Total Tayangan Halaman

Kamis, 28 Juli 2011

Sulsel Target Produksi Kakao 300 Ribu Ton

Kamis, 28 Juli 2011 | 08:09:47 WITA

Nestle Bantu Peningkatan Kualitas

Nurhadi/Fajar
TARGET PASAR. Dari kiri; William Chuang, Wisman Djaja, Syahrul Yasin Limpo, dan Arshad Chaudhry usai penandatangan MoU program pelatihan peningkatan produktivitas biji kakao di Hotel Grand Clarion, Rabu 27 Juli.
MAKASSAR, FAJAR -- Sulsel akan terus memacu perkembangan produksi kakao demi memenuhi permintaan pasar. Untuk tahun 2012 nanti ditargetkan produksi kakao Sulsel bisa mencapai 300 ribu ton atau ada kenaikan 130 ribu ton dari sebelumnya 170 ribu ton tahun 2010 lalu.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan hal tersebut saat tampil pada Lokakarya Nasional Pengembangan Kakao Berkelanjutan yang digelar di Hotel Grand Clarion, Rabu 27 Juli. Lokakarya dirangkaikan dengan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) tentang pengembangan kakao ini merupakan hasil kerja sama pemprov Sulsel dengan PT Nestle Indonesia.

Menurut gubernur, pemerintah Sulsel sedang menyiapkan berbagai konsep demi mencapai angka tersebut. Di antaranya, kata dia, setiap daerah minimal ada 100 hektare tanaman kakao. Ada 16 kabupaten yang menjadi sentra kakao di Sulsel dan daerah itu masih bisa dikembangkan dua kali lipat dari jumlah produksi yang ada saat ini.

Di depan Duta Besar (Dubes) Swiss untuk Indonesia, Heinz Walker Nederkoom dan para petinggi PT Nestle Indonesia, gubernur juga mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang menggalakkan show window atau program kakao terpadu. Tahun ini ada 6 juta pohon yang siap panen untuk mendongkrak kenaikan jumlah produksi.

Peremajaan, perluasan areal, intensifikasi dan rehabilitasi tanaman kakao juga sedang digalakkan. Diharapkan, pada 2013 produksi ditargetkan sekitar 348.665 ton.

Menurut dia, selain kendala tanaman kakao sudah banyak yang berumur tua, sehingga kurang produktif lagi, juga sumber bahan tanaman umumnya asalan dan serangan hama serta penyakit yang menyerang tanaman kakao seperti hama penggerek buah. “Kehadiran Nestle ini sangat kami butuhkan dan kami juga yakin Nestle pun membutuhkan kami,” ungkapnya sembari menyebut saat ini Sulsel masih menjadi produsen kakao terbesar di Indonesia.

Peningkatan Kualitas

Sementara itu, PT Nestle Indonesia akan membantu program pengembangan dan peningkatan kualitas kakao di Sulsel dan Sulbar dengan meneken tiga bentuk kerja sama. Tidak tanggung-tanggung, PT Nestle Indonesia menggelontorkan USD4 juta untuk program pembinaan petani kakao hingga 2015.

Presiden Direktur PT Nestle Indonesia Arshad Chaudhry menuturkan pihaknya akan meluncurkan program kemitraan publik dan swasta dengan para pemangku kepentingan kakao, untuk pengembangan kakao yang berkelanjutan di Indonesia.

“Praktik pertanian yang berkelanjutan akan membantu masyarakat terutama para perempuan dan generasi muda di daerah perdesaan untuk mendapatkan penghasilan tetap,” ujar Arshad.

Adapun tiga naskah MoU yang ditandatangani pada kesempatan ini adalah terkait dengan pengadaan Program Pelatihan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas dari biji kakao sekaligus menjaga kelestarian lingkungan antara pihak Nestle Indonesia dengan Pemprov Sulsel.

Nota Kesepahaman kedua adalah tentang pemberdayaan petani yang diharapkan dapat menyuplai kakao dan dapat dilacak balik untuk Nestle yang ditandatangani oleh pihak Nestle Indonesia dan pihak PT Amajaro Indonesia.

Amajaro adalah pembeli kakao dari petani untuk kemudian memasoknya ke produsen coklat besar di antaranya Nestle, Cadbury dan lainnya.

Sementara itu, nota kesepahaman lainnya adalah tentang pengembangan kakao yang berkelanjutan di Indonesia, yang akan ditindak lanjuti dengan kerja sama antara Pemprov Sulbar dan pihak Nestle untuk pengembangan kebun percontohan di Mamuju, Sulawesi Barat.

Nestle Indonesia menggelar lokakarya bertema Pengembangan Kakao yang Berkelanjutan di Indonesia. Program tersebut merupakan kelanjutan dari World Economic Forum Asia Timur di Jakarta pada Juni 2011 terkait pembangunan perdesaan yang berkelanjutan. PT Nestle juga sedang mengembangkan pabrik Milo di Karawang dan itu kata Supply Chain Director PT Nestle, R Wisman Djaja, pabrik tersebut membutuhkan 1000 ton biji kopi ekuivalen per hari dalam bentuk bubuk kakao yang sebagian besar dipasok dari Sulsel dan Sulbar. (aci-asw)
 
Sumber : http://www.fajar.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar