Sabtu, 22 Januari 2011 00:51
MAKASSAR – GubernurSulsel Syahrul Yasin Limpo tahun ini berkomitmen
mengembalikan kejayaan Sulsel sebagai daerah penghasil udang terbesar di
Tanah Air.
Pernyataan ini dilontarkan Gubernur saat menerima kunjungan grup perusahaan ekspor impor asal Jepang Shirmp Guard Japan Co Ltd dan Khuyu Medical Co Ltd di Rujab Gubernur Sulsel siang kemarin. “Target tambak kami cukup besar dan bisa disegarkan dengan merebut kembali predikat sebagai daerah penghasil udang,” ungkap dia kemarin. Menurut Syahrul, beberapa tahun terakhir Sulsel mengembangkan jenis uang vaname, tapi kualitas serta keuntungan yang dihasilkan tak sebesar udang windu.
Karena itu, dia berharap bisa mengelola kembali udang windu. “Kami kerja sama dengan Jepang pada Agustus secara besar-besaran. Dua kabupaten, yakni Takalar dan Pinrang,akan kami jadikan daerah percontohan dan tidak menutup kemungkinan kabupaten lain,”ujar dia. Shirmp Guard Japan Co Ltd dan Khuyu Medical Co Ltd sebenarnya telah menjajaki Sulsel sejak tujuh tahun lalu dengan meneliti komoditas udang windu.
Meski demikian, mereka terpaksa hengkang akibat kebijakan Pemprov Sulsel untuk mengembangkan uang vaname sehingga komoditas udang windu di daerah ini semakin menurun dari tahun ke tahun. Karena itu, kedua perusahaan ini kembali menjajaki kerja sama dengan Pemprov untuk menggairahkan kembali komoditas uang windu yang pernah berjaya di Sulsel.
Apalagi,Jepang merupakan salah satu negara pengimpor udang windu asal Sulsel. “Sudah ada dua penelitian yang mereka lakukan, yakni antibodi bagi benur udang serta bibit pembersih penyakit di tambak udang. Sebagai importir terbesar udang,Jepang merasa risau karena udang di daerah ini terus mengalami penurunan produksi,” ungkap Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, yang memfasilitasi pertemuan ini. (SI-wahyudi)
Pernyataan ini dilontarkan Gubernur saat menerima kunjungan grup perusahaan ekspor impor asal Jepang Shirmp Guard Japan Co Ltd dan Khuyu Medical Co Ltd di Rujab Gubernur Sulsel siang kemarin. “Target tambak kami cukup besar dan bisa disegarkan dengan merebut kembali predikat sebagai daerah penghasil udang,” ungkap dia kemarin. Menurut Syahrul, beberapa tahun terakhir Sulsel mengembangkan jenis uang vaname, tapi kualitas serta keuntungan yang dihasilkan tak sebesar udang windu.
Karena itu, dia berharap bisa mengelola kembali udang windu. “Kami kerja sama dengan Jepang pada Agustus secara besar-besaran. Dua kabupaten, yakni Takalar dan Pinrang,akan kami jadikan daerah percontohan dan tidak menutup kemungkinan kabupaten lain,”ujar dia. Shirmp Guard Japan Co Ltd dan Khuyu Medical Co Ltd sebenarnya telah menjajaki Sulsel sejak tujuh tahun lalu dengan meneliti komoditas udang windu.
Meski demikian, mereka terpaksa hengkang akibat kebijakan Pemprov Sulsel untuk mengembangkan uang vaname sehingga komoditas udang windu di daerah ini semakin menurun dari tahun ke tahun. Karena itu, kedua perusahaan ini kembali menjajaki kerja sama dengan Pemprov untuk menggairahkan kembali komoditas uang windu yang pernah berjaya di Sulsel.
Apalagi,Jepang merupakan salah satu negara pengimpor udang windu asal Sulsel. “Sudah ada dua penelitian yang mereka lakukan, yakni antibodi bagi benur udang serta bibit pembersih penyakit di tambak udang. Sebagai importir terbesar udang,Jepang merasa risau karena udang di daerah ini terus mengalami penurunan produksi,” ungkap Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, yang memfasilitasi pertemuan ini. (SI-wahyudi)
Sumber : http://www.makassarterkini.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar