Total Tayangan Halaman

Senin, 09 Mei 2011

Sulawesi Selatan Genjot Produksi Pertanian

MAKASSAR – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) berupaya menggenjot produksi hasil pertanian dengan mengembangkan lahan baru seluas 150.000 hingga 200.000 hektare. Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Amal Natsir mengatakan, luas lahan pertanian produktif di Sulsel saat ini sekitar 800.000 hektare. Amal mengatakan, beberapa komoditi andalan seperti beras jagung termasuk kakao akan akan ditingkatkan produksinya. Sesuai rencana pembanguan lima tahun, produksi beras Sulsel ditarget bisa mencapai 10 juta ton. “Tentu kita akan mengembangkan sawahsawah baru,”katanya. Produksi jagung ditargetkan mencapai 7,5 juta ton dan produksi kakao sebanyak 350.000 ton. Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah mempersiapkan beberapa strategi termasuk ketersedian pupuk. Mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Pemprov Sulsel ini mengatakan, upaya tersebut dilakukan karena Sulsel merupakan bagian dari enam koridor ekonomi yang akan dikembangkan hingga 2014. “Kita masuk koridor empat bersama seluruh provinsi se- Sulawesi,”paparnya. Khusus Sulsel, akan menjadi pusat pengembangan produksi pangan, hasil perkebunan, dan perikanan. Menurutnya, pemerintah Sulsel mengundang investor untuk menanamkan modalnya. Dia mengatakan, cukup banyak komoditi andalan yang bisa dikembangkan. Di antaranya, pengembangan industri kakao, tepung beras termasuk jagung bagi pakan ternak. “Untuk pengembangan industri hasil pertanian, kita punya banyak komoditi andalan,” jelasnya. Sementara itu, Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel Yusa Ali pesimistis target tersebut bisa tercapai. Alasannya, banyak faktor yang menjadi sandungannya. “Salah satunya adalah program Gerakan Rehabilitasi Kakao yang belum maksimal,” paparnya. Dia mencontohkan, ada beberapa proyek Gernas yang dilaksanakan dibeberapa daerah baru terlaksana tahun 2009 lalu. Menurutnya, membutuhkan waktu dua tahun agar kakao tersebut berproduksi.“Saya lihat agak berat target itu,” katanya. Yusa menjelaskan, berdasarkan data Askindo produksi kakao Sulsel tahun 2010 lalu, hanya 120.000 ton. Jumlah tersebut dinilai belum signifikan. “Karena seharusnya, jumlah produksinya bisa lebih dari itu,”jelasnya. Yang harus dilakukan pemerintah adalah menjaga mutu produksi kakao Sulsel. Apalagi, penyumbang produksi kakao Sulsel masih datang dari Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dan Sulawesi Tenggara. “Dua daerah itu cukup besar produksinya,”katanya.
Sumber:www.seputar-indonesia.com/Monday, 09 May 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar