Tribun Timur - Sabtu, 6 Agustus 2011 00:34 WITA
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin
Limpo mengharapkan tidak terjadi politisasi dalam proses revitalisasi
kawasan cagar budaya Benteng Rotterdam, seperti pernah terjadi pada
proses pembangunan Gowa Discovery Park di dekat kawasan Benteng Somba
Opu.
"Harapan saya kepada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) sekecil apapun, jangan ada yang menyimpang dari aturan dan norma. Ini arkeologi, ini kebanggaan, saya tidak mau dipolitisasi seperti yang terjadi di Benteng Somba Opu," katanya di Makassar, Sabtu (6/8/2011).
Pemerintah, lanjutnya, hanya ingin melakukan perbaikan-perbaikan terhadap bentuk-bentuk warisan besar sejarah yang dimiliki agar tidak punah dan hilang. "Kalau tidak diperbaiki besok akan punah dan hilang dan hilanglah kebanggaan. Yang harus kita lakukan adalah mengkreasikan bahkan harus membuatkan daya tarik," katanya.
Begitu pula dengan Tana Toraja, ia mengungkapkan, pemerintah daerah akan mencarikan dana sebesar sekitar Rp 700 miliar untuk fokus membangun kembali dunia pariwisata di daerah tersebut dan menarik belasan juta wisatawan dari Singapura dan Malaysia.
"Bayangkan mereka sudah belasan juta sementara kita baru puluhan ribu. Kita harus berkreasi membocorkan itu, termasuk dari Bali. Pulau-pulau harus ditata, harus dicari daya tariknya salah satu magnet yang tidak ada di Makassar adalah Benteng Rotterdam, mari kita bangun," katanya.
Dalam kesempatan itu, dia juga mengingatkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulsel tidak berhenti berkreasi dan imajinasi. "Orang tidak datang ke Makassar kalau segala sesuatunya tidak siap dan itu harus diperbaiki terus," katanya.
Ia mengharapkan dukungan semua pihak terhadap proses revitalisasi Benteng Rotterdam. "Ini tanggung jawab masa depan dan ini harus berlanjut terus," katanya.
Menurutnya, Benteng Rotterdam adalah jimat dan kekuatan Sulsel ditinjau dari segi apapun. Karena dengan uang sebanyak apapun uang yang dimiliki tidak akan bisa membuat yang seperti ini. "Makanya jangan ada yang hancurkan, kita yang harus perbaiki," ujarnya.
Revitalisasi Benteng Rotterdam untuk dikembalikan ke wujud aslinya dimulai sejak 2009. Hingga 2011, proses revitalisasi baik di bagian dalam maupun di sekitar benteng telah menelan anggaran kolektif sebesar Rp 59 miliar. Proses revitalisasi pada 2012 dianggarkan sebesar Rp57 miliar untuk merelokasi kantor Radio Republik Indonesia (RRI) dan gedung veteran. (*/tribun-timur.com)
"Harapan saya kepada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) sekecil apapun, jangan ada yang menyimpang dari aturan dan norma. Ini arkeologi, ini kebanggaan, saya tidak mau dipolitisasi seperti yang terjadi di Benteng Somba Opu," katanya di Makassar, Sabtu (6/8/2011).
Pemerintah, lanjutnya, hanya ingin melakukan perbaikan-perbaikan terhadap bentuk-bentuk warisan besar sejarah yang dimiliki agar tidak punah dan hilang. "Kalau tidak diperbaiki besok akan punah dan hilang dan hilanglah kebanggaan. Yang harus kita lakukan adalah mengkreasikan bahkan harus membuatkan daya tarik," katanya.
Begitu pula dengan Tana Toraja, ia mengungkapkan, pemerintah daerah akan mencarikan dana sebesar sekitar Rp 700 miliar untuk fokus membangun kembali dunia pariwisata di daerah tersebut dan menarik belasan juta wisatawan dari Singapura dan Malaysia.
"Bayangkan mereka sudah belasan juta sementara kita baru puluhan ribu. Kita harus berkreasi membocorkan itu, termasuk dari Bali. Pulau-pulau harus ditata, harus dicari daya tariknya salah satu magnet yang tidak ada di Makassar adalah Benteng Rotterdam, mari kita bangun," katanya.
Dalam kesempatan itu, dia juga mengingatkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulsel tidak berhenti berkreasi dan imajinasi. "Orang tidak datang ke Makassar kalau segala sesuatunya tidak siap dan itu harus diperbaiki terus," katanya.
Ia mengharapkan dukungan semua pihak terhadap proses revitalisasi Benteng Rotterdam. "Ini tanggung jawab masa depan dan ini harus berlanjut terus," katanya.
Menurutnya, Benteng Rotterdam adalah jimat dan kekuatan Sulsel ditinjau dari segi apapun. Karena dengan uang sebanyak apapun uang yang dimiliki tidak akan bisa membuat yang seperti ini. "Makanya jangan ada yang hancurkan, kita yang harus perbaiki," ujarnya.
Revitalisasi Benteng Rotterdam untuk dikembalikan ke wujud aslinya dimulai sejak 2009. Hingga 2011, proses revitalisasi baik di bagian dalam maupun di sekitar benteng telah menelan anggaran kolektif sebesar Rp 59 miliar. Proses revitalisasi pada 2012 dianggarkan sebesar Rp57 miliar untuk merelokasi kantor Radio Republik Indonesia (RRI) dan gedung veteran. (*/tribun-timur.com)
Sumber : http://makassar.tribunnews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar