Tribun Timur - Sabtu, 25 Juni 2011 17:35 WITA
JEDDAH, TRIBUN-TIMUR.COM - Konjen
RI di Jeddah, Zakariah Azhar, menggunakan waktu sekitar satu jam
1,5 jam waktu pertemuan dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel di
Jeddah, Sabtu (225/6/2011).
Pertemuan dimulai sekitar pukul 10.00 pagi waktu setempat.
Dalam pertemuan itu, Gubernur Syahrul Yasin Limpo didampingi Kepala Bagian Keuangan Yushar Huduri, Kadis Pertanian Luthfi Halide, Kadis Binamarga, Kepala BKPMD Sulsel Irman Yasin limpo, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sulsel, Ketua MUI Prof Dr Abd Rahim Yunus, Ketua DPRD Sulsel Moch Roem, dan sejumlah pejabat serta tokoh masyarakat lainnya.
Sedangkan konjen didampingi Kabiro Ekonomi Djoko Agung, Kabiro Haji Dr Syerodz, dan sejumlah staf lainnya. Konjen Jeddah membawahi tujuh provinsi.
"Alhamdulillah, ini kedua kalinya kami diterima di tempat ini. Selalu hangat. Berbahagia karena ada pemerintah Indonesia yang bersedia menerima kami," kata gubernur.
Dalam pertemuan itu, konjen menyampaikan curahan hati tentang masalah tenaga kerja Indonesia (TKI). Curhat konjen soal TKI mengalir setelah mendengar pertanyaan langsung gubernur soal hukum pancung yang dialami TKW Suriati, beberapa hari lalu.
"TKI sangat membebani perwakilan. Kemarin kita pulangkan lima ribu yang melanggar ketentuan masa tinggal di Saudi, over stayers. Ada yang lari dari majikan, kriminal," jelas konjen.
Menurut Zakariah, dalam kurun waktu Januari-Mei dipulangkan lebih 10 ribu empat ratus lebih. Masih banyak yang belum bisa dipulangkan. "Karena saking banyaknya dan belum ditangkap-tangkap, akhirnya mereka berkumpul di bawah Jembatan Qandara," jelasnya.
Makanya muncul percaloan penangkapan, kalau mau ditangkap bayar lima ribu real. Yang begitu-begitu tidak hanya datang dengan visa TKI, ada juga pakai visa umrah.
"Kita sempat menampung 3000 orang dalam gedung yang kapasitasnya hanya 1500 orang. Ada yang melahirkan di kapal," ujarnya.
Menurut Zakariah, masalah terbesar TKI kita adalah gaji tidak dibayar atau tidak diberikan. Bahkan ada yang sampai kerja jaga anak kambing.
Yang paling disesalkan Zakariah adalah sikap Pemerintah Saudi yang tidak memberitahukan pihak konjen tentang jadwal eksekusi TKW, Suriati, baru-baru ini. "Makanya kita mengecam keras," tegasnya.
Menurut Zakariah, konjen sudah upayakan lobi ke ahli waris korban yang dibunuh Suriati baik melalui Gubernur Mekah dan Lajnah Aff wal Ishlah namun tidak dimaafkan hingga waktu yang ditentukan.
Gubernur bersama istri Ayunsri dan 12 anggota rombongan di antaranya Ketua DPRD Moh Roem tiba di Tanah Suci dini hari, Sabtu waktu Mekah.
Rombongan langsung melaksanakan umrah dengan rangkaian thawaf dan sa'I di Masjidil Haram diakhiri tahallul. Prosesi umrah ini dilakoni rombongan gubernur hingga menjelang adzan pertama waktu subuh, sekitar pukul 03.OO dini hari.
Gubernur bersama rombongan nginap di Hotel Grand Zamzam depan Masjidil Haram. Sabtu pagi, gubernur bersama rombongan dan tim 15 melakukan pembicaraan dengan pihak muassasah dilanjutkan dengan konjen Indonesia di Jeddah.
Muassasah adalah pihak swasta yang menjadi pemenang tender pelaksana haji dari Pemerintah Saudi Arabia. Ada beberapa muassasah yang menjadi penyelenggara haji ini, termasuk muassasah yang khusus melayani jamaah asal Asia Tenggara. Rata-rata perusahaan muassasah ini dipimpin keluarga kerajaan di Saudi.
"Tidak ada orang luar yang menjadi pemilik muassasah ini. Mereka semua keluarga raja," kata mahasiswa Mekah asal Indonesia, Mardani. Selain itu, gubernur dan tim 15 termasuk Ketua BKPMD Sulsel Irman Yasin Limpo dan Kepala Biro Mental Spiritual Syamsibar juga akan melakukan pembicaraan dengan pihak Al Ahmadi di Mekah.
Al Ahmadi adalah perusahaan yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jakarta dan Banten sebagai pemenang tender katering jamaah asal dua daerah di Tanah Suci selama pelaksanaan haji mendatang.
"Kita akan menjajaki bagaimana supaya jamaah asal Sulsel juga ditangani kateringnya secara khusus seperti DKI dan Banten," ujar Syamsibar. Menurut Kabag Biro Mental Spiritual Pemprov Sulsel, Baso Pangerang, dana katering jamaah DKI dan Banten itu seluruhnya ditanggung pemerintah lewat APBD.
