MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Keberadaan industri coklat di Kabupaten
Gowa yang mendapatkan batuan mesin Rp16 miliar dari pemerintah pusat
akan dievaluasi karena sampai kini belum beroperasi.
"Nanti akan kita evaluasi," kata Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, usai menghadiri sidang paripurna penetapan Laporan Keterangan Pertanggungjawan gubernur 2010 di gedung DPRD Sulsel di Makassar, Jumat.
Ia menyebut, salah satu kendala yang menyebabkan mesin bantuan dari Kementrian Perindustrian dan Perdagangan tahun 2009 belum dioperasikan karena belum ada petunjuk tekhnis dari pusat.
Sementara, Ketua Komisi B DPRD, Yusa Rasyid Ali, berharap gubernur mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulsel dan Pemkab Gowa untuk mencari cara mengoperasikan mesin tersebut agar tidak menjadi besi tua di kemudian hari.
Politisi Demokrat ini, juga mengatakan komisi B akan memanggil Disperindag untuk meminta penjelasan perihal menganggurnya mesin coklat yang telah di uji coba Mei 2010.
"Saya sangat sayangkan kalau mesin tersebut belum difungsikan, karena bisa karatan. Jadi bagaimanapun caranya Disperindag harus mencarikan cara untuk pengoperasiannya," ujar Yusa beberapa waktu lalu.
Dari penelusuran ANTARA awal Mei lalu di Kawasan Industri Gowa (KIWA), Dusun Biring Romang, Kecamatan Pattalassang didapati mesin tersebut masih menganggur dan terkesan ditelantarkan.
Demikian juga dengan bangunan untuk tempat mesin yang dianggarkan Rp2 miliar di APBD Sulsel sekelilingnya sudah ditumbuhi semak belukar maupun debu yang mulai terlihat sudah membungkus bangunan industri coklat tersebut.
Yusa yang juga Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel menyebut, mesin coklat tersebut memiliki kapasitas produksi 15 ton per hari.
Bahkan anggota DPRD Sulsel, Ilham Noer Toadji, pernah mengusulkan agar mesin cokelat tersebut dipindahkan ke kabupaten penghasil kakao seperti Luwu Utara.
"Sebab di Lutra sudah ada pabrik coklat "Sayang" yang diprakarsai gubernur. Bagus kalau kedua industri tersebut didekatkan atau satu tempat," ucapnya.
"Nanti akan kita evaluasi," kata Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, usai menghadiri sidang paripurna penetapan Laporan Keterangan Pertanggungjawan gubernur 2010 di gedung DPRD Sulsel di Makassar, Jumat.
Ia menyebut, salah satu kendala yang menyebabkan mesin bantuan dari Kementrian Perindustrian dan Perdagangan tahun 2009 belum dioperasikan karena belum ada petunjuk tekhnis dari pusat.
Sementara, Ketua Komisi B DPRD, Yusa Rasyid Ali, berharap gubernur mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulsel dan Pemkab Gowa untuk mencari cara mengoperasikan mesin tersebut agar tidak menjadi besi tua di kemudian hari.
Politisi Demokrat ini, juga mengatakan komisi B akan memanggil Disperindag untuk meminta penjelasan perihal menganggurnya mesin coklat yang telah di uji coba Mei 2010.
"Saya sangat sayangkan kalau mesin tersebut belum difungsikan, karena bisa karatan. Jadi bagaimanapun caranya Disperindag harus mencarikan cara untuk pengoperasiannya," ujar Yusa beberapa waktu lalu.
Dari penelusuran ANTARA awal Mei lalu di Kawasan Industri Gowa (KIWA), Dusun Biring Romang, Kecamatan Pattalassang didapati mesin tersebut masih menganggur dan terkesan ditelantarkan.
Demikian juga dengan bangunan untuk tempat mesin yang dianggarkan Rp2 miliar di APBD Sulsel sekelilingnya sudah ditumbuhi semak belukar maupun debu yang mulai terlihat sudah membungkus bangunan industri coklat tersebut.
Yusa yang juga Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel menyebut, mesin coklat tersebut memiliki kapasitas produksi 15 ton per hari.
Bahkan anggota DPRD Sulsel, Ilham Noer Toadji, pernah mengusulkan agar mesin cokelat tersebut dipindahkan ke kabupaten penghasil kakao seperti Luwu Utara.
"Sebab di Lutra sudah ada pabrik coklat "Sayang" yang diprakarsai gubernur. Bagus kalau kedua industri tersebut didekatkan atau satu tempat," ucapnya.
Sumber : http://makassar.tribunnews.com/2011/05/20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar