Thursday, 07 July 2011
MAKASSAR – Predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) terhadap Laporan
Pengelolaan Keuangan Daerah (LKPD) Sulsel membuktikan keseriusan Syahrul
Yasin Limpo dalam menjalankan roda pemerintahannya menuju clean
government.
Bahkan, opini WTP dari Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) RI tersebut dinilai sebagai investasi politik
dan bisa menjadi jualan dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 2013
mendatang. Pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Dedy Tikson
dan Adi Suryadi Culla menilai, penghargaan yang diperoleh Syahrul selaku
Gubernur Sulsel ini merupakan sebuah prestasi dalam sistem pengelolaan
keuangan dan anggaran dalam pemerintahannya sekarang ini.
Prestasi
itu bahkan diyakini bisa mendongkrak kepercayaan publik terhadap
pasangan Syahrul Yasin Limpo- Agus Arifin Nu’mang (Sayang).
Namun,Syahrul menyatakan bahwa prestasi WTP itu adalah milik seluruh
kepaladaerahdi24 kabupaten/kota dan masyarakat Sulsel.“Jangan pernah
pikir ini untukpilkada.
Tidakadaitu.Kita semua hanya mengabdi.
Olehnya itu,Ilham (Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin) bagus,
bupati bagus. Di kepala saya tidak ada itu. Jangan campur adukkan
pemerintahan dengan politik,” pungkasnya. Dia mengakui tidak akan
mempersoalkan jika tidak terpilih dalam Pilgub 2013.
Bahkan,
diamenjamintidakakanmeninggalkan beban bagi penggantinya nanti.“Kalau
ada persoalan,periksa saya dari sekarang.Penjara saya. Daripada nanti
pensiun baru diperiksa,”tegasnya. Sebelumnya, anggota BPK VI RI Rizal
Jalil menjelaskan, opini WTP yang diraih Sulsel telah melalui
pemeriksaan selama 45 hari terhadap pendapatan asli daerah (PAD) sebesar
Rp2,4 triliun dengan realisasi Rp2,5 triliun atau surplus sekitar Rp77
miliar.
Sementara, dari segi belanja daerah sebesar Rp2,7
triliun mampu direalisasikan sebesar Rp2,4 triliun atau terdapat sisa
lebih perhitungan anggaran (Silpa) sebesar Rp290 miliar. Menurut Dedy
Tikson,opini BPK tersebut merupakan bukti dan tidak bisa diganggu gugat
penilaiannya karena diberikan langsung oleh lembaga resmi milik
pemerintah. “Kalau gubernur mengatakan ini prestasinya,ya memang seperti
itu dari sisi formalnya.
Ini bisa dijadikan jualan politik baru
untuk maju di periode berikutnya,” ujar Dedy kepada SINDO di Makassar
tadi malam. Apalagi, lanjut dia, opini WTP tersebut diperoleh Syahrul
yang dari tiga tahun lalu berangkat dari penilaian disclaimer, lalu
wajar dengan pengecualian (WDP), kemudian melompat menjadi WTP seperti
yang dikeluarkan oleh BPK RI saat ini.
Meski demikian, prestasi
tersebut hanya menggambarkan satu sisi, yaitu dari segi pengelolaan
keuangan daerah. Bisa saja, tambah Dedy, sisi kelemahan Syahrul di
bidang lainnya dimanfaatkan lawan politiknya untuk menyerang. “Bisa saja
lawan politiknya mempertanyakan bidang lainnya yang dianggap
lemah.Tapi, prestasi WTP yang diperoleh Syahrul ini tidak bisa diganggu
lagi,”tandasnya.
Hal senada diungkapkan pengamat politik Adi
Suryadi Culla. Menurutnya, prestasi yang menjadi indikator kesuksesan
kepemimpinan Syahrul itu patut diapresiasi dan menjadi panutan terhadap
provinsi lain di era transparansi dan otonomi daerah. “Prestasi itu
memberikan gambaran kepemimpinan Syahrul yang berupaya melakukan
transparansi keuangan sehingga terbebas dari perilaku korupsi,” kata Adi
kepada SINDO,tadi malam.
Dosen Unhas ini mengatakan, prestasi
yang diraih Syahrul tersebut mampu meminimalisir ketidak percayaan
masyarakat di Indonesia terhadap sejumlah kasus kepala daerah yang
terlilit kasus dugaan korupsi karena penyimpangan anggaran daerah.
Selain itu, lanjut dia, prestasi tersebut tentunya menjadi modal yang
paling berharga dan senjata ampuh bagi Syahrul pada Pilgub Sulsel
mendatang.
Dalam artian, predikat WTP itu mampu menangkal dugaan
kasus korupsi yang konon dilakukan oleh lawan politik. “Ini pastinya
menjadi modal politik yang kuat bagi Syahrul ke depan. Prestasi itu
pastinya mendapat trust dari masyarakat dan berimplikasi cukup baik pada
perjalanannya mendatang.Inilah investasi bagi Pak Syahrul jika ingin
mencalonkan diri pada pilgub mendatang,”tandasnya.
Sementara
itu, Syahrul Yasin Limpo menegaskan, Pemprov Sulsel meraih prestasi WTP
dari BPK RI tanpa sogokan. Menurut dia,BPK merupakan intansi yang
independen dan keputusannya merupakah hasil nyata dari penelitian
keuangan daerah yang tidak bisa diubah oleh Presiden sekalipun.“BPK
merupakan intansi independen dan tidak di bawah Presiden,yang tidak bisa
dinegosiasi dan tanpa sogok-menyogok.Presiden pun tidak bisa menerobos.
BPK punya aturan sendiri dan auditornya tidak terkontaminasi
dengan hal apapun,” ungkapnya di Rujab Gubernur Sulsel kemarin. Mantan
Bupati Gowa ini menganggap pemberian opini WTP tersebut melengkapi
penerimaan 80 penghargaan yang diperoleh Pemprov Sulsel sejak tiga tahun
terakhir dari pemerintah pusat.Dia menyebutkan, pencapaian ini
merupakan penghargaan yang luar biasa.
Sebelumnya, Sulsel meraih
posisi kedua terbaik provinsi di Tanah Air dalam kinerja
penyelenggaraan pemerintahan,dan berada di bawah Sulut.Hal tersebut
karena tahun sebelumnya daerah ini hanya bisa meraih opini wajar dengan
pengecualian (WDP) dari BPK RI.
Karena itu,dengan predikat WTP
yang tersebut, pihaknya optimis dapat menjadi provinsi terbaik di
Indonesia di tahun mendatang, dari segi pelayanan publik, kesehatan dan
pendidikan masyarakat, reformasi birokrasi daerah,realisasi
pembangunan,serta keuangan daerah. “Beberapa waktu lalu, Sulsel
mendapatkan penghargaan yang sangat luar biasa dari badan yang
independen. Tanggal 17 Agustus nanti, saya akan berada di Istana Negara
untuk mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karya Bakti Praja Nugraha
dari Presiden,” katanya. mulyadi abdillah/wahyudi
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar