Makassar (ANTARA News) - Direktur Pasca Sarjana Universitas Negeri
Makassar (UNM), Prof Dr Jasruddin mengatakan, pola seleksi penerima
beasiswa pendidikan ke luar negeri S2 dan S3 dari Pemprov Sulawesi
Selatan harus ketat agar hasilnya maksimal.
Selain itu,
beasiswa tersebut harus tepat sasaran yakni diberikan sesuai disiplin
ilmu yang diinginkan karena dibutuhkan untuk memacu perkembangan daerah
Sulsel di masa akan datang.
Hal itu dikemukakan
Jasruddin usai menjadi motivator bagi penerima beaiswa perusahaan
tambang nikel PT Inco di Makassar, Kamis.
PT Inco tahun
2011 memberikan bea siswa dari SD sampai S2 sebanyak 496 orang dengan
nilai Rp1,76 miliar. Khusus penyerahan di Makassar untuk 207 orang
penerima beasiswa dengan jumlah Rp985,5 juta, yang terdiri dari 32
diploma, 166 S1 dan sembilan orang S2. Penyerahan di Sorowako (lokasi
tambang) untuk 206 orang bernilai Rp402,93 juta dan penyerahan di Palopo
untuk 83 orang dengan nilai Rp373,5 juta.
Jasruddin
mengungkapkan, beberapa penerima beasiswa ke luar negeri dari Pemprov
Sulsel, sebenarnya tidak lulus di pascasarjana UNM karena IPK tidak
memenuhi standar. Selain itu, ada penerima beasiswa pemprov akhirnya
harus pindah dari Selandia Baru ke Malaysia karena keterbatasan
penguasaan bahasa Inggris.
Keadaan ini memperlihatkan
bahwa sistem seleksi penerima beasiswa luar negeri Pemprov Sulsel harus
diperbaiki dan terus disempurnakan.
Jadi niat mulia
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo memberikan 1.000 beasiswa S1 dalam
negeri dan 100 beasiswa S2 dan S3 keluar negeri tiap tahun harus
dibarengi dengan seleksi ketat dan hanya mengirim calon mahasiswa
pascasarjana sesuai disiplin ilmu yang dibutuhkan oleh Provinsi Sulsel
untuk memacu perkembangannya ke depan dan bukan bersifat umum untuk
semua disiplin ilmu.
Sehingga nantinya, bukan hanya
banyaknya lulusan pascasarjana luar negeri yang dimiliki Sulsel,
melainkan kualitas serta kebutuhan yang diinginkan untuk memacu daerah
ini terpenuhi.
Pihak yang berada di sekeliling Gubernur
harus peka memikirkan agar niat mulia Gubernur bermanfaat ganda dan
bukannya dimanfaatkan untuk keuntungan sendiri antara lain beasiswa
diberikan karena faktor nepotisme, ujarnya.
Staf ahli
bidang ekonomi Pemprov Sulsel, Asri Pananrang memuji PT Inco yang
memberikan beasiswa bagi 496 orang di Sulsel tahun 2011 dengan nilai
Rp1,76 miliar, dibandingkan BUMN Pertamina yang merupakan BUMN yang
besar di Indonesia yang hanya memberi beasiswa untuk dua penerima S1 di
Sulsel, sehingga Gubernur Syahrul Yasin Limpo menolak beasiswa tersebut.
"Kita
bangga dengan PT Inco, terutama yang meletakkan konsep/pola pemberian
beaiswa untuk anak-anak di Sulsel yang mencakup hampir di semua
universitas yang ada di Provinsi ini, dibandingkan BUMN besar seperti
Pertamina yang membuat Gubernur kecewa," ucapnya. (T.KR-HK/F003)
Sumber : http://makassar.antaranews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar