Rabu, 06 Juli 2011 | 00:50:22 WITA | 339 HITS
Ganti Sattar Setelah Tonasa V Tuntas
Ganti Sattar Setelah Tonasa V Tuntas
Syahrul Yasin Limpo
MAKASSAR, FAJAR
-- Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, kembali menegaskan sikap
politisnya terkait jajaran direksi PT Semen Tonasa. Syahrul ngotot
dengan pendirian semula tetap mempertahankan Sattar Taba sebagai
direktur utama hingga tuntasnya megaproyek Tonasa V yang sementara
berjalan.
Penegasan itu disampaikan Syahrul di kantor DPRD Sulsel, usai
menerima pengumuman opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Selasa, 5
Juli.
Syahrul bahkan mengaku sangat kecewa dengan jajaran direksi PT Semen Gresik sebagai holding companie Semen
Tonasa yang mengagendakan pergantian direksi pada Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS) PT Semen Gresik. Agenda ini memang berlangsung meski
akhirnya berakhir deadlock alias tanpa keputusan.
“Lillahi ta’ala, saya ini tidak punya
kepentingan di sana (Semen Tonasa, red). Saya hanya mau pabrik yang
menjadi kebangaan warga Sulsel itu bisa lebih baik ke depan. Selesaikan
dulu Tonasa V baru kita bicara Sattar. Setelah selesai itu, Sattar juga
boleh selesai,” tegas Syahrul.
Dia pun mengatakan sangat kecewa dengan kebijakan dari pusat
terutama induk PT Semen Gresik yang ingin “memasukkan orangnya”.
Syahrul bersikukuh “memakai” putra lokal agar bisa mengontrol Tonasa.
“Kalau ada apa-apa, bisako (direksi, red) saya tagih. Kalau
kau di Jakarta, di mana bisa saya cari? Kalau orang di sini mana mungkin
mau main-main. Saya mau jelas siapa yang kontrol,” kata Syahrul.
Kekhawatiran lain, kata dia, nilai aset unit V itu sebesar Rp5,7
triliun. Syahrul takut, jika di tengah jalan terjadi pergantian direksi,
maka bisa amblas aset itu. Apalagi saat peminjaman kredit di bank,
Syahrul selaku gubernur atas perintah mantan Wakil Presiden RI, Jusuf
Kalla, saat itu menjadi penjamin utama mendapatkan kredit perbankan.
Syahrul juga membeberkan, dirinya ngotot menahan Sattar hingga
Tonasa V selesai demi menghargai kinerja sebelumnya. “Apakah susahnya?
Menjadi status quo seperti ini karena diganggu dari sana (Jakarta, red),” ungkap dia.
“Sattar itu membawa Tonasa dari aset Rp48 miliar menjadi Rp800 miliar. Masa prestasinya tawwa tidak dihargai. Bagaimana Republik ini?” ungkap mantan Bupati Gowa ini. (aci)
Sumber : http://www.fajar.co.id
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar