Total Tayangan Halaman

Kamis, 08 September 2011

Sulsel Ekspor Sayuran ke Singapura

Thursday, 08 September 2011
MAKASSAR– Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel akan melakukan uji coba ekspor komoditas hortikultura berupa kentang dan sayuran ke Singapura. Ekspor tersebut akan direalisasikan bulan ini.


“Untuk tahap awal kami ekspor 20 ton melalui udara pada bulan ini,” kata Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Sulsel Luthfie Halide saat panen perdana komoditas hortikultura yang terdiri atas cabai,buah melon, dan semangka di Desa Padangloang, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, kemarin. Uji coba itu sebagai salah satu wujud kesepakatan yang akan ditandatangani Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo bersama Senior Advisor Changi Airport Group Wong Woon Liong serta Direktur Pemasaran PT Garuda Indonesia Tbk Arif Wibowo di Makassar, hari ini.

“Uji coba ini sekaligus mengetahui standardisasi kemasan, pengiriman,higienitas,dan lainnya sesuai spesifikasi negara tujuan ekspor. Dengan begitu, komoditas yang diekspor memiliki citra yang baik di pasar internasional,”katanya. Luthfie mengatakan, telah ada mitra dari negara tersebut yang menjajaki produksi kentang di Sulsel menyusul kekurangan pasokan kentang di dunia.“ Sudah ada mitra kami dari Singapura. Tinggal kami sesuaikan spesifikasinya,” ujarnya.

Kirim Talas ke Jepang

Sementara itu, Sulsel hingga saat ini hanya mampu mengirim 3 ton talas ke Jepang.Padahal, sesuai kesepakatan yang dilakukan Pemprov Sulsel dengan Pemerintah Jepang pada 2009, Sulsel siap mengirimkan talas 40.000 ton tiap tahun. Negeri Sakura tersebut setiap tahun membutuhkan talas sekitar 350.000 ton. “Kebutuhan Jepang 350.000 ton, kami hanya mampu 3 ton, China suplai 45.000– 60.000 ton.Jepang bilang kalau Sulsel bisa siapkan lebih, lebih bagus,” ujar Kepala Seksi Umbi-Umbian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel Helda Tahir di ruang kerjanya,kemarin.

Kabupaten yang menjadi sasaran tanaman talas, yakni Jeneponto,Bantaeng,Pinrang, dan Luwu.Namun, jumlah talas yang dihasilkan keempat kabupaten tersebut belum sesuai spesifikasi yang diminta Jepang. Karena itu,Dinas Pertanian Sulsel membina petani talas agar hasilnya bisa diterima negara tujuan ekspor. Namun, hingga saat ini masih banyak kendala yang dihadapi petani. Salah satunya, banyak binatang, seperti tikus dan babi, yang memakan tanaman ini sehingga menjadi rusak.

Wakil Ketua Kadin Sulsel Ilham Alim Bahri mengatakan, selama ini pemerintah kurang melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait besarnya penghasilan yang didapat dari tanaman talas. Dengan demikian, masyarakat lebih memperhatikan tanaman yang bisa memberikan hasil lebih cepat. andi amriani/ant
 
 
Sumbr : http://www.seputar-indonesia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar