Sabtu, 13-08-2011
JAKARTA, Upeks—Bintang Mahaputra Utama merupakan penghargaan
tertinggi dari negara dan tidak mudah untuk mendapatkannya. Membutuhkan
proses dan tahapan yang sangat ketat.
Syahrul sendiri mengaku tak bisa membahasakan perasaannya atas penganugerahan ini. Bahkan tak pernah bermimpi sedikit pun atas hal ini.
“Saya ini tidak bisa bahasakan perasaan saya. Dulu ayah saya juga pernah dapat penghargaan bintang jasa dari pemerintah. Itu melalui proses, berjuang, berperang. Lalu tiba-tiba saya dapat Bintang Mahaputra Utama. Saya merasa surprise yang agak-agak lebih,” papar Syahrul.
Karena menurut mantan Bupati Gowa ini, dirinya bekerja selalu hanya ingin maksimal, terus berbuat dan membuat rakyat merasa ada pemerintahannya.
Sehingga saat tertimpa masalah, rakyat dapat merasa ada yang ikut membantu, mengayomi dan memberi kepedulian itu kepada mereka. “Jadi ditanya apa yang bisa membuat penghargaan ini bisa diraih, saya kira 84 penghargaan nasional yang diraih Sulsel cukup menjadi indikator , termasuk predikat WTP. Jadi saya tidak perlu mengurai seperti apa lagi karena saya yakin dengan melihat penghargaan itu Sulsel memang tertinggi dan layak diakui,” tegasnya.
Tak berhenti sampai disitu, karena rangkaian penghargaan selanjutnya yaitu Satya Lencana Prasamya Karya Bhakti Praja Nugraha yang kembali akan diserahkan Presdien SSusilo Bambang Yudhoyono pada 17 Agustus ini di Istana Negara.
Syahrul merupakan satu dari tiga gubernur yang akan menerima penghargaan ini. Dua lainnya adalah Sulut dan Jateng. “Saya suka kerja dan saya kerja saya memang untuk rakyat, Insya Allah,” tandasnya.
Salah satu hal yang sering disebut secara nasional adalah overstok 2 juta ton beras. “Karena dengan ini, seluruh Indonesia tak tanam beras, kita masih bisa hidup dalam setahun. Karena untuk hidup kita membutuhkan 3 juta ton,” ujarnya
Diakuinya, dalam melangkah selalu mengikutsertakan semua pihak dalam hal apa pun juga dan terbuka. “Saya tak terbiasa bermain-main dengan hal yang keluar dari aturan yang ada, semua by akuntabilitas publik, langkah kita harus dipertanggungjawabkan kepada kepentingan publik itu, selain itu membangun kesetaraan agar semua energi bisa berjalan, khususnya dalam membangun citra yang baik,” jelasnya.
Selama ini apa yang berbanding lurus antara maraknya demonstasi dan Citra Sulsel yang baik juga membangun energi yang makin imbang dan mengundang ketertarikan. Bahkan duta Inggris dan Amerika turun untuk mencari penyebab perbandingan yang seimbang ini.
Dari sisi posisi di kancah politik ke depan, Syahrul mengaku itu dampak dari segalanya. Dan untuk sementara ini dirinya masih tetap fokus membenahi Sulsel.
“Menurut saya bekerja yg baik adalah yg thu kita harus kemana. Terlalu banyak hal yang harus saya benahi di Makassar. Makassar dan Sulsel itu seperti mobil truk berisi penuh muatan hasil bumi yang harus kita dorong. Dia saat ini telah mulai berjalan bagus, mulai bergerak, dan mulai ringan kita dorong. Oleh karena itu jangan berhenti karena kalau berhenti akan berat kembali untuk mendorong,” jelasnya.
Syahrul sendiri mengaku tak bisa membahasakan perasaannya atas penganugerahan ini. Bahkan tak pernah bermimpi sedikit pun atas hal ini.
“Saya ini tidak bisa bahasakan perasaan saya. Dulu ayah saya juga pernah dapat penghargaan bintang jasa dari pemerintah. Itu melalui proses, berjuang, berperang. Lalu tiba-tiba saya dapat Bintang Mahaputra Utama. Saya merasa surprise yang agak-agak lebih,” papar Syahrul.
Karena menurut mantan Bupati Gowa ini, dirinya bekerja selalu hanya ingin maksimal, terus berbuat dan membuat rakyat merasa ada pemerintahannya.
Sehingga saat tertimpa masalah, rakyat dapat merasa ada yang ikut membantu, mengayomi dan memberi kepedulian itu kepada mereka. “Jadi ditanya apa yang bisa membuat penghargaan ini bisa diraih, saya kira 84 penghargaan nasional yang diraih Sulsel cukup menjadi indikator , termasuk predikat WTP. Jadi saya tidak perlu mengurai seperti apa lagi karena saya yakin dengan melihat penghargaan itu Sulsel memang tertinggi dan layak diakui,” tegasnya.
Tak berhenti sampai disitu, karena rangkaian penghargaan selanjutnya yaitu Satya Lencana Prasamya Karya Bhakti Praja Nugraha yang kembali akan diserahkan Presdien SSusilo Bambang Yudhoyono pada 17 Agustus ini di Istana Negara.
Syahrul merupakan satu dari tiga gubernur yang akan menerima penghargaan ini. Dua lainnya adalah Sulut dan Jateng. “Saya suka kerja dan saya kerja saya memang untuk rakyat, Insya Allah,” tandasnya.
Salah satu hal yang sering disebut secara nasional adalah overstok 2 juta ton beras. “Karena dengan ini, seluruh Indonesia tak tanam beras, kita masih bisa hidup dalam setahun. Karena untuk hidup kita membutuhkan 3 juta ton,” ujarnya
Diakuinya, dalam melangkah selalu mengikutsertakan semua pihak dalam hal apa pun juga dan terbuka. “Saya tak terbiasa bermain-main dengan hal yang keluar dari aturan yang ada, semua by akuntabilitas publik, langkah kita harus dipertanggungjawabkan kepada kepentingan publik itu, selain itu membangun kesetaraan agar semua energi bisa berjalan, khususnya dalam membangun citra yang baik,” jelasnya.
Selama ini apa yang berbanding lurus antara maraknya demonstasi dan Citra Sulsel yang baik juga membangun energi yang makin imbang dan mengundang ketertarikan. Bahkan duta Inggris dan Amerika turun untuk mencari penyebab perbandingan yang seimbang ini.
Dari sisi posisi di kancah politik ke depan, Syahrul mengaku itu dampak dari segalanya. Dan untuk sementara ini dirinya masih tetap fokus membenahi Sulsel.
“Menurut saya bekerja yg baik adalah yg thu kita harus kemana. Terlalu banyak hal yang harus saya benahi di Makassar. Makassar dan Sulsel itu seperti mobil truk berisi penuh muatan hasil bumi yang harus kita dorong. Dia saat ini telah mulai berjalan bagus, mulai bergerak, dan mulai ringan kita dorong. Oleh karena itu jangan berhenti karena kalau berhenti akan berat kembali untuk mendorong,” jelasnya.
Sumber : http://www.ujungpandangekspres.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar