seorang petani di Bulu Balea, H Rafiuddin pada tahun 2007 memperoleh penghargaan sebagai petani kentang teladan nasional. Ia pada awalnya seorang buruh tani dengan modal Rp 150.000. Kini dia mempekerjakan 100 orang tenaga kerja per hari pada lahan seluas 25 hektar. Dia mampu memproduksi bibit sekitar 30 -40 ton/hektar. Dalam jangka 3 bulan, dia dapat meraup pendapatan kotor Rp1 miliar. Sumber:www.ujungpandangekspres.comRabu, 04-05-2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar