Kamis, 28-07-2011
|
MAKASSAR,BKM -- Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan
dan Barat akan turut mengawasi spekulasi harga bahan pangan menjelang
dan selama bulan suci Ramadhan. Polda bersama pemerintah provinsi
menegaskan, tidak akan menolerir pengusaha atau distributor yang
menimbun pangan.
"Hukumannya bisa sampai hukuman mati jika dampaknya mengacaukan perekonomian secara nasional," ujar Kepala Polda Sulselbar Irjen Polisi Johny Wainal Usman di sela rapat koordinasi (rakor) kesiapan pasokan dan ditribusi kebutuhan pokok masyarakat, menghadapi puasa dan Idul Fitri di Baruga Sangiangseri Rujab Gubernur Sulsel, Rabu (27/7) siang.
Dijelaskan Johny, Undang-Undang Darurat Nomor 7 tahun 1955 telah mengatur tentang ancaman pidana pelaku penimbunan bahan pangan. "Sudah jelas ancamannya, dan pihak kepolisian akan melakukan pemantauan di sejumlah tempat di Sulselbar. Jangan sampai ada yang melakukan pelanggaran tersebut," tandasnya lagi.
Johny mengaku, sepekan menjelang Ramadhan, ia belum menemukan adanya indikasi penimbunan bahan pokok yang mengarah kepada kekacauan ekonomi di Sulsel. Yang ada, sambungnya, adalah kenaikan harga yang merupakan hal yang biasa.
Akan tetapi, pengawasan tetap harus dilakukan karena Sulsel termasuk salah satu daerah rawan.
"Belum ada kasus yang kami dapatkan kok. Cuma memang akan diantisipasi dan terus dilakukan pemantauan di lapangan," terangnya.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, di tempat yang sama mengatakan, kenaikan harga bahan pokok saat menjelang dan selama Ramadhan merupakan hal yang biasa. "Namun kenaikan harga ini jangan sampai menyusahkan konsumen. Kalau bisa kenaikannya jangan melebihi 15 persen," ujar Syahrul di hadapan sejumlah bupati, muspida dan pejabat Pemprov Sulsel lainnya.
Disebutkan pula, stok bahan pangan selama Ramadhan tidak perlu diragukan lagi. Termasuk. Kata dia, ketersediaan bahan bakar minyak maupun gas.
Sementara itu, Kepala Divre Bulog Sulawesi Rito Angky Pratomo, mengatakan, stok beras untuk Ramadhan dipastikan aman. Bahkan, kata dia, pasokannya masih mencukupi hingga 11 bulan ke depan.
"Stok beras kita aman kok. Saat ini sudah masuk lagi 70 ribu ton beras. Setelah panen nanti pada Agustus dan September akan bisa diperoleh lagi 62 ribu ton yang bisa memenuhi Kawasan Timur Indonesia (KTI)," terangnya.
Hal yang sama juga diungkapkan GM Administration Edwin Chester yang memproduksi tepung terigu. Kata dia, stok terigu masih besar di Sulsel.
"Produksi kami terus meningkat dengan rata-rata 2.000 ton per hari," katanya.
"Hukumannya bisa sampai hukuman mati jika dampaknya mengacaukan perekonomian secara nasional," ujar Kepala Polda Sulselbar Irjen Polisi Johny Wainal Usman di sela rapat koordinasi (rakor) kesiapan pasokan dan ditribusi kebutuhan pokok masyarakat, menghadapi puasa dan Idul Fitri di Baruga Sangiangseri Rujab Gubernur Sulsel, Rabu (27/7) siang.
Dijelaskan Johny, Undang-Undang Darurat Nomor 7 tahun 1955 telah mengatur tentang ancaman pidana pelaku penimbunan bahan pangan. "Sudah jelas ancamannya, dan pihak kepolisian akan melakukan pemantauan di sejumlah tempat di Sulselbar. Jangan sampai ada yang melakukan pelanggaran tersebut," tandasnya lagi.
Johny mengaku, sepekan menjelang Ramadhan, ia belum menemukan adanya indikasi penimbunan bahan pokok yang mengarah kepada kekacauan ekonomi di Sulsel. Yang ada, sambungnya, adalah kenaikan harga yang merupakan hal yang biasa.
Akan tetapi, pengawasan tetap harus dilakukan karena Sulsel termasuk salah satu daerah rawan.
"Belum ada kasus yang kami dapatkan kok. Cuma memang akan diantisipasi dan terus dilakukan pemantauan di lapangan," terangnya.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, di tempat yang sama mengatakan, kenaikan harga bahan pokok saat menjelang dan selama Ramadhan merupakan hal yang biasa. "Namun kenaikan harga ini jangan sampai menyusahkan konsumen. Kalau bisa kenaikannya jangan melebihi 15 persen," ujar Syahrul di hadapan sejumlah bupati, muspida dan pejabat Pemprov Sulsel lainnya.
Disebutkan pula, stok bahan pangan selama Ramadhan tidak perlu diragukan lagi. Termasuk. Kata dia, ketersediaan bahan bakar minyak maupun gas.
Sementara itu, Kepala Divre Bulog Sulawesi Rito Angky Pratomo, mengatakan, stok beras untuk Ramadhan dipastikan aman. Bahkan, kata dia, pasokannya masih mencukupi hingga 11 bulan ke depan.
"Stok beras kita aman kok. Saat ini sudah masuk lagi 70 ribu ton beras. Setelah panen nanti pada Agustus dan September akan bisa diperoleh lagi 62 ribu ton yang bisa memenuhi Kawasan Timur Indonesia (KTI)," terangnya.
Hal yang sama juga diungkapkan GM Administration Edwin Chester yang memproduksi tepung terigu. Kata dia, stok terigu masih besar di Sulsel.
"Produksi kami terus meningkat dengan rata-rata 2.000 ton per hari," katanya.
Sumber : http://www.beritakotamakassar.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar