Total Tayangan Halaman

Jumat, 29 Juli 2011

LOKAKARYA NASIONAL PENGEMBANGAN KAKAO BERKELANJUTAN

Jumat, 29 Juli 2011 - 04:40:20 WIB



Sulawesi Selatan akan terus memacu pengembangan produksi kakao demi memenuhi permintaan pasar. Untuk Tahun 2012 nanti ditargetkan produksi kakao Sulawesi Selatan bisa mencapai 300 ton atau ada kenaikan 130 ribu ton dari sebelumnya 170 ribu ton tahun 2010 lalu. Gubernur Sulawesi Selatan, H.  Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan hal tersebut saat tampil pada Lokakarya Nasional Pengembangan Kakao Berkelanjutan yang digelar di Hotel Grand Clarion, Rabu 27 Juli 1011. Lokakarya dirangkaikan dengan penandatanganan Momerandum of Understanding (MoU) tentang pengembangan kakao ini merupakan hasil kerja sama Pemprov. Sulawesi Selatan dengan PT.  Nestle Indonesia.
Menurut Gubernur, Pemerintah  Sulawesi Selatan  sedang menyiapkan  berbagai konsep demi mencapai  angka  tersebut diantaranya setiap daerah minimal ada 100 hektar tanaman kakao. Ada 16 kabupaten yang menjadi sentra kakao di Sulawesi Selatan dan daerah itu masih bisa dikembangkan dua kali lipat dari jumlah produksi yang ada saat ini. Di depan Duta Besar (Dubes) Swiss untuk  Indonesia, Heinz Walker Nederkoom dan para petinggi PT. Nestle Indonesia, Gubernur juga mengungkapkan  bahwa saat ini pihaknya sedang menggalakkan  Show Window atau Program Kakao Terpadu. Tahun ini ada 6 juta pohon yang siap panen untuk mendongkrak kenaikan jumlah produksi. Peremajaan dan perluasan areal,I ntensifikasi dan rehabilitasi tanaman kakao juga sedang digalakkan dan diharapkan, pada tahun 2013 produksi di targetkan sekitar 348.665 ton.
Sementara itu, PT. Nestle Indonesia akan membantu program pengembangan dan peningkatan kualitas kakao di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dengan  meneken tiga bentuk kerja sama. Tidak tanggung-tanggung, PT. Nestle Indonesia menggelontarkan petani kakao hingga Tahun 2015. Presiden Direktur PT. Nestle Indonesia, Arshad Chaudry menuturkan, pihaknya akan meluncurkan program kemitraan publik dan swasta dengan para pemangku kepentingan kakao, untuk pengembangan kakao yang berkelanjutan di Indonesia. Praktik pertanian yang berkelanjutan akan membantu masyarakat terutama para perempuan dan generasi muda di daerah pedesaan untuk mendapatkan penghasilan tetap.
 Adapun tiga naskah Momerandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani pada kesempatan ini adalah terkait dengan pengadaan Program Pelatihan untuk meningkatkan  produktivitas dan kualitas dari biji kakao sekaligus menjaga kelestarian lingkungan antara pihak Nestle Indonesia dengan Pemprov. Sulawesi Selatan. Nota kesepahaman kedua adalah tentang pemberdayaan petani yang diharapkan dapat menyuplai kakao dan dapat di lacak balik untuk Nestle yang ditandatangani oleh pihak Nestle Indonesia dan pihak PT Amajaro Indonesia.
Amajaro adalah pembeli kakao dari petani untuk kemudian memasoknya ke produsen coklat besar diantaranya, Nestle, Cadbury dan lainnya. Sementara itu, nota kesepahaman lainnya adalah tentang pengembangan kakao yang berkelanjutan di Indonesia, yang akan ditindak lanjuti dengan kerja sama antara Pemprov Sulawesi Barat dan pihak Nestle untuk pengembangan kebun percontohan di Mamuju, Sulawesi Barat.
Nanna/Yuni ( Kamis, 28 Juli 2011 ) 

Sumber : http://www.sulsel.go.id






Tidak ada komentar:

Posting Komentar