"Kita akan jajaki bagaimana supaya Sulsel juga bisa seperti itu," kata mantan staf anggota DPR Nurhayati YL itu.(*)
Pertemuan dimulai sekitar pukul 10.00 pagi waktu setempat.
Dalam pertemuan itu, Gubernur Syahrul Yasin Limpo didampingi Kepala Bagian Keuangan Yushar Huduri, Kadis Pertanian Luthfi Halide, Kadis Binamarga, Kepala BKPMD Sulsel Irman Yasin limpo, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sulsel, Ketua MUI Prof Dr Abd Rahim Yunus, Ketua DPRD Sulsel Moch Roem, dan sejumlah pejabat serta tokoh masyarakat lainnya.
Sedangkan konjen didampingi Kabiro Ekonomi Djoko Agung, Kabiro Haji Dr Syerodz, dan sejumlah staf lainnya. Konjen Jeddah membawahi tujuh provinsi.
"Alhamdulillah, ini kedua kalinya kami diterima di tempat ini. Selalu hangat. Berbahagia karena ada pemerintah Indonesia yang bersedia menerima kami," kata gubernur.
Dalam pertemuan itu, konjen menyampaikan curahan hati tentang masalah tenaga kerja Indonesia (TKI). Curhat konjen soal TKI mengalir setelah mendengar pertanyaan langsung gubernur soal hukum pancung yang dialami TKW Suriati, beberapa hari lalu.
"TKI sangat membebani perwakilan. Kemarin kita pulangkan lima ribu yang melanggar ketentuan masa tinggal di Saudi, over stayers. Ada yang lari dari majikan, kriminal," jelas konjen.
Menurut Zakariah, dalam kurun waktu Januari-Mei dipulangkan lebih 10 ribu empat ratus lebih. Masih banyak yang belum bisa dipulangkan. "Karena saking banyaknya dan belum ditangkap-tangkap, akhirnya mereka berkumpul di bawah Jembatan Qandara," jelasnya.
Makanya muncul percaloan penangkapan, kalau mau ditangkap bayar lima ribu real. Yang begitu-begitu tidak hanya datang dengan visa TKI, ada juga pakai visa umrah.
"Kita sempat menampung 3000 orang dalam gedung yang kapasitasnya hanya 1500 orang. Ada yang melahirkan di kapal," ujarnya.
Menurut Zakariah, masalah terbesar TKI kita adalah gaji tidak dibayar atau tidak diberikan. Bahkan ada yang sampai kerja jaga anak kambing.
Yang paling disesalkan Zakariah adalah sikap Pemerintah Saudi yang tidak memberitahukan pihak konjen tentang jadwal eksekusi TKW, Suriati, baru-baru ini. "Makanya kita mengecam keras," tegasnya.
Menurut Zakariah, konjen sudah upayakan lobi ke ahli waris korban yang dibunuh Suriati baik melalui Gubernur Mekah dan Lajnah Aff wal Ishlah namun tidak dimaafkan hingga waktu yang ditentukan.
Gubernur bersama istri Ayunsri dan 12 anggota rombongan di antaranya Ketua DPRD Moh Roem tiba di Tanah Suci dini hari, Sabtu waktu Mekah.
Rombongan langsung melaksanakan umrah dengan rangkaian thawaf dan sa'I di Masjidil Haram diakhiri tahallul. Prosesi umrah ini dilakoni rombongan gubernur hingga menjelang adzan pertama waktu subuh, sekitar pukul 03.OO dini hari.
Gubernur bersama rombongan nginap di Hotel Grand Zamzam depan Masjidil Haram. Sabtu pagi, gubernur bersama rombongan dan tim 15 melakukan pembicaraan dengan pihak muassasah dilanjutkan dengan konjen Indonesia di Jeddah.
Muassasah adalah pihak swasta yang menjadi pemenang tender pelaksana haji dari Pemerintah Saudi Arabia. Ada beberapa muassasah yang menjadi penyelenggara haji ini, termasuk muassasah yang khusus melayani jamaah asal Asia Tenggara. Rata-rata perusahaan muassasah ini dipimpin keluarga kerajaan di Saudi.
"Tidak ada orang luar yang menjadi pemilik muassasah ini. Mereka semua keluarga raja," kata mahasiswa Mekah asal Indonesia, Mardani. Selain itu, gubernur dan tim 15 termasuk Ketua BKPMD Sulsel Irman Yasin Limpo dan Kepala Biro Mental Spiritual Syamsibar juga akan melakukan pembicaraan dengan pihak Al Ahmadi di Mekah.
Al Ahmadi adalah perusahaan yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jakarta dan Banten sebagai pemenang tender katering jamaah asal dua daerah di Tanah Suci selama pelaksanaan haji mendatang.
"Kita akan menjajaki bagaimana supaya jamaah asal Sulsel juga ditangani kateringnya secara khusus seperti DKI dan Banten," ujar Syamsibar. Menurut Kabag Biro Mental Spiritual Pemprov Sulsel, Baso Pangerang, dana katering jamaah DKI dan Banten itu seluruhnya ditanggung pemerintah lewat APBD.
"Kita akan jajaki bagaimana supaya Sulsel juga bisa seperti itu," kata mantan staf anggota DPR Nurhayati YL itu.(*)
Penulis : AS Kambie
Editor : Ridwan Putra
Sumber : http://makassar.tribunnews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar