Makassar (ANTARA News) - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul
Yasin Limpo menyatakan kakao merupakan komoditas perkebunan yang menjadi
masa depan dari Provinsi Sulsel dan Sulawesi Barat.
"Kakao adalah masa depan Sulsel dan Sulbar. Kami bertekad menjadi produsen kakao terbesar di dunia," katanya di Makassar, Rabu.
Dalam Lokakarya Pengembangan Kakao Berkelanjutan di Indonesia yang diselenggarakan oleh PT Nestle Indonesia tersebut ia mengharapkan akan dihasilkan rumusan-rumusan untuk memperkaya produksi kakao di Indonesia.
"Produksi kakao di Sulsel pada akhir tahun ini ditargetkan mencapai 300 ribu ton. Saat telah mencapai 170 ribu ton," jelasnya yang menambahkan dalam satu tahun terakhir Sulsel telah menanam satu juta pohon.
Target pencapaian produksi tersebut akan didukung oleh pembukaan lahan perkebunan baru seluas 100 hektare di 12 kabupaten.
Ke-12 kabupaten ini akan menjadi percontohan produksi dari hulu ke hilir. "Kami juga melaksanakan program kakao terpadu dengan lahan baru seluas 1000 hektare," jelasnya.
Menurutnya, hubungan pemerintah dan swasta dalam pengembangan kakao adalah hubungan yang saling membutuhkan.
"Kami berharap tidak saling tunggu di muara tapi bersama dari hulu ke hilir. Nestle sangat tepat menempatkan strategi perdagangan dunia dari Sulsel dan bisa berkonsentrasi di Sulawesi," katanya.
Duta Besar Konfederasi Swiss untuk Indonesia Heinz Walker Nederkoom mengatakan, lokakarya ini perlu melibatkan semua pihak untuk kelanjutan hubungan antar kedua negara, tidak hanya di Pulau Jawa tapi juga di luar Jawa agar meluas di seluruh wilayah.
"Kita berusaha menghapus hambatan pemasaran. Visinya adalah keseimbangan antara kedua pihak dan negara dalam hubungan bisnis dan meningkatkan kondisi ekonomi," katanya.
Ia menambahkan, sejak 2009, Indonesia adalah negara yang masuk dalam prioritas hubungan ekonomi dengan Swiss. "Lokakarya ini sangat cocok dengan kerja sama kami. Semoga menjadi pertemuan yang menguntungkan," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut ia juga memuji Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebagai bandara yang cantik dan menunjukkan simbol kedinamisan, kemodernan dan keterbukaan. (T.KR-RY/B012)
"Kakao adalah masa depan Sulsel dan Sulbar. Kami bertekad menjadi produsen kakao terbesar di dunia," katanya di Makassar, Rabu.
Dalam Lokakarya Pengembangan Kakao Berkelanjutan di Indonesia yang diselenggarakan oleh PT Nestle Indonesia tersebut ia mengharapkan akan dihasilkan rumusan-rumusan untuk memperkaya produksi kakao di Indonesia.
"Produksi kakao di Sulsel pada akhir tahun ini ditargetkan mencapai 300 ribu ton. Saat telah mencapai 170 ribu ton," jelasnya yang menambahkan dalam satu tahun terakhir Sulsel telah menanam satu juta pohon.
Target pencapaian produksi tersebut akan didukung oleh pembukaan lahan perkebunan baru seluas 100 hektare di 12 kabupaten.
Ke-12 kabupaten ini akan menjadi percontohan produksi dari hulu ke hilir. "Kami juga melaksanakan program kakao terpadu dengan lahan baru seluas 1000 hektare," jelasnya.
Menurutnya, hubungan pemerintah dan swasta dalam pengembangan kakao adalah hubungan yang saling membutuhkan.
"Kami berharap tidak saling tunggu di muara tapi bersama dari hulu ke hilir. Nestle sangat tepat menempatkan strategi perdagangan dunia dari Sulsel dan bisa berkonsentrasi di Sulawesi," katanya.
Duta Besar Konfederasi Swiss untuk Indonesia Heinz Walker Nederkoom mengatakan, lokakarya ini perlu melibatkan semua pihak untuk kelanjutan hubungan antar kedua negara, tidak hanya di Pulau Jawa tapi juga di luar Jawa agar meluas di seluruh wilayah.
"Kita berusaha menghapus hambatan pemasaran. Visinya adalah keseimbangan antara kedua pihak dan negara dalam hubungan bisnis dan meningkatkan kondisi ekonomi," katanya.
Ia menambahkan, sejak 2009, Indonesia adalah negara yang masuk dalam prioritas hubungan ekonomi dengan Swiss. "Lokakarya ini sangat cocok dengan kerja sama kami. Semoga menjadi pertemuan yang menguntungkan," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut ia juga memuji Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebagai bandara yang cantik dan menunjukkan simbol kedinamisan, kemodernan dan keterbukaan. (T.KR-RY/B012)
Sumber : http://makassar.antaranews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar