Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (kanan) saat Lokakarya Pengembangan
Kakao Berkelanjutan di Indonesia oleh PT Nestle Indonesia di Hotel
Clarion, Makassar, kemarin.
MAKASSAR – PT Nestle Indonesia menanamkan investasi sebesar USD4 juta untuk pengembangan kakao di Indonesia hingga tahun 2015.Presiden Direktur PT Nestle Indonesia Arshad Chaudry mengatakan, nilai investasi tersebut dapat meningkatkan produktivitas petani kakao Indonesia minimal 30%.
Meski belum dipastikan kemana saja dana tersebut digelontorkan, yang pasti Sulsel dan Sulbar menjadi prioritas Nestle dalam berinvestasi. Nestle menilai Sulsel dan Sulbar adalah provinsi penghasil kakao terbesar. “Kami yakin, untuk mencapai kesuksesan perusahaan dalam jangka panjang serta menciptakan manfaat bagi para pemegang saham,kami harus menciptakan manfaat bagi masyarakat luas.” ”Kami menamakan pendekatan ini sebagai creating shared value (menciptakan manfaat bersama) yang merupakan bagian dari strategi bisnis Nestle,” katanya dalam Lokakarya Pengembangan Kakao Berkelanjutan di Indonesia oleh PT Nestle Indonesia di Hotel Clarion,Makassar,kemarin.
Menurut dia,Nestle Indonesia meluncurkan program kemitraan publik dan swasta dengan sejumlah pemerintah kabupaten/ kota untuk pengembangan kakao di Indonesia. Program tersebut merupakan bagian dari program Nestle di seluruh dunia “The Cocoa Plan”. Program ini akan membantu petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tanamannya. Untuk membangun pabrik di Makassar belum direncanakan. Namun,kerja sama ini merupakan program jangka panjang. Lewat kemitraan “The Cocoa Plan”nanti,petani diharapkan meningkatkan produktivitas mereka sedikitnya 30% hingga tahun 2015 dari total investasi.
Lebih lanjut, Nestle berharap lokakarya ini menjadi sarana bagi pemerintah pusat dan daerah, asosiasi industri, dan semua pihak untuk berbagi ide dan pemikiran sehingga dapat menciptakan kemitraan saling menguntungkan. Dia juga mengatakan, untuk saat ini pihaknya akan fokus pada petani penghasil kakao. Lokakarya Pengembangan Kakao di Hotel Clarion kemarin dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan kakao berkelanjutan antara Nestle Indonesia dan PT Petra Foods Ltd, kerja sama Nestle dan Amajaro, dan kerja sama Nestle R&R Plant Sicience dan Puslit Kakao.
Pusat Kakao Dunia
Sementara itu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menyatakan kakao merupakan komoditas perkebunan yang menjadi masa depan dari Provinsi Sulsel dan Sulbar. Karena itu, Sulsel bisa menjadi produsen kakao terbesar di dunia. “Produksi kakao di Sulsel akhir tahun ini ditargetkan mencapai 300.000 ton. Saat ini telah mencapai 170.000 ton,” kata Syahrul.
Untuk mewujudkan target tersebut, akan dibuka lahan perkebunan baru seluas 100 hektare di 12 kabupaten.Ke-12 kabupaten ini nantinya yang menjadi percontohan produksi dari hulu ke hilir. Karena itu,tawaran kerja sama dari PT Nestle Indonesia sangat strategis bagi Sulsel menuju pusat kakao dunia. “Sulsel menuju pusat kakao terbesar di dunia.Kami merasa kehadiran Nestle sangat dibutuhkan dan saling membutuhkan.Daerah ini pantas untuk dijadikan strategi perdagangan baru oleh Nestle.
Apalagi penerbangan mendukung. Kalau Nestle konsen di kakao, kami akan tambah dengan Sulbar dan Sultra dan akan dibuat pabriknya di sini,” jelasnya. Menurut Syahrul, hubungan pemerintah dan swasta dalam pengembangan kakao adalah hubungan yang saling membutuhkan.“ Kami berharap tidak saling tunggu di muara tapi bersama dari hulu ke hilir. Nestle sangat tepat menempatkan strategi perdagangan dunia dari Sulsel,” katanya. Duta Besar Konfederasi Swiss untuk Indonesia Heinz Walker Nederkoom mengatakan, lokakarya ini perlu melibatkan semua pihak untuk kelanjutan hubungan antar kedua negara, tidak hanya di Pulau Jawa tapi juga di luar Jawa agar meluas di seluruh wilayah.
Dia mengatakan,sejak 2009,Indonesia adalah negara yang masuk dalam prioritas hubungan ekonomi dengan Swiss.“Lokakarya ini sangat cocok dengan kerja sama kami.Semoga menjadi pertemuan yang menguntungkan,” ujarnya. andi amriani
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com
| Thursday, 28 July 2011 | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar