Thursday, 07 July 2011
MAKASSAR – Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo bersikeras menempatkan
putra daerah duduk menjadi orang nomor satu di PT Semen Tonasa
(Persero). Hal itu disampaikan Syahrul,menyusul belum adanya keputusan
final siapa kelak yang bakal menduduki jabatan direktur utama (dirut) di
perusahaan BUMN ini.
Sebaiknya para pemegang saham memperhatikan potensi orang lokal dalam memimpin perusahaan itu.Tidak hanya sekadar memikirkan kepentingan perusahaan semata.“Siapa pun putra daerah pasti akan didukung, asalkan yang ditunjuk itu memiliki kompetensi,” ujarnya di Makassar,kemarin. Mantan Bupati Gowa ini mengatakan, sebenarnya alasan Pemprov tetap mempertahankan dirut saat ini, Sattar Taba, hanya untuk menyelamatkan proyek Tonasa V yang bernilai Rp5,7 triliun.
Dikhawatirkan jika terjadi pergantian dirut sebelum proyek rampung, akan memengaruhi proses yang sedang berjalan. Syahrul menjelaskan, sangat wajar Pemprov tetap memilih putra daerah. Pasalnya, untuk melanjutkan megaproyek di pabrik penghasil semen terbesar di KTI ini, dia yang menjadi jaminan untuk pinjaman kredit di bank bernilai triliunan. ”Saya jaminannya, makanya perbankan berani memberikan pinjaman begitu besar.
Saya berani klaim itu usaha keras dari periode saya selaku Gubernur,” ungkapnya. Syahrul mengungkapkan, pengalaman buruk pernah dialami Pemprov ketika perusahaan itu dipimpin orang luar.Di mana, Pabrik Kertas Gowa (PKG) bangkrut. Sementara itu, saat disinggung soal posisi Sattar Taba yang tak memenuhi syarat sesuai Peraturan Menteri BUMN dan tidak boleh lagi menjabat pada periode ketiga, Syahrul justru mempertanyakan fenomena itu terjadi di BUMN lain.
“Kenapa di Tonasa tidak diberlakukan hal serupa,”katanya. Dia mencontohkan, di maskapai Garuda Indonesia ada yang pernah menjabat sebagai dirut hingga lebih dari dua periode, begitu juga PT Perkebunan Nusantara. “Kenapa BUMN lain bisa,Tonasa yang memiliki kinerja bagus tidak bisa. Jangan ada perbedaan. Apalagi sama-sama perusahaan BUMN,”ujarnya. Tidak jadi soal ketika proyek rampung, kemudian para pemegang saham mengganti Sattar asal putra daerah. suwarny dammar
Sebaiknya para pemegang saham memperhatikan potensi orang lokal dalam memimpin perusahaan itu.Tidak hanya sekadar memikirkan kepentingan perusahaan semata.“Siapa pun putra daerah pasti akan didukung, asalkan yang ditunjuk itu memiliki kompetensi,” ujarnya di Makassar,kemarin. Mantan Bupati Gowa ini mengatakan, sebenarnya alasan Pemprov tetap mempertahankan dirut saat ini, Sattar Taba, hanya untuk menyelamatkan proyek Tonasa V yang bernilai Rp5,7 triliun.
Dikhawatirkan jika terjadi pergantian dirut sebelum proyek rampung, akan memengaruhi proses yang sedang berjalan. Syahrul menjelaskan, sangat wajar Pemprov tetap memilih putra daerah. Pasalnya, untuk melanjutkan megaproyek di pabrik penghasil semen terbesar di KTI ini, dia yang menjadi jaminan untuk pinjaman kredit di bank bernilai triliunan. ”Saya jaminannya, makanya perbankan berani memberikan pinjaman begitu besar.
Saya berani klaim itu usaha keras dari periode saya selaku Gubernur,” ungkapnya. Syahrul mengungkapkan, pengalaman buruk pernah dialami Pemprov ketika perusahaan itu dipimpin orang luar.Di mana, Pabrik Kertas Gowa (PKG) bangkrut. Sementara itu, saat disinggung soal posisi Sattar Taba yang tak memenuhi syarat sesuai Peraturan Menteri BUMN dan tidak boleh lagi menjabat pada periode ketiga, Syahrul justru mempertanyakan fenomena itu terjadi di BUMN lain.
“Kenapa di Tonasa tidak diberlakukan hal serupa,”katanya. Dia mencontohkan, di maskapai Garuda Indonesia ada yang pernah menjabat sebagai dirut hingga lebih dari dua periode, begitu juga PT Perkebunan Nusantara. “Kenapa BUMN lain bisa,Tonasa yang memiliki kinerja bagus tidak bisa. Jangan ada perbedaan. Apalagi sama-sama perusahaan BUMN,”ujarnya. Tidak jadi soal ketika proyek rampung, kemudian para pemegang saham mengganti Sattar asal putra daerah. suwarny dammar
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar