Total Tayangan Halaman

Jumat, 17 Juni 2011

Penerbangan Makassar-Jeddah Diusulkan Setiap 10 Hari

Makassar (ANTARA News) - Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu'mang, akan mengusulkan kepada PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) agar frekuensi rute penerbangan langsung Makassar-Jeddah berlangsung setiap 10 hari sekali.

"Jadi terbang setiap sepuluh hari. Pemberangkatan gelombang kedua akan dilakukan sekaligus menjemput rombongan umrah berikutnya dari Makassar," katanya di Makassar, Kamis, terkait perkembangan usulan Pemprov Sulsel kepada Garuda untuk membuka rute penerbangan langsung Makassar-Jeddah.

Ia yang juga Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Sulsel ini diperintahkan oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, untuk melakukan pembicaraan lanjutan dengan manajemen Garuda terkait rencana pembukaan rute tersebut.

"Saya akan mengatur pertemuan dengan Garuda. Tinggal cari waktu, kemarin sudah sempat diskusi. Cuma mungkin dia tidak akan isi penuh bahan bakar dan transit di Batam, saya akan bicara dengan asosiasi penyelenggara haji dan umrah dan Kementerian Agama, paling tidak kita lihat apakah setiap sepuluh hari bisa memenuhi keterisian penumpang," jelasnya.

Dalam rencana pertemuan tersebut ia juga akan mengundang PT Angkasa Pura I, Bea dan Cukai Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Kantor Imigrasi Makassar.

Dengan PT Angkasa Pura I, pemprov akan memastikan ketersediaan ruang debarkasi dan embarkasi dan komitmen pelayanan pada bea dan cukai serta imigrasi. "Boeing 747-400 itu 'kan kapasitasnya hampir 400 kursi, landasan bandara sudah baik tapi bagaimana dengan ruang debarkasi dan embarkasinya," ujarnya.

Terkait pertanyaan Garuda tentang pendeklarasian pendaratan pesawat Boeing 747-400 di Bandara Sultan Hasanuddin, ia telah menyampaikan langsung kepada Garuda bahwa pesawat tersebut bisa melakukan pendaratan.

"Saya sampaikan ke Garuda bahwa Boeing 747-400 milik Kerajaan Jepang pernah mendarat di Makassar," ujarnya yang menambahkan, pesawat jenis Airbus juga bisa jadi alternatif untuk melayani rute tersebut tinggal meningkatkan pelayanan di bandara.

Ia pun telah mendapatkan informasi bahwa mesin x-ray milik bea dan cukai yang rusak adalah yang berfungsi untuk memeriksa bagasi besar. Menurutnya, cara pemeriksaan petugas bea dan cukai secara manual dengan membuka barang bawaan penumpang juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena kemungkinan masuknya barang-barang terlarang tetap harus diantisipasi. (T.KR-RY/M012)

Sumber : http://www.antara-sulawesiselatan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar