Total Tayangan Halaman

Rabu, 13 Juli 2011

Wagub Serahkan Bantuan Pupuk Organik

Rabu, 13 Juli 2011 | 19:16:54 WITA | 7 HITS


Asriadi/Fajar
BANTU PETANI. Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’man didampingi Bupati Soppeng Andi Soetomo dan Kadis Pertanian Sulsel, Lutfi Halide secara simbolis menyerahkan bantuan pukuk ke petani di Kabupaten Soppeng, Selasa, 12 Juli.
WATANSOPPENG, FAJAR -- Petani Soppeng mendapatkan bantuan langsung pupuk (BLP) khusus organik dari Pemprov Sulsel sebanyak 944 ton. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu'mang

di rumah jabatan bupati Soppeng, Selasa, 12 Juli.

Wagub, Agus Arifin Nu'mang mengatakan, bantuan tersebut sebagai apresiasi pengembangan pupuk organik di Sulsel. Sekaligus mendukung program surplus 2 juta ton beras.

"Selain ekonomi dan pendidikan bidang pertanian harus ditingkatkan.  Khususnya mendukung overstok beras nasional  2 juta ton yang telai dicapai," kata Agus.

Agus mengklaim secara nasional sektor pertanian di Sulsel selalu meningkat. Sehingga wajar jika pemerintah pusat menaruh perhatian besar di Sulsel, karena daerah ini memberikan sumbangsi besar dalam produksi pertanian.

Kendati demikian, lanjut Agus, yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah, yakni pembangunan infrastruktur pertanian. Khusunya masalah irigási dan sarana pertanian lainnya.

Bupati Soppeng HA Soetomo mengatakan bantuan pupuk yang langsung diberikan ke petani merupakan salah satu bentuk pelayanan pemenuhan kebutuhan petani.  Bantuan yang diterima petani Soppeng sekitar 10 persen dari total BLP untuk Sulsel. Soppeng termasuk peraih bantuan terbesar setelah Pinrang dan Sidrap.

"Perhatian pemerintah untuk petani di Soppeng sangat besar. Bantuan tersebut patut disyukuri agar bisa meningkatkan hasil produksi petani di daerah ini," ujar Soetomo.

Kadis Pertanian Sulsel, Lutfi Halide memuji keberhasilan pertanian di Soppeng. Menurutnya, jumlah pupuk yang diberikan sebanyak 944 ton sesuai dengan kinerja dan keberhasilan Soppeng. (asr)

Sumber : http://www.fajar.co.id

1 komentar:

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM
    KETIKA PANEN TIBA

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia, NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) , dengan produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahuin yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik. Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.
    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Solusi yang lebih praktis dan sangat mungkin dapat diterima oleh masyarakat petani kita mungkin dapat kami tawarkan, yaitu: BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB LENGKAP AVRON / SO” + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS ( EM16+ ).
    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.

    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    CATATAN: Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu menjadi agen sosial penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
    Semoga Indonesia sehat yang dicanangkan pemerintah dapat segera tercapai.
    Terimakasih,
    Omyosa -- Jakarta Selatan
    02137878827; 081310104072

    BalasHapus