NURLINA/FAJAR
BAHAN DASAR. Beragam produk berbahan dasar rumput laut dipamerkan bersamaan peresmian industri pengolahan ikan dan rumput laut, Senin, 4 Juli.
BAHAN DASAR. Beragam produk berbahan dasar rumput laut dipamerkan bersamaan peresmian industri pengolahan ikan dan rumput laut, Senin, 4 Juli.
SENGKANG, FAJAR
-- Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, meresmikan pencanangan
industri pengolahan ikan gabus dan pengolahan rumput laut yang ada di
Kabupaten Wajo, kemarin. Pencanangan dipusatkan di Jalan 45 Sengkang
yang kebetulan berdekatan dengan permukiman nelayan Danau Tempe.
Saat ini, Wajo memiliki 27 kelompok industri pengolahan ikan dan tiga kelompok untuk pengolahan rumput laut. Salah satu produk pengolahan ikan gabus yang sudah dipasarkan hingga ke beberapa daerah di Sulsel adalah abon ikan. Sedangkan produk dari rumput laut seperti keripik, permen jeli, beragam jenis sirup, serta agar-agar.
Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu'mang, turut hadir pada pencanangan tersebut. Pejabat lainnya adalah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel, Andi Murny, Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru, Sekkab Wajo Andi Witman, Kadis Perindustrian dan Perdagangan Wajo Andi Ampa Passamula, serta Kadis Kelautan dan Perikanan Andi Bengawan Basir.
Ampa Passamula mengatakan, saat ini, pengolahan rumput laut masih fokus ke produk makanan dan minuman. Rencananya, Pemkab Wajo juga mengembangkan untuk pembuatan bahan-bahan komestik.
"Sekarang ini yang masih dikelola adalah pembuatan kue dan minuman. Makanya untuk pengembangan, kita fokus arahkan untuk enam kecamatan yang termasuk daerah pesisir seperti Takkalla, Penrang, Sajoanging Keera, Pitumpanua, dan Bola," ungkap Ampa Passamula.
Syahrul sendiri lebih banyak memotivasi masyarakat yang terlibat dalam industri pengolahan ikan dan rumput laut agar bisa mengembangkan diri dengan lebih kreatif. Apalagi, kata dia, rumput laut bisa tumbuh di mana-mana termasuk di danau. Begitupun juga dengan ikan gabus, selain baik untuk kesehatan, juga ketika diracik menjadi abon, bisa bertahan sampai enam bulan.
"Industri seperti ini yang bagus untuk kita kembangkan, kita akan mendorong Bank Sulsel nanti untuk memback up permodalannya. Silakan ambil uangnya di Bank Sulsel. Nanti kita (pemerintah, red) yang bertanggung jawab. Yang penting memang ada keseriusan untuk mengolah dan menghasilkan produk. Berapapun hasilnya produksinya nanti, pasti akan diserap," kata Syahrul. (lin)
Saat ini, Wajo memiliki 27 kelompok industri pengolahan ikan dan tiga kelompok untuk pengolahan rumput laut. Salah satu produk pengolahan ikan gabus yang sudah dipasarkan hingga ke beberapa daerah di Sulsel adalah abon ikan. Sedangkan produk dari rumput laut seperti keripik, permen jeli, beragam jenis sirup, serta agar-agar.
Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu'mang, turut hadir pada pencanangan tersebut. Pejabat lainnya adalah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel, Andi Murny, Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru, Sekkab Wajo Andi Witman, Kadis Perindustrian dan Perdagangan Wajo Andi Ampa Passamula, serta Kadis Kelautan dan Perikanan Andi Bengawan Basir.
Ampa Passamula mengatakan, saat ini, pengolahan rumput laut masih fokus ke produk makanan dan minuman. Rencananya, Pemkab Wajo juga mengembangkan untuk pembuatan bahan-bahan komestik.
"Sekarang ini yang masih dikelola adalah pembuatan kue dan minuman. Makanya untuk pengembangan, kita fokus arahkan untuk enam kecamatan yang termasuk daerah pesisir seperti Takkalla, Penrang, Sajoanging Keera, Pitumpanua, dan Bola," ungkap Ampa Passamula.
Syahrul sendiri lebih banyak memotivasi masyarakat yang terlibat dalam industri pengolahan ikan dan rumput laut agar bisa mengembangkan diri dengan lebih kreatif. Apalagi, kata dia, rumput laut bisa tumbuh di mana-mana termasuk di danau. Begitupun juga dengan ikan gabus, selain baik untuk kesehatan, juga ketika diracik menjadi abon, bisa bertahan sampai enam bulan.
"Industri seperti ini yang bagus untuk kita kembangkan, kita akan mendorong Bank Sulsel nanti untuk memback up permodalannya. Silakan ambil uangnya di Bank Sulsel. Nanti kita (pemerintah, red) yang bertanggung jawab. Yang penting memang ada keseriusan untuk mengolah dan menghasilkan produk. Berapapun hasilnya produksinya nanti, pasti akan diserap," kata Syahrul. (lin)
Sumber : http://www.fajar.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